Cerpen Iin Farliani (Padang Ekspres, 29 September 2019)

Bulan Separuh di Mata Oliver ilustrasi Orta - Padang Ekspresw
Bulan Separuh di Mata Oliver ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Aku terbiasa menghabiskan malam dengan duduk beramai-ramai bersama para pekerja balai mengelilingi meja bundar. Aku menyebut tempat ini sebagai tempat perayaan. Meja dan kursi-kursi disusun menghadap ke laut. Aku duduk menikmati kopi sambil memerhatikan boat-boat yang ditambatkan di dermaga terguncang-guncang oleh ombak. Kadang-kadang aku mengikuti sorot cahaya mercusuar yang mengarah ke tengah lautan, tempat keramba-keramba jaring apung disusun berjajar.

Saat itu aku mendengar suara Pak Jun bernyanyi. Ia salah satu pekerja di bagian pendederan ikan kerapu. Ia suka sekali bernyanyi. Lirik lagunya sering berisi tentang kerinduan pada istrinya yang tinggal jauh. Tetapi, ia pernah ketahuan mengunjungi wanita lain lalu mengatakan pada kawan-kawannya bahwa ia melakukan itu karena kesepian. Sangat kesepian.

“Asyik juga ya di sini.” Oliver menghampiriku.

“Oliver!” Aku berseru takjub. “Kau tidak ikut minum?”

“Ya Tuhan! Coba kau hitung berapa gelas kopi yang kuhabiskan bersama begundal-begundal itu.” Oliver menunjuk ke arah meja yang paling dekat dengan dermaga. Di sana ada pekerja-pekerja lain yang sedang asyik mengobrol sambil berseru ria saling melemparkan kulit kacang. Sesekali terdengar seloroh cabul di antara mereka yang segera disusul sumpah serapah lalu ditutupi dengan tawa yang membahana. O! Lihat di antara mereka. Salah seorang yang terkena sorot cahaya mercusuar. Si rambut kuning! Ia sedang tersedak karena mengunyah kacang sambil tertawa. Aku benar-benar benci melihatnya.

“Mengapa kau suka sekali menyendiri?” Oliver menepuk bahuku. Aku diam. Sisa setengah gelas kopi di hadapanku sudah dingin.

“Kau tahu si Deong? Bodoh sekali dia! Ia pergi ke gili membawa perlengkapan selamnya. Kau tahu ia pergi menggunakan boat siapa?” Oliver menatapku lekat-lekat. “Boat milik balai! Astaga. Benar-benar tidak tahu malu. Aku menunggunya di dermaga tapi ia tidak juga kembali. Bayangkan pada saat itu aku sudah memikul empat keranjang Gracilaria, tapi boatnya tidak ada di sana! Bagaimana aku akan memberi pakan untuk abalonabalon itu?” Oliver menarik napas. “Lalu kau tahu apa yang terjadi? Deong meneleponku. Tanpa rasa bersalah ia memberitahu kalau boatnya terdampar. Ia memang tidak bisa mengemudi dengan baik. Celakanya, ia tidak sendiri. Ia pergi bersama anak-anak dari Kota itu.”

Baca juga: Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu? – Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 30 Jui 2017)

“Anak-anak dari Kota? Bukankah mereka baru datang kemarin?”

“Ya. Deong mengajak mereka berkeliling ke gili.”

“Pantas kau katakan ia tidak tahu malu.”

Oliver meneguk kopiku. Ia mengatur napasnya dan masih nampak antusias melanjutkan ceritanya.

“Dengan santainya Deong mengatakan padaku kalau besok aku masih punya waktu untuk memberikan pakan. Apa aku tidak salah dengar? Ketika ia kembali, aku langsung memukulnya!”

“Kau pukul dia?”

“Ya! Tepat di kepalanya!”

