Cerpen Faris Al Faisal (Denpost, 29 September 2019)

Jas dan Dasi ilustrasi I Nyoman Gede Bendesa Putra - Denpost (1).jpg
Jas dan Dasi ilustrasi I Nyoman Gede Bendesa Putra/Denpost

JAS hitam ini sudah lama tergantung di lemari kenangan sejak kehilangan ingatanku akan dasi. Seingatku—mulai selesai dari memesannya pada tukang jahit langganan di kota kelahiranku sampai hari ini— ia telah kupakai dalam pesta hajat sebanyak 60 kali, ke masjid sejumlah 27 kali, ke kantor pegadaian 9 kali, dan dalam pernikahanku 3 kali. Jadi sudah berapa kali kupakai

Menurutku, paling tidak angkanya sama dengan jumlah biji-biji tasbih yang dironce menjadi manik-manik zikir. Sebenarnya ini bukan angka yang dibuat-buat agar sama banyaknya. Kebetulan, jas itulah baju terbaik yang aku punya. Sehingga aku tidak akan sembarang memakainya kecuali untuk acara yang sangat penting.

Perihal dasi yang hilang hingga kini masih misteri. Ia raib tanpa sebab. Aku sudah mencarinya ke mana tempat yang memungkinkan aku meletakkannya, menaruhnya, atau menggantungkannya. Aku tidak akan memakai jas itu jika tidak lengkap dengan dasinya. Sebenarnya bisa saja aku membeli yang baru dan lebih bagus, tapi jika aku melakukannya serasa telah mengkhianatinya.

Istriku, Salamah, kerap aku jadikan sasaran dugaan. Berbagai kegiatannya yang berurusan dengan jas dan dasi itu kutanyakan hingga ia bosan dan aku pun bosan.

“Apa kamu tidak lihat saat membuang air cucian pakaian ke sungai?”

“Tidak.”

“Apa tidak jatuh saat kamu mengangkatnya dari jemuran?”

“Kurasa tidak.”

“Apa kamu tidak salah taruh saat memasukkannya ke dalam lemari?”

“Tidak juga. Aku simpan berbarengan dengan jas dalam satu hanger.”

Salamah pun muntab. “Oh, jangan-jangan kau sedang cari-cari masalah untuk menceraikanku! Segala persoalan tentang dasi bututmu ditimpakan semua padaku.”

“Nah, aku curiga. Kamu katakan dasi butut, jangan-jangan memang benar kamu sengaja menyembuyikannya agar aku tak lagi pakai jas kesayanganku.”

“Apa susahnya, beli saja yang baru.”

“Tidak! Aku tidak akan mau.”

“Oh, sekarang kecurigaanku makin benar. Kamu memang sedang cari-cari masalah.”

Akhirnya, aku dan Salamah sepakat untuk tidak lagi membicarakan masalah dasi itu lagi. Sebab tiap kali menyinggung soal kain semacam pita yang dikalungkan pada leher kemeja itu selalu berakhir ricuh. Maka tinggalah jas itu kesepian di dalam kegelapan lemari. Aku tidak sampai hati mengabarkan soal dasi yang hilang itu padanya. Biarlah ia menganggap ketiadaan dasi itu hanya untuk sementara waktu, cuma berbeda jarak dan tempat. Aku sendiri sejak itu tidak lagi menengok keberadaan jasku lagi. Ia tetap terkunci dan kurasa tak akan lari.

Beberapa kali undangan pesta hajat datang dan aku tak bisa mengunjunginya. Dan itu berarti telah kulewatkan banyak hal karena dasi itu; bertemu teman, makan prasmanan, dan mengisi berbagai sambutan. Demikian juga jadwal khotib jumatku, aku tidak lagi pakai jas dan dasi. Setelah turun salat, salah seorang jamaahku bernama mamang (paman) Adi menegurku di jalan.

