Cerpen Bagus Sulistio (Medan Pos, 29 September 2019)

Pantai Keberuntungan ilustrasi Medan Posw.jpg
Pantai Keberuntungan ilustrasi Medan Pos

Semua orang pasti menginginkan hidupnya beruntung. Baik beruntung dalam percintaan, karir atau hal yang berkaitan dengan hidup manusia tersebut. Keberuntungan memang tidak bisa dicari, semua sudah digariskan oleh tangan Tuhan, manusia tinggal menerima dengan lapang dada. Tapi tak ada salahnya jika manusia mau berjuang agar hidupnya menjadi lebih baik.

Tono adalah salah satu manusia yang baru saja kehilangan keberuntungannya. Karir yang hancur karena kantornya baru saja mengadakan program PHK besar-besaran, pacarnya yang meninggalkannya gara-gara tak kunjung dilamar dan masih banyak kesialan yang datang kepadanya. Semua kesialan menimpa dirinya.

Rasa putus asa tentu datang menghantui Tono. Ia bosan hidup menderita seperti ini. Niatan untuk mengakhiri hidup terus ada dipikirannya. Tapi nasihat teman-temannya membuat Tono harus berfikir dua kali untuk melakukan hal tersebut. Parto, teman Tono, tidak bosan-bosan menasehati Tono. Walaupun mereka  saling mengenal pada saat bekerja di tempat kerja yang baru saja mem-PHK Tono, hubungan mereka sudah seperti teman sedari kecil. Mereka berdua saling berbaik hati jika salah satu dari mereka mengalami kesusahan.

“Daripada kau jenuh dan menyesali nasib, ayo ikut aku, kita berlibur ke pantai. Semua ongkos atau penginapan aku yang bayar,” ucap Parto kepada Tono.

Dari sekian kesialan yang terjadi, mungkin ini adalah salah satu keberuntungan yang baru saja menghampiri Tono. Diajak berlibur tanpa biaya tentu merupakan keberuntungan. Tono tidak mau menolaknya ajakan itu. Menolak ajakan itu sama saja menolak rejeki, menurutnya. Lagipula kata orang tua dulu, menolak rejeki haram hukumnya.

Baca juga: Elegi di Suatu Pagi – Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 07 Oktober 2018)

Singkat cerita, dengan modal dengkul dan beberapa stel pakaian, Tono pergi ke pantai bersama Parto dan pacar Parto menggunakan mobil sewaan. Jika Tono tahu dari awal tidak pergi berduaan saja dengan Parto, mungkin ia akan pikir-pikir lagi. Tono merasa rikuh, merasa menjadi pengganggu kemesraan Parto dan pacarnya.

“Kalau tahu seperti ini, aku tak ikut dengan kalian,” ucapnya yang duduk sendirian di jok belakang.

“Aaah sudah lah. Tak usah sungkan-sungkan. Nikmati saja liburan ini. Bila perlu kalau ada apa-apa bilang saja ke aku.”

Kebaikan Parto membuat Tono menjadi tambah rikuh. Ia bukan saudaranya tapi kebaikannya melebih saudara. Ingin rasanya Tono membalas semua kebaikan Parto, tapi ia merasa belum bisa. Untuk hidup saat ini saja kesulitan, apalagi harus berbaik hati kepada orang lain, tentu saja tak bisa.

“Akhirnya sampai juga,” mobil Parto terhenti di parkiran. Mereka segera turun dari mobil. Dengan kaki yang masih terselimuti sepatu, mereka menuju pasir putih yang terhampar luas itu. Mata Tono memandang lepas ujung pantai yang jauh, sambil menghirup udara segar yang melayang bebas.

“Aku ingin ke warung. Kalian ikut tidak?” tanya Parto ke pacarnya dan Tono. Pacar Parto tentu saja ikut dengannya. Sebagai pacar yang baik pasti akan selalu mengikuti kemana ia pergi. Tapi, tidak dengan temannya itu. Jika Tono mengikuti ajakan Parto, kemungkinan besar pasti ia akan ditraktir olehnya. Sudah cukup kebaikan Parto yang diterimanya. Tono tidak mau selalu merepotkan temannya itu.

Parto dan pacarnya pergi ke warung yang tidak jauh dari pantai. Sedangkan Tono masih berada di tempat yang sama, melihat ombak dan orang-orang yang bermain di sekitarnya. Pantai ramai ini membuatnya sedikit lupa akan kesialan dan keberuntungan. Ia tidak mau ambil pusing dengan takdir itu. Hal yang sekarang perlu dilakukan adalah menghibur diri dan bersenang-senang.

Baca juga: Andai Wajah Ibu Kota Seperti Ibu Nita – Cerpen Faris Al Faisal (Medan Pos, 14 Oktober 2018)

Matahari yang sedang tertutup awan mendukung suasana pada hari ini. Pasir pantai yang tidak terlalu panas nampaknya enak jika direbahi. Tono menidurkan tubuhnya dengan posisi miring sambil menghadapkan wajah ke laut melihat ombak yang saling berkejaran. Sudah lama ia tak melakukan hal nikmat ini. Terakhir kali mungkin saat ia masih bersekolah dan diajak ibunya ke pantai.