Aku tidak percaya. Aku menoleh ke arah Deong, si rambut kuning. Ia terlihat baik-baik saja. Ia bahkan kini terlihat sedang menyiapkan ancang-ancang untuk melompat ke laut. Dengan hanya mengenakan celana pendek, tubuhnya terlihat berputar di udara sebelum akhirnya terdengar suara berdebum di air. Orang-orang berseru gembira sambil bertepuk tangan. Lalu terdengar suara hempasan tubuh-tubuh yang lain menyusul masuk ke dalam air. Suasana sangat riuh.

“Kau tidak mungkin memukulnya, Oliver.” Aku menatap Oliver dengan mata yang dipicingkan.

Oliver tertawa. “Aku tahu kau tidak suka padanya. Tapi, sebenarnya ia sangat menyenangkan.”

“Aku tidak pernah suka padanya. Pokoknya tidak suka.” Aku menatap para pekerja yang sedang berenang. Di langit, terlihat bulan separuh menyembul di balik gugusan awan.

Oliver tertawa lagi. Ia kembali meneguk kopiku. “Mengapa kau tidak ikut berenang? Ayolah, kau sudah satu bulan di sini. Aku tidak pernah sekali pun melihatmu mandi di laut.”

Aku menghembuskan napas berat. “Mengapa kau tidak memukulnya, Oliver?”

“Apa?” Oliver menatapku.

“Mengapa kau tidak memukul si Deong itu? Atau mungkin sebenarnya kau berniat memukulnya tapi kau tidak jadi melakukannya?”

Oliver menatap tajam padaku. Tiba-tiba ia tertawa lagi. “Aku tidak mungkin memukulnya. Sudah kukatakan ia sebenarnya orang yang menyenangkan. Kau tahu? Sore tadi ia membawakanku tiga botol tuak! Aku tidak mungkin menolaknya. Sangat enak. Ia tidak mengaku bersalah. Tapi, aku tahu ia meminta maaf padaku dengan cara membawakan tuak untukku.”

Baca juga: Mencuri Matahari – Cerpen Irepia Refa Dona (Media Indonesia, 23 Juli 2017)

“Ya Tuhan. Tapi, pekerjaan kau tertunda hanya karena kelakuannya yang seenaknya itu. Bagaimana kalau abalon-abalon itu mati?”

“Abalon-abalon itu tidak akan mati!” kata Oliver sambil memukul meja. “Sebenarnya siang tadi saat akan memberikan pakan, cuaca buruk benar. Hujan turun tapi tidak terlalu deras. Kau tahu? Aku selalu malas pergi ke tengah laut di saat cuaca tidak bersahabat. Dengan tidak adanya boat di dermaga tadi, aku jadi memiliki alasan untuk tidak pergi ke tengah laut. Ini keuntungan yang kudapatkan dari Deong! Dan kau tahu?” Oliver merendahkan suaranya hingga terdengar seperti berbisik. “Bos tidak masuk kerja siang tadi. Ia pergi ke kota. Jadi, tidak ada yang mengawasiku apakah aku sudah memberikan pakan untuk abalon itu atau tidak.” Oliver terkekeh-kekeh.

Aku tidak dapat menyembunyikan kekecewaanku. “Jika kau memukulnya, aku yakin sekarang Deong pasti sudah remuk,” kataku sambil menoleh ke arah Deong yang sedang berenang menuju tiang mercusuar. “Aku mendengar kau pandai bertarung, Oliver.”

“Ya. Aku suka bertarung ketika masih tinggal di Kampung. Kau mau aku melakukannya sekarang?”

“Apa?”

“Kau mau aku memukul, Deong? Aku bisa melakukannya untukmu.”

Oliver berdiri dari tempat duduknya. Ia berteriak ke arah Deong dan para pekerja lainnya yang sedang berendam di laut. Mereka berjongkok sehingga hanya kepala mereka yang tampak menyembul di permukaan air. Tidak ada yang mempedulikan teriakan Oliver meski ia memanggil Deong berkali-kali.

Aku sangat ketakutan. Aku langsung berdiri menghampiri Oliver, menarik lengannya untuk kembali duduk bersamaku. “Hentikan Oliver!”

“Pengecut. Kau ini pengecut.”

“Sudah kukatakan kau tidak mungkin memukulnya.”