“Saya kira bukan Ustaz. Pangling. Tak pakai jas dan dasi.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Barangkali jas dan dasi sudah melekat dalam mata mereka selalu aku kenakan. Namun di pegadaian, pegawai-pegawainya tak satu pun mempersoalkannya. Yang penting bagi mereka para pegadai tepat waktu membayar biaya titip dan pengembalian jumlah uang nilai gadai pada masa akhir kontrak.

Dan sebagai suami istri, hubunganku dengan Salamah berangsur pulih. Ia termasuk tipikal perempuan yang tidak banyak menuntut. Sehari-harinya mengurus kehidupan rumah bersamaku tanpa ada tangisan ataupun teriakan anak-anak.

Sudah tiga kali ini aku menikah, dua istriku sebelumnya meminta bercerai karena persoalan sulitnya mendapat keturunan. Dan hingga tahun kelima ini, Salamah pun tak ada tanda-tanda sedang hamil. Apa benar aku sendiri yang mandul? Namun, dokter mengatakan aku dan Salamah semuanya sehat dan dapat memiliki keturunan. Aku tercenung memikirkannya. Malam itu aku dan Salamah berangkat tidur di kamar. Mataku tak bisa terpejam barang sepicing pun. Kulihat istriku telah mendengkur teratur. Biarlah, aku tak ingin mengganggu waktu istirahatnya.

Tiba-tiba aku melihat pintu lemari terbuka. Aku beranjak duduk, melihat keanehan itu. Aku melihat ke sekeliling kamar. Tak ada siapa-siapa selain kami berdua, batinku. Kulihat jas itu tampak masih tergantung tanpa dasi. Warna hitamnya dilekati debu dan bintik serbuk kuning kayu lemari jati. Aku berjalan mendekati lemari bermaksud menutup pintunya.

“Kenapa kau tak jujur padaku?”

Aku tersentak. Benarkah jas itu mengajakku bicara. Aku melirik ke Salamah, barangkali itu suaranya meskipun terdengar berbeda. Tidak, ia tampak pulas.

“Ke mana dasi itu? Apakah hilang?”

Benar, suara itu berasal dari jas hitamku. Namun bagaimana ia bisa tahu perihal dasi itu? Jangan-jangan aku sedang berkhayal, terbawa imajinasi. Kutepuk tanganku, mencubit perutku, dan menempar-nampar kecil pipiku sendiri. Kurasa ini nyata.

“Dasi itu sedang dipinjam teman,” ucapku beralasan. Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa aku menjawabnya dengan kebohongan. Entah siapa yang membisikkan angin dusta itu ke lidahku.

“Aku ingin bertemu dasi, sudah lama sekali rasanya,” aku jas mangadu padaku.

“Baiklah, nanti aku ambil dasi itu,” tukasku menenangkannya.

Pintu lemari kututup dan kukunci kembali. Kunci itu aku simpan di atas lemari. Kurasa Salamah pun tak akan mampu untuk menjangkaunya, kecuali menggunakan bantuan kursi.

Beberapa malam kemudian, aku kembali melihat pintu lemari itu terbuka. Namun, aku terkesiap. Jas itu tak ada di gantungannya. Aku penasaran, kuaduk seisi lemari. Tak juga kutemukan. Salamah tidur tengkurap, roknya agak terangkat. Kurasa ia benar-benar tidur. Aku ingat kunci itu, kuraba di atas lemari dan kutemukan tanpa bergeser sedikit pun tempatnya.

Siapa yang membuka pintu lemari ini? Rasa penasaranku membuatku membangunkan Salamah. Sudah kuduga, ia muntab lagi.

“Kamu masih ingin cari masalah lagi? Kemarin dasi, sekarang jas yang hilang!”

“Aku hanya tanya Salamah, apa kau memindahkannya?”

“Tidak, aku bilang tidak tahu menahu.”

“Baiklah kalau begitu.”

Lantas aku diam sambil ke luar kamar. Semua itu agar tak membuat masalah menjadi panjang. Di kursi tamu kulemparkan tubuhku. Mencoba menebak-nebak ke mana raibnya jas itu. Kepalaku pusing dan pikiranku buntu. Aku terlelap sampai azan subuh membangunkanku. Salamah seperti tak menganggap kejadian semalam sebagai suatu keanehan, tetapi tidak bagiku.

