Cerpen Ikhsan Hasbi (Serambi Indonesia, 29 September 2019)

Frankenstein ilustrasi Istimewa.jpg
Frankenstein ilustrasi Istimewa 

DRACO urung berputus asa. Proyek untuk menghasilkan sosok makhluk baru kembali ia jalankan. Bertahun-tahun sejak kekalahannya dari Hery, ia tidak bisa lagi menggunakan kaki kanannya, hingga ia melakukan percobaan dengan menanamkan jaringan ke dalam pembuluhnya. Dan itu berhasil. Ia mengamputasi kaki seorang tentara yang sedang mengintai di gua tempat ia tinggal sementara.

Dulu si Viktor yang jenius dan gila itu melakukan pengujian dari serpihan-serpihan dan potongan tubuh orang mati. Potongan-potongan itu disatukan seperti potongan kain yang dijahit menjadi satu pakaian. Dengan rangkaian listrik yang jumpalitan, di atas sebuah bangunan tinggi, Viktor memulai eksperimennya. Dua cabang dengan tiang yang terhuyung-huyung diterpa badai tersambung ke tubuh yang tercipta dari potongan-potongan itu. Angin kencang disertai hujan lebat membuat Viktor tergelak. Ia hanya butuh satu percikan. Kilatan yang bersahut-sahutan di luar sana mencakar sudut-sudut yang tidak terjamah mata, hingga suatu ketika kedua tiang yang disambar bertubi-tubi membuat tawa Viktor semakin kencang.

Sambaran tersebut mengikuti aliran listrik yang terhubung ke tubuh itu. Tapi tak ada reaksi. Tawa Viktor lenyap. Ia berpikir jangan-jangan eksperimennya gagal. Tapi ia terus menunggu.

“Aku butuh lebih banyak arus!” Viktor berseru pada langit. Sontak, gelegar yang lebih besar menyambar tiang yang menjulang dan seketika tubuh itu bergerak latah. Diikuti kejang-kejang. Membuat baut yang menumpu pergelangan tangan berderit. Seperti panggangan, tubuh itu terus menghentak-hentakkan besi yang mengikat tubuhnya. Ceracau tak jelas dan rasa sakit menyatu. Viktor tertawa lebar. Ia mendekati tubuh yang memberontak, yang layak disebut monster, berusaha menenangkannya seperti anak bayi yang menangis kelaparan.

Ada gerakan listrik yang menyambar di kepalanya. Tempurung memperlihatkan isi dari kawat dan daging. Pada dahinya ada garis yang melingkar. Tapi itu sebenarnya potongan yang bisa terbuka. Karena usaha memberontak tak pernah surut, besi yang menumpu tubuh monster itu copot. Dengan lengan besarnya, monster itu mengangkat Viktor, membuat penciptanya merasa antara takut dan senang. Entah dengan cara apa, si gila Viktor berhasil membuat monster itu menyadari siapa dirinya.

Baca juga: Segelas Teh, Hujan, dan Patah Hati – Cerpen Zulfikar R H Pohan (Serambi Indonesia, 30 Desember 2018)

“Aku ayahmu,” sebut Viktor, membuat monster itu memperhatikannya lebih lama. Dan untuk pertama kali ia memanggil Viktor, ayah.

Draco datang setelah mengetahui bahwa ekperimen Viktor berhasil. Ia hendak merebut makhluk itu untuk menciptakan ribuan keturunan. Monster itu cocok menjadi perantara. Tubuhnya yang kuat bisa menghasilkan energi dan mampu menyerap arus dengan kapasitas besar. Viktor berusaha melindungi monster tersebut. Menyembunyikannya di satu bilik. Namun penciuman tajam Draco memudahkannya melacak keberadaan monster itu. Perkelahian tak seimbang antara Draco dan Viktor malah menghasilkan bencana besar. Gedung yang dihuni Viktor terbakar. Membakar segala isinya.

Monster itu barangkali sudah lenyap, pikir Draco. “Sialan kau Viktor!”

Viktor tewas dan monster itu tak pernah ditemukan.

***

Abad-abad terlampaui dalam tidur panjang. Draco mengalami evolusi. Ia mandul. Barangkali karena terkena suntikan Viktor dan pasak yang tak terhitung jumlah telah disarangkan Van Helsing ke tubuhnya. Ia punya rencana besar setelah mengetahui keturunan si pemburu masih memegang teguh prinsip untuk memusnahkannya. Ia ingin menciptakan sosok makhluk yang bisa menjembatani tujuannya.