“Hei? Mengapa tidak kau lakukan sendiri saja? Ayo, pukul dia!” Oliver mendorongku. “Katakan kau tidak suka padanya!” Oliver mendorongku terus.

“Aku bilang hentikan!” Aku berkata dengan gemetar.

Oliver sangat terkejut melihat reaksiku. Orang-orang kini naik kembali ke atas dan melihat ke arah kami. Beberapa ada yang mencoba mendekat sambil mengeringkan tubuh mereka. Oliver kemudian menepuk bahuku, memintaku untuk duduk kembali. Ia lalu mengusir orang-orang yang mendekat ke arah kami.

Baca juga: Lelucon Para Koruptor – Cerpen Agus Noor (Kompas, 23 Juli 2017)

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud…”

“Kupikir kau kawan yang baik, Oliver. Kau sama saja.”

“Aku hanya ingin menghiburmu. Mengapa kau membencinya? Kupikir tidak ada yang salah dengan…”

Aku diam. Aku menundukkan kepalaku. Aku benarbenar merasa malu.

“Kau ini laki-laki penyendiri. Bagaimana mungkin kau bisa bertahan kalau terus seperti ini. Kau ingin berhenti bekerja?”

Aku mengangkat wajahku, menatap Oliver. “Aku hanya berkawan baik dengan kau, Oliver.”

Oliver memicingkan matanya. “Tentu. Tapi, kau seharusnya punya banyak kawan. Kau tidak mungkin lama bertahan bekerja di sini kalau kau hanya berkawan baik denganku.”

Aku terdiam. Aku memandangi sisa kopiku. Oliver masih menatapku sambil mengetukkan jari-jarinya di atas meja.

“Apa kau membencinya karena persoalan wanita?”

“Bukan hanya itu!”

Oliver terkejut. Aku sendiri tiba-tiba tersadar dari ucapanku, sekonyong-konyong aku menutup mulutku dengan tangan.

“Jadi benar karena wanita?”

Aku memandang ke arah laut. Bagaimana aku mengatakannya pada Oliver? Aku tidak menyukai Deong bukan karena persoalan wanita. Tentu bukan itu yang menjadi pokok utamanya. Aku dan Deong bekerja di laboratorium yang sama, tempat pembuatan kultur fitoplankton dikerjakan setiap hari. Deong selalu berlagak mengetahui segalanya. Ia juga berpikir, anak-anak yang mengikuti magang di laboratorium kami sudah menguasai cara kerja kultur hanya dengan satu penjelasan yang singkat. “Sterilkan peralatan dengan alkohol!”, “Beri pupuk dan campurkan silikat!”, “Nyalakan aerasi!”  Ia berkata dengan suara yang ditegas-tegaskan. Menyebut kata ‘steril’, ‘plankton’, seolah-olah kata-kata itu mewakilkan kesan bekerja di laboratorium sebagai sesuatu pekerjaan yang teramat sukar. Padahal prosedurnya sederhana jika kau memperhatikan dengan baik.

Deong selalu merasa penjelasannya yang singkat itu dapat langsung membuat anak-anak yang mengikuti magang mengerti prosedur kerjanya sehingga ia menyerahkan sepenuhnya pekerjaan itu pada mereka tanpa melakukan pengawasan lagi. Ketika ada pekerjaan yang tidak beres, ia akan langsung meluapkan kemarahannya. “Matamu!” Ia akan memaki dengan menyebut kata itu berulangkali. Kata makian itu lebih sering ia tujukan kepada anak-anak yang berasal dari Timur. Inilah yang membuatku geram. Sikap Deong justru lebih lunak jika pelanggaran dilakukan oleh anakanak yang datang dari Barat. Bahkan jika mereka datang terlambat bekerja dan istirahat lebih awal dari waktu yang ditentukan.

Baca juga: Akhir Perjalanan Gozo Yoshimasu – Cerpen Sori Siregar (Kompas, 16 Juli 2017)

Aku tidak mengatakan semua ini pada Oliver karena aku takut ia tidak memahamiku atau menganggap hal ini sebagai sesuatu yang biasa saja sehingga mungkin ia akan menuduhku bersikap berlebihan.

