Cerpen Dul Abdul Rahman (Fajar, 29 September 2019)

Senja di Bukit Gojeng ilustrasi Fajarw.jpg
Senja di Bukit Gojeng ilustrasi Fajar

Senja mulai merapat tatkala aku tiba di kawasan Batu Pakke Gojeng. Dengan langkah gontai, aku menapaki tangga demi tangga yang terbuat dari undakan bebatuan. Meski jalan menuju puncak tidak begitu lebar tapi aku bebas menoleh ke kanan atau ke kiri karena tidak ada orang lalu lalang seperti saat pagi hari. Saat-saat seperti itu tak ada pengunjung yang berani berada di puncak Gojeng. Konon saat-saat seperti ini, ‘penjaga’ Gojeng akan menampakkan diri. Ia mewujud menjadi seekor ayam hitam, ekornya panjang, berusia ratusan tahun. Banyak yang meyakini, bila seseorang menjumpai sosok ‘penjaga’ itu maka ia akan beroleh celaka ataupun orangorang terdekatnya.

Aku tetap bertekad menuju puncak. Aku mencoba membuang jauhjauh pikiran takhyul itu, lalu membenamkannya di lautan Pulau Sembilan. Dari puncak Gojeng, aku bisa melihat deretan sembilan pulau yang menyembul dari dasar laut. Para pelancong tak sah rasanya bila berkunjung ke Sinjai tanpa mampir di Gojeng. Di puncak Gojeng inilah, para pelancong bisa menikmati panorama kota Balanipa. Kota yang nampak asri serupa bidadari cantik nan jelita mematung di bibir Teluk Bone.

Aku masih terus menatap ke bibir pantai. Kota bidadari itu benarbenar cantik tatkala para nelayan di kawasan pelelangan ikan Lappa mulai menyalakan lentera pada bagang-bagang mereka. Sebentar lagi mereka melaut. Nampak dari kejauhan, kota Balanipa membentuk siluet bidadari yang menggiring aku pada masa silam.

Kala itu aku masih berseragam putih abu-abu, aku berkunjung ke sini bersama kekasihku. Ia adalah adik kelasku. Meski kami terpaut kelas, tapi hati kami benar-benar berpaut. Kami saling berikrar untuk saling mencintai. Kami memahat janji pada sebongkah batu. “Beddu dan Besse: Dua sejoli yang memahat cinta pada sebuah malam menjelang pekat, semoga tak ada sekat yang dipahat oleh adat yang sungguh ketat”. Aku ingat bongkahan batu itu terletak tepat di bagian utara makam tua di puncak Gojeng ini.

Baca juga: Pemakaman Firman – Cerpen Tiqom Tarra (Fajar, 15 April 2018)

Kunjunganku ke sini bersama Besse delapan tahun silam sekaligus pertemuan terakhirku dengannya. Kala itu kami benar-benar ingin membuat janji yang sakral lalu memilih tempat ini. Sebenarnya kami juga takut berkunjung ke tempat ini saatsaat siang menjelma malam. Tapi dengan kekuatan cinta, kami berani ke tempat ini. Dan yang membuat kami tidak takut karena pemilik kuburan di Batu Pakke masih turunan Besse. Kami yakin ‘penjaga’ itu tidak akan marah kepada kami.

Andi Besse Sintapuri. Itulah nama lengkap Besse kekasihku. Ia turunan Puatta yang masih sangat dililit oleh beribu macam sabda dan pemali. Ia pun masih diikat, bahkan dicegat oleh adat bila ingin merekat tali kasih.

Sementara aku yang turunan orang biasa saja dianggap tak pantas mempersunting turunan sompa empat enam. Aku ingat cerita nenekku bahwa kerajaan-kerajaan di Sinjai dulu membagi masyarakat ke dalam beberapa sompa. Sompa 46 yang dimiliki oleh turunan bangsawan tulen. Sompa 44 dimiliki  oleh turunan bangsawan tapi tidak lagi bergelar puang. Kedua sompa inilah yang memiliki ata’. Selanjutnya sompa 42 yang dimiliki oleh orang-orang awam, mereka tidak mempunyai ata’ sekaligus tidak diper-ata-kan. Sedangkan sompa terendah sekelas sompa ata’ adalah sompa 36 dan sompa 22. Sompa 22 dimiliki oleh orang yang benar-benar turunan ata’. Sompa 36 dimiliki oleh ata’ yang sudah campuran Sompa 42, 44, pun 46.