Draco terbang. Ia menuju sisa rumah yang telah menjadi abu. Sisa-sisa itu digali dan ia menemukan tulisan-tulisan hasil eksperimen Viktor. Senang bukan kepalang.

“Zaman ternyata tidak semudah itu meremukkan satu karya.”

Dibantu Bray, makhluk yang ikut tertidur melewati zaman dengannya, Draco mengumpulkan perangkat-perangkat kerja. Besi, kawat, listrik, potongan tubuh dan komputer yang dipelajarinya dalam sesaat. Draco menculik beberapa orang. Setelah memangsa, ia mendedah bagian-bagian tubuh yang terbaik. Tapi dalam pekerjaan itu, Bray tampaknya lebih paham dari pada tuannya. Draco sangat terbantu. Dari dulu, Bray adalah pelayan paling setia dan patut diandalkan.

Sebagai seorang yang meyakini bahwa dirinya ada untuk melayani Draco sampai mati, Bray tak pernah sekalipun mengecewekan. Terkadang ia memburu mangsa untuk Draco saat tuannya lagi malas keluar. Ia terbiasa dengan percobaan-percobaan. Mulai dari hal kecil sampai besar. Tikus apa pun yang ada di sekitarnya akan dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang terbetik dalam benaknya. Jika ia mendengar Draco memujinya, ia akan senang dan berusaha melakukan hal yang lebih besar agar kesenangan tuannya juga membesar.

Baca juga: Cerita Lama – Cerpen Riyon Fidwar (Serambi Indonesia, 23 Desember 2018)

Dulu ia adalah seorang ilmuwan, tidak diakui orang-orang di sekitarnya. Sebagai orang yang berhasil mendedikasikan diri untuk penemuan-penemuan modern, Bray disisihkan lantaran dianggap melakukan praktik sihir. Wajar saja jika mereka menganggapnya begitu karena memang pikiran masyarakat belum setingkat itu. Nasehat Ibu membesarkan hatinya. “Orang cerdas itu sering bertindak gila. Kegilaan yang tidak dimiliki orang awam. Cara berpikir yang berbeda. Namun terbukti kegilaan mereka lebih berguna daripada orang yang tidak berpikir apalagi bertindak. Maka, jangan takut jadi orang cerdas! Jangan takut dianggap gila! Segila-gilanya kau, tetap tiada dua.”

Suatu ketika, huru-hara yang sengit karena masyarakat mudah terprovokasi membuat Bray dituduh membunuh seorang gadis.

“Orang gila itu adalah penyihir. Ia membunuh seorang gadis sebagai tumbal. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Lihat saja mukanya! apa ia terlihat seperti orang baik?”

Provokasi itu menyeret Bray pada hukuman pancung. Namun sebelum dipancung ia sudah dihajar sampai babak-belur. Keluarga yang tidak terima atas pembunuhan itu berusaha menuntut balas. Namun pihak keamanan ingin membuat jera, agar tiada lagi praktek sihir serupa.

Di hadapan masyarakat, kepalanya dimasukkan ke kayu. Di atasnya potongan besi tajam seperti pisau ditahan sebuah tali. Pengumuman sebelum eksekusi untuk mengingatkan masyarakat agar tidak berlaku aneh. Sebelum tali yang menahan potongan besi itu dipotong, Bray berujar, “Tunggu saja pembalasanku!”

Tali pun dipotong, besi tajam itu jatuh. Kepala Bray bergulir seperti bola.

Malam yang diselimuti kegelapan berubah menjadi malapetaka. Malam itu seorang penyihir muncul membaca mantra. Kepala yang tadi tergeletak menyatu kembali dengan tubuh yang telah dilempar ke parit. Tak sampai di situ, setelah si penyihir membangkitkan Bray, Draco muncul memberikan darahnya.

Pergolakan antara sihir dan darah drakula membuat Bray menjadi makhluk yang mengerikan. Ia adalah mayat hidup yang mampu berpikir. Malam itu ia menuntut balas kepada orang-orang yang telah mencelakainya. Pembantaian itu terekam jelas dalam buku sejarah. Hanya saja sampai sekarang tak ada yang benar-benar tahu siapa pelaku pembantaian itu.

Sejak itu Bray melayani Draco. Bahkan dalam eksperimen kali ini, Bray terlihat girang. Sudah lama tidak melakukan penelitian dan menguji hal-hal yang berabad-abad membenak.