Sampai seminggu berlalu, tak ada yang berubah. Jas itu memang telah hilang sebagaimana dasi. Kukunci kembali lemari itu setelah memastikan tak ada yang salah dengan penglihatanku. Kali ini aku membiarkan kunci itu tergantung tanpa melepasnya.

Barangkali aku memang harus kehilangan jas dan dasi—baju terbaikku. Belajar untuk ikhlas menerimanya tanpa menyalahkan siapa pun dalam hal ini. Kehilangan terkadang tidak harus jelas sebab dan musababnya. Bisa jadi ia lenyap tanpa kita harus mengerti.

Berhari-hari kemudian, aku dan Salamah mendapat kabar menggembirakan. Hasil pemeriksaan dokter menyebut ada janin dalam perut istriku. Kami sujud syukur menanda betapa dulu Ibrahim telah mendapatkan nikmat mendapat keturunan.

Janin itu kemudian tumbuh makin besar. Aku dan Salamah kini mulai menyenangi mengunjungi toko atau swalayan yang menjual perlengkapan bayi dan balita. Mengumpulkan satu demi satu alat dan benda untuk menyambut kelahiran anak pertama kami.

Rasanya diperlukan sebuah lemari lagi untuk menyimpan semua ini. Namun, aku dan Salamah belum sempat ke toko lemari anak. Untuk sementara biarlah kusimpan dulu dalam lemari jati tempat jas dan dasi kugantung. Kuputar kunci lemari, tapi sudah mentok. Berarti lemari ini menutup tanpa terkunci. Aku sudah tidak lagi berpikir tentang jas dan dasi itu. Keduanya adalah bagian dari masa lalu yang memang sudah pergi.

“Apa mau disimpan lemari itu?” tanya Salamah.

“Kurasa untuk sementara di sini dulu.”

Tanganku kemudian menarik gagang tarikan pintu lemari dengan pelan. Mataku terbelalak dan mata Salamah juga menjilak. Jas hitam itu tergantung lengkap dengan dasinya. Aku menatap Salamah dan Salamah menatapku. Tanganku bergerak-gerak tak keruan.

“Bagaimana jas dan dasi ini bisa ada di dalam lemari ini?”

Salamah mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya. “Entahlah, aku juga bingung.”

“Apakah ini bukan mimpi, Salamah?”

“Kurasa ini sungguhan. Coba kau pegang jas dan dasi itu,” ucap Salamah.

Tanganku bergegas menyentuh kain jas yang masih terasa lembut di kulit. Mengusap-usap bahunya yang masih tampak tegap. Tak ada debu atau serbuk kayu lemari itu lagi. Seakan ada orang yang mengambilnya hanya untuk dicuci dan disetrika. Dan dasi itu melingkar di leher hanger. Kuciumi harum baunya.

“Ini adalah sebuah nikmat tanpa harus kita mengerti darimana datangnya, Salamah.”

“Benar, rasa kehilangan yang lalu jika kita sikapi dengan ikhlas dan menerima akan dibalas dengan datangnya suatu kebahagiaan.”

“Aku akan memakainya, Salamah.”

“Pakailah, bukankah bersyukur itu dengan memakai nikmat yang telah diperoleh.”

Aku tersenyum memandang Salamah yang membantuku memasangkan dasi di kerah bajuku. Entah sudah berapa lama romantisme itu hilang dan kini datang dengan tanpa disangka-sangka. []

 

Indramayu, 2018

Faris Al Faisal lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI). Menulis fiksi dan non fiksi. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis (2017), antologi puisi Bunga Kata (2017), kumpulan cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek (2017), novelet Bingkai Perjalanan (2018), dan antologi puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian (2018). Karya nonfiksinya, yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia (2017).

Ilustrasi cerpen berjudul “Kurang Percaya Diri” karya I Nyoman Gede Bendesa Putra, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa, FPBS, IKIP PGRI Bali.