Aku dan Besse menganggap cerita sompa itu sebagai warisan adat saja. Tapi sebenarnya aku selalu disemat keraguan. Besse yang bersompa 46 tidak diperkenankan oleh adat bersandingan dengan aku yang punya sompa 42. Seandainya aku yang perempuan dan Besse yang laki-laki, hal itu boleh-boleh saja.

“Tak usah ragu, aku sangat mencintai, Daeng.”

“Aku juga sangat mencintaimu Besse, tapi kita dibedakan oleh statistik sompa.”

“Mentang-mentang jago matematika, biar cinta juga dibuat statistik.”

“Besse…”

Baca juga: Lelaki yang Mencintai Buku-buku – Cerpen Kak Ian (Fajar, 18 Maret 2018)

Aku tertawa mendengar penuturan Besse. Ia pun ikut tertawa. Ketawa kami berderai menari-nari di kisikisi hati kami. Aku mencium rambut Besse yang panjang mewangi. Kami hanya bisa melakukannya di sini, tak mungkin aku berani mencium tangan dan rambut Besse di tempat lain, adat kami mengikat. Tapi kami senang, sungguh adat sangat memikat untuk menjaga tata nilai yang bermartabat.

“Kadangkala juga aku takut dengan statistik sompa,” ujar Besse sambil menatapku. Kulihat lentik bulu matanya mengedip serupa kerlipan bidadari.

“Semestinya kau tak perlu ragu, akulah yang mestinya ragu, karena sompaku tak bisa menjangkau sompamu.”

“Itulah yang aku resahkan, Daeng.”

Aku terdiam. Mungkinkah Besse juga mempersoalkan sompaku? Akh! Mengapa aku berpikir yang bukan-bukan. Padahal aku tahu Besse mencintaiku dan aku pun teramat mencintainya. Aku yakin Besse tidak mempersoalkan sompaku.  Ia hanya berkeluh kesah mengapa harus ada sompa sebagai jarak pemisah.

“Sebelum aku kenal dengan Daeng Beddu, aku selalu risau janganjangan nasibku seperti tanteku.”

Aku hanya bisa memegang tangan Besse sambil memandang panorama kota yang sangat indah. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar azan maghrib dari masjid Biringere. Sebentar lagi kami akan meninggalkan tempat ini. Aku masih memegang erat tangan Besse. Besse memang mungkin resah karena banyak tantenya yang terpaksa kering jodoh gara-gara terbakar statistik sompa. Karena turunan ningrat, peluang jodoh hanyalah dari laki-laki turunan ningrat pula. Sedangkan laki-laki turunan ningrat biasanya bebas memilih jodoh. Dimana pun, lelaki biasanya punya teori sama dalam mencari jodoh ‘yang penting cantik dulu’. Dan tentu saja tante Besse kering jodoh selain karena peluang jodoh memang sedikit, pun tak begitu cantik rupawan. Besse? Tak mungkinlah ia akan kering jodoh, karena hanyalah lelaki yang minder duluan yang tak mau mendekatinya. Selain bangsawan dan hartawan, Besse pun sangat cantik rupawan, plus tutur kata yang lembut dan menawan. Tentu saja, aku meraih kasih dan cinta Besse dengan modal pas-pasan plus nekat.

Baca juga: Pilihan Ketiga yang Diambil Lelaki Tua – Cerpen Musthain Asbar Hamsah (Fajar, 30 Desember 2018)

“Besse! Aku mencintaimu, aku ingin menikah denganmu. Tapi sebelumnya izinkan aku kuliah dulu, selepas kuliah aku kembali ke Sinjai untuk melamarmu.”

“Aku akan menunggu Daeng, meski mungkin kelak aku dipaksa menikah oleh adat tapi aku akan setia pada kata. Aku yakin adat tidak akan melanggar kata.”