Nikmatnya rebahan di pasir putih membuat mata Tono berat. Ia hampir saja terlelap. Akan tetapi sesuatu benda mengenai kepalanya, “aduh,” bola voli mengenainya disusul oleh empunya bola datang menghampiri Tono.

“Aduh maaf ya mas. Aku benar-benar gak sengaja,” ucap seorang wanita.

“Ya tak apa-apa kok. Lagipula hanya bola ini bukan batu,” tawa Tono ringan.

Kejadian itu mengantarkan mereka pada perkenalan. Tono akhirnya tahu nama wanita itu, Bunga. Umur Bunga tak berjarak jauh di bawah umur Tono. Rumahnya pun masih berada di sekitar pantai ini, dan masih banyak lain yang Tono ketahui dari perkenalan itu.

“Sebagai tanda permintaan maaf, mari ikut aku makan. Aku yang traktir,” ajak Bunga.

Tono sempat menolaknya karena gengsi, tapi hasrat mencari keberuntungannya tak terelakkan. Ia akhirnya menerimanya dan menganggap ini adalah suatu keberuntungan yang akan membuka keberuntungan yang lain.

Sebuah warung nasi kecil menjadi persinggahan mereka. Perbincangan mereka berlanjut lebih dalam. Mereka menjadi lebih kenal dan akrab. Entah mengapa tiba-tiba rasa itu datang ke hati Tono. Bukan karena fisiknya yang berambut panjang, berkulit putih bahkan berwajah cantik, tapi hati dan sikapnya yang perhatian menarik hatinya.

Baca juga: Pertemuan Impian – Cerpen Suri Kharimah Asdi (Medan Pos, 07 Oktober 2018)

Usai makan siang mereka kembali ke tepian pantai. Duduk di atas pasir bersama menikmati pemandangan ombak dan tentu saja melanjutkan perbincangan. Tak ada menit yang tak buang tanpa berbincang. Dalam waktu setengah hari itu, mereka layaknya sudah saling mengenal beberapa tahun. Mereka berdua saling terbuka dan mengobrol asik. Saking asiknya, langit mulai berubah kekuningan. Matahari nampaknya akan tenggelam tak sampai setengah jam lagi.

“Kamu mau tidur dimana?” tanya Bunga kepada Tono.

“Aku kesini bersama temanku. Paling tidak ya aku akan istirahat bersamanya.”

“Kalau kamu mau, kamu tinggal di rumah aku saja,” tawar Bunga. “Tapi aku pulang dulu sebentar mau minta izin ke orang rumah. Aku janji akan kembali lagi.”

Tono sempat berpikir-pikir terlebih dahulu. Ia takut merepotkan orang yang baru ia kenal ini. Tapi jika disuruh memilih, ia akan lebih suka merepotkan Bunga daripada temannya, Parno. Ia tidak mau lagi merepotkan Parno dengan memesannya kamar untuk dirinya. Lagipula dengan bermalam di rumah Bunga, siapa tahu Tono bisa mengenal orang tua dan lebih dekat dengan Bunga.

“Baiklah aku akan istirahat di rumahmu saja.”

Setelah memperoleh jawaban dari Tono, Bunga pergi meninggalkannya. Tapi beberapa menit kemudian Parno datang menghampiri Tono. Menawarkan sebuah penginapan yang telah ia pesan untuk kawannya beristirahat.

“Kamu batalkan saja. Aku akan bermalam di rumah temanku.”

“Teman? Beneran?” Parno sempat ragu dengan ucapan Tono. Namun penjelasan yang Tono berikan membuat Parno menjadi lebih percaya. “Baiklah kalau itu maumu.”

Baca juga: Wajah yang Berbeda – Cerpen Rizka Amalia (Medan Pos, 06 Oktober 2019)

Tono kembali sendirian. Kawannya pergi kembali ke tempat istirahatnya. Tono masih menunggu Dewi. Ia takut jika beranjak dari tempatnya Dewi akan kembali dan tak mendapati dirinya. Lebih baik terus menunggu hingga matahari tenggelam daripada pergi.

“Maaf ya membuatmu menunggu lama,” nafas Bunga masih terengah-engah, seperti habis berlari-lari.

“Tak apa kok.”

Bunga mengajak Tono ke rumahnya. Mereka meninggalkan tempat tadi dan mulai menyusuri bibir pantai yang mulai sepi. Mereka berjalan cukup jauh hingga terhenti di bagian pantai yang sangat sepi. Bunga menunjukkan rumahnya yang berada di tengah laut.

“Itu rumah kamu beneran?” Tono keheranan.

“Ya benar. Ayo ikut,” Bunga mengandeng tangan Tono. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Tono mengikuti Bunga menuju ke tengah laut. Perlahan tapi pasti, mereka berjalan ke laut hingga sedikit demi sedikit tubuh mereka basah dan akhirnya tak terlihat lagi.

 

Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Karangsuci, Purwokerto. Saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Karyanya terdokumentasikan dalam beberapa antologi cerpen, di antaranya: Indah Pada Waktunya (Jejak Publisher, 2018), Ya Allah Izinkan Kami Menjadi Birrul Walidain (Event 7 Pejuang Antologi, 2018) dan Retorik (Ellunar Publisher, 2019). Dan tersiar pada media Negeri Kertas, Nusantara News, Radar Banyumas, Kabar Madura, Solopos dan Banjarmasin Post.