“Wanita itu racun! Kau bodoh jika membenci Deong hanya karena persoalan wanita.”

Aku ingin membantah kata-kata Oliver, tapi urung kulakukan. Aku takut pembicaraan kami semakin melebar sementara aku sendiri sedang merasa tidak nyaman membahasnya. Aku menimbang-nimbang bahan pembicaraan yang sekiranya dapat mengalihkan obrolan kami soal Deong. Sekonyong-konyong aku berkata, “Tadi pagi aku mengantarkan bon ke toko Ulva. Kantor kita masih berutang dua galon air.”

“Bagaimana kabar wanita itu? Ia selalu berlagak tidak mengenalku.”

“Sepertinya dia sedang hamil. Aku perhatikan perutnya membuncit.”

Oliver terdiam. Wajahnya tiba-tiba saja berubah. Ia meneguk lagi sisa kopiku hingga tandas. Ia bahkan mencoba menelan ampas kopi. Ia melakukannya dengan terburu-buru. Mulutnya belepotan ampas kopi. Tingkahnya menjadi aneh.

“Kuberitahu, wanita itu racun. Jadi, jika kau membenci Deong hanya karena persoalan wanita, kau benarbenar bodoh. Wanita hanya akan memanfaatkan perasaanmu yang tergila-gila padanya, lalu setelah kau hanyut, kau akan ditinggalkan begitu saja.”

Aku tidak menanggapi kata-kata Oliver. Aku melihat orang-orang mulai bergegas meninggalkan meja bundar. Cahaya mercusuar terlihat berputar-putar. Suara Pak Jun yang masih bernyanyi kini terdengar sayup-sayup.

“Kau dengar aku? Besok kau bantu aku mengumpulkan Ulva. Stok Gracilaria kita hampir habis. Sepertinya sampai dua hari ke depan, tidak ada pasokan Gracilaria dari petambak.”

“Apa? Kau ingin bertemu Ulva?”

“Jangan sebut namanya!” Oliver membentakku.

Aku terkejut. “Maaf Oliver. Tadi kau menyebut nama Ulva?”

“Dari tadi kau tidak mendengarku? Maksudku, rumput laut Ulva! Bantu aku mengumpulkannya besok. Apa kau ingin melihat abalon-abalon itu mati?”

Baca juga: B – Cerpen Muliadi G.F. (Jawa Pos, 16 Juli 2017)

Aku hampir tertawa. Tetapi, kutahan saja. Kami memang terbiasa mengumpulkan Ulva, jenis rumput laut dengan bentuk daun menyerupai kipas yang terdampar sepanjang pantai ketika air laut surut sambil tetap menunggu pasokan Gracilaria__pakan utama abalon__dari para petambak.

“Aku kangen istriku. Aku ingin kembali ke Kampung.” Oliver menggosokkan kedua telapak tangannya. Ia terlihat kedinginan.

“Apa kau berniat mengambil cuti, Oliver?”

Oliver terdiam. Tiba-tiba ia menatap tajam padaku. “Jadi, sekarang dia hamil?” Suaranya terdengar berat dan dingin. “Ulva?” Aku mengangguk dengan ragu. Oliver memandang ke arah laut. Aku tiba-tiba menyesal menyebut nama Ulva lagi.

Oliver bertanya lagi padaku. “Kau punya rokok? Rasanya sedari tadi mulutku tidak enak.” Ketika pandangan kami bertemu, aku melihat bayangan bulan separuh di matanya.

 

Iin Farliani selain menekuni cerita pendek dan puisi, juga menulis sejumlah esai di sela-sela studi formalnya di bidang Budidaya Perairan. Karya-karyanya telah disiarkan di pelbagai surat kabar, jurnal dan situs online, serta termaktub dalam beberapa buku bunga rampai terpilih. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya yang akan terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (Akarpohon, 2019).

Advertisements