“Baiklah sayang, demi cinta kita berdua, baiklah kita memahatkan kata-kata cinta pada sebongkah batu ini. Dan kita sungguh memilih waktu seperti sekarang ini, saat siang berangkat dan malam datang, biarlah siang dan malam jadi saksi akan cinta kita.”

Lalu. Sebelum kami mengakhiri pertemuan terakhir itu, aku dan Besse benar-benar dibalut keresahan. Ia terisak, aku memeluknya erat. Kami berpelukan erat. Kami bersitatap. Lentik bulu matanya berkedip, bola matanya melelap, bibirnya yang tipis sedikit terbuka seolah berharap dekap. Lalu aku sedikit merapatkan tubuhku dengan tubuhnya. Lalu.

“Kukuruyuuuk…”

Kami kaget. Kulihat Besse agak pucat, tapi ia tetap lekat padaku, aku tetap mendekapnya. “Jangan-jangan, ayam yang bunyi itu adalah…”

“Tenang, Sayang!”

Aku menenangkan Besse. Aku juga sedikit penasaran. Mana mungkin ada ayam berbunyi jam-jam begini. Aku mencoba menegarkan Besse. Kalaupun yang bunyi adalah ‘penjaga’ Gojeng ini, aku yakin bukanlah bermakna buruk karena ia tidak menampakkan diri. …

***

Aku bergegas mengikuti penjaga pintu Batu Pakke Gojeng. Tadi, terpaksa aku memintanya menemaniku untuk berkeliling di kawasan Gojeng karena aku takut seorang diri. Tidak seperti delapan tahun yang lalu saat bersama Besse.

“Mengapa di sana, Pak?”

“Karena tidak boleh menggali kuburan di kawasan taman purbakala ini. Situs ini harus dijaga. Meskipun ayah Besse adalah tokoh masyarakat yang sangat dihormati, ia tidak meluluhkan wasiat almarhumah putrinya dimakamkan di sini. Tapi ia tetap memakamkan putrinya di kawasan ini.”

Baca juga: BENAR KAU HAMIL, ARUM? – Cerpen Dwi Rezki Fauziah (Fajar, 27 Mei 2018)

Aku bersimpuh di depan pusara Besse. Aku meneteskan airmata. Airmata kerinduan. Airmata penyesalan. Aku merunduk di batu nisannya. Memohon agar arwahnya diterima disisi-Nya.

Hatiku tercabik-cabik manakala aku tahu, batu nisan pusara adalah bongkahan batu yang dulu pernah kami tulisi berdua. Masih nampak jelas tertulis, “Beddu dan Besse: Dua sejoli yang memahat cinta pada sebuah malam menjelang pekat, semoga tak ada sekat yang dipahat oleh adat yang ketat.”

Karena pusara perempuan, aku mengalihkan perhatian pada batu nisan kedua. Hatiku kian teriris-iris ketika kubaca tulisan yang terukir. “Jangan salahkan adat, adat tak pernah mengingkari kata, cuma terkadang kata-kata yang tak beradat. Besse tetap setia pada kata, dan tak akan pernah berpaling. Kata cinta Besse pada Beddu tetap abadi, meski cuma terpahat di daratan gojeng.”

Aku tak bisa bangkit dari pusara Besse, aku terus meratap, memohon maaf. Aku memang yang salah dalam perkara ini. Besse meninggal setahun silam karena kanker darah yang dideritanya. Aku tahu sejak dulu Besse memang mengidap penyakit itu. Tetapi yang membuat penyakit Besse semakin parah ketika ia dengar bahwa aku mengkhianati cintanya. Setamat kuliah di Unhas, aku memang tinggal di Malaysia selama tiga tahun. (*)

 

Catatan:

Puatta, sebutan untuk raja

Sompa, kasta

Puang, sapaan untuk kaum bangsawan

Ata, hamba sahaya

Daeng, kakak

 

Dul Abdul Rahman. Lahir di Tibona, Bulukumba. Kini menetap di sebuah kampung kecil di Gowa, Sulsel. Aktivitas sehari-harinya berkebun, beternak, dan menulis. Buku terbarunya; Balada Sangkala dan Sarifah (2019), Perempuan Berbaju Kurung (2019).

Advertisements