Baca juga: Tuba – Cerpen Ida Fitri (Serambi Indonesia, 23 September 2018)

Arus yang besar dari pembangkit listrik negara disedot. Hentakan-hentakan besar dalam rumah besar itu diiringi percikan kilat yang menyambar. Potongan-potongan tubuh yang disatukan itu begitu sempurna. Tak berbeda seperti manusia pada umumnya. Hanya saja terlihat lebih pucat dan berbekas jahitan, hanya perlu beberapa bulan agar bekas jahitan itu menghilang.

Seperti halnya saat Viktor menghidupkan sesosok monster, kejadian sama terulang kembali. Tubuh mayat itu perlu melahap daya yang besar. Bray menusukkan kawat-kawat ke tubuh tersebut. Dengan menekan ENTER, tubuh itu dihantam kilat bertubi-tubi, seperti paku yang dihantam palu. Menyesak. Mendesak. Kejang-kejang. “Tubuh itu harus hidup,” Draco berkata pada Bray. “Kita butuh sesuatu yang bisa menjembatani tujuan kita.”

***

Seorang mafia yang mengetahui keberadaan Draco menyepakati kontrak. Sebagai mafia dengan rencana untuk bisnis yang menggurita, pria botak itu sempat ragu dengan tawaran Draco bahwa ia bisa menciptakan makhluk penurut.

“Aku butuh manusia bukan monster!”

“Apa bedanya kau dengan monster?”

“Aku butuh makhluk yang bisa mewakiliku dalam pencalonan nanti, Setan! Bisnis ini akan sulit berkembang kalau tidak ada orang di dewan yang bisa kutundukkan. Aku butuh makhluk yang bisa kujadikan pemimpin, pemimpin boneka. Jangan anggap sepele! ”

“Kau, aku tak berbeda. Kita sama-sama monster bagi kehidupan ini. Urusan makhluk itu biar aku yang urus. Aku sudah hidup berabad-abad, bahkan dalam sekejap aku bisa melenyapkanmu. Jadi, kau tak perlu banyak bicara! Jangan pernah mengataiku yang macam-macam. Aku bukan anak buahmu. Aku lebih tua dari nenek moyangmu!”

Mafia itu terdiam.

Di hadapan tamu undangan yang terdiri dari sejumlah mafia, politisi dan korporat, Draco mempersembahkan karyanya.

“Baiklah semuanya. Inilah karyaku! Kalian yang ragu, lihatlah! Kupersembahkan!”

Bray menarik tirai.

Sesosok monster yang terus memberontak menempel pada besi. Tangan dipaku. Begitu pula kakinya. Ia meronta-ronta. Bentuk tubuhnya yang sedikit rusak, lantaran terbakar arus menunjukkan betapa tersiksanya makhluk itu. Mata semerah darah. Bibir sobek itu bergetar dengan ludah bermuncratan. Urat-urat yang menegang, membuat para tamu terhenyak. Mereka bergetar di tempat duduk, melihat sosok yang lebih menakutkan dari hantu.

Baca juga: Robin – Cerpen Ikhsan Hasbi (Serambi Indonesia, 06 Januari 2019)

Dengan lemah, sosok berbibir sobek yang menempel pada besi itu mengucapkan kata pertamanya. “Anjing!”

“Iiiih, mengerikan!”

“Oo, Po!”

“Alamak!”

Para hadirin tidak mampu menyembunyikan ketakutannya. Draco memberi kode. Bray membius monster itu hingga tenang.

“Makhluk ini lebih sempurna dari pendahulunya. Kalian belum pernah melihat versi terburuknya, bukan? Dengan kecanggihan zaman ini, penampilan yang mengerikan bisa kalian sulap menjadi sempurna. Apa itu istilahnya?! Operasi plastik?”

Para hadirin dengan perasaan bercampur-aduk mengangguk.

“Siapa aku?”

Suara berat monster itu terdengar lantang. Obat tenang yang diberikan Bray tak cukup berpengaruh.

“Kau adalah potongan-potongan keinginan. Ambisi besar pemburu kekuasaan dan kekayaan. Kau ada untuk melayani.”

Monster itu memberontak. Tubuhnya seperti membengkak. Besi yang memaku dan melilit tubuhnya lepas. Sasaran pertama adalah yang paling dekat. Kaki Draco menyepak-nyepak udara. Jari-jari yang melingkari lehernya membuat Draco berlagak layaknya pesakitan. Namun kemudian ia tertawa. Dengan entengnya ia melepaskan diri dari cengkraman.

“Kau tak bisa membunuh penciptamu. Aku tahu kelemahanmu, Frank.”

“Anjing!”

“Bukan. Aku ayahmu.”

 

Mestoe, 04 Februari 2019

Ikhsan Hasbi, cerpenis, tinggal di Meureudu.

Advertisements