Cerpen Hendy Pratama (Radar Malang, 29 September 2019)

Buaya yang Setia ilustrasi Radar Malang (1)
Buaya yang Setia ilustrasi Radar Malang

LANGIT temaram. Matahari tampak tua dan mengantuk (mungkin kecapekan). Dedaun gugur satu per satu bagai hujan. Di bawah sebatang pohon, sepasang kekasih bercumbu. Si lelaki memegang pipi si perempuan. Dan, si perempuan memejamkan mata, menerka isi hati si lelaki. Tepat di depannya, di balik sungai kehijauan, Kroko—dengan kepala menyembul dan tubuh yang tertutup air, tampak geli dengan adegan sepasang remaja itu. Apalagi mendengar si perempuan berucap, “Jangan jadi buaya darat, ya.” Ahh, rasanya Kroko ingin menerkam muda-mudi itu dengan sekali lahap.

Sebetulnya, dalam palung hati, Kroko hendak menayangkan protes. Ia tak terima dengan stigma tersebut. Kini, di dalam aliran air yang tenang, tangannya mengepal. Ia ngedumel. Ingin merubah rupa cantik si perempuan jadi buruk melalui tangannya. Atau, jika boleh, sekalian Kroko lahap kecantikan itu pakai kerongkongannya yang elastis, supaya tiada lagi istilah ‘buaya darat’ yang mesti ia dengar.

Lagilagi, dengan muka memerah, si perempuan bilang, “Jangan jadi buaya darat, ya. Jadilah yang setia—cukup aku yang kaucinta.”

“Tenang saja, wahai bidadariku,” balas si lelaki itu. Kedua tangannya mengelus-elus permukaan pipi si perempuan yang merah tomat. “Tiada perempuan lain, kecuali engkau. Di mataku, ya di sini—kaulihat? Hanya ada kau yang kucinta.”

“Ihhh… gombaaal!”

“Ehh, aku serius. Tengok mukaku!”

Lalu, sepasang kekasih itu tersenyum. Muka mereka berbinar-binar, menandingi pijar matahari yang sebentar lagi sirna.

Kroko jadi geram. Ia mengibas-ngibaskan ekornya hingga air terdengar gemercik. Renjis air berlompatan bagai sedang bermain sirkus. Buih tercipta. Bergumul, lalu pecah satu per satu. Si Kroko memutar badan. Berbalik arah, menjauhi sepasang kekasih yang bikin hatinya geram. Dalam hati ia bersumpah, akan menayangkan protes—yang entah dengan cara seperti apa—pada pencipta istilah ‘buaya darat.’

Sementara itu, di bawah remang cahaya dan kerlip bintang yang mulai tampak dan berhamburan bagai biji salak yang disebar, sepasang kekasih itu justu berciuman. Tangan si lelaki merangkak. Menjelajah. Ia cari harta karun yang terpendam. Atau, yang sengaja disembunyikan oleh empunya. Sedangkan si perempuan pasrah. Dan, sesekali menjerit tertahan bila si lelaki telah menemukan harta karun yang dicari. Sungguh, malam yang pekat lagi kelam. Hijau sungai tak lagi tampak, apalagi kemilau akhlak. Hanya bulan, bersinar terang. Berwarna keperakan di atas permukaan air.

***

Bulan telah letih, terlampau lama menjaga malam. Kini, ia ingin istirahat. Sekadar menyesap hangat kopi dan mengunyah sekeping kue koci. Dan, bila boleh lebih lama lagi, ia juga ingin mengisap rokok walau sebatang. Untuk itu, ia suruh matahari lekas bekerja sebelum rezekinya dipatok ayam. Matahari menurut. Ia pancarkan cahaya dari timur hingga pegunungan yang mengelilingi sungai tampak bersinar. Puncaknya berwarna keemasan. Permukaan air sungai turut berpendar-pendar. Disusul suara sahut-menyahut kokok ayam jago. Pagi telah tiba. Terasa begitu cepat.

Kroko berenang ke arah bibir sungai. Hendak mencari makanan. Dalam perutnya seperti hidup seekor ayam jago yang senantiasa berkokok. Dan, sesekali mematuk usus malangnya. Demi membuatnya tenang, Kroko mencari sesuatu yang dapat ia makan. Silanya, ia justru berjumpa dengan sepasang kekasih menyebalkan itu lagi.

“Sayang, semalam kamu ke mana saja?” selidik si perempuan dengan muka masam, berbalut rasa curiga.

“Ahh, kau ini curiga melulu,” sergah si lelaki. Tangannya mencubit cemberut di wajah kekasihnya itu.

“Aku takut bila kau mendua.”

“Hehh! Jangan takut. Aku, kan, bukan buaya darat.”

Si perempuan melengos. Memandang sungai hijau yang bergelombang. Dedaunan yang jatuh di permukaan sungai hanyut terbawa aliran.

Matahari naik ke permukaan. Embun timbul pada pucukpucuk daun. Sejibun ikan berlarian. Berenang memutar; ke sana-kemari, ke dasar dan terapung. Menimbulkan gelombang. Si Kroko, yang tak jauh dari sepasang kekasih itu, terdiam dengan kepala terendam. Hanya tampak mata kuning yang bersetia mengamati. Menyimak konflik yang timbul di antara pendar pagi yang masih seumur jagung.

“Aku curiga. Janganjangan, kau…”

“Sudah kubilang—aku bukan buaya darat!”

“Coba jelaskan. Semalam kau ke mana?”

“Aku ke rumah teman, Sayang. Ada bisnis yang mesti kuurus.”

“Kok, gak ngabari aku?”

“Ya, mana sempat?” balas si lelaki. Tangan kanannya menggaruk-garuk rambut cepaknya yang tak gatal. Dan, seketika, ia mendekap kekasihnya itu.

Kroko merasa bahwa ini waktu yang tepat baginya buat protes. Ia tak terima bila dirinya disangkutpautkan dengan lelaki hidung belang. Biar bagaimana pun, ia merasa bahwa dirinya tipe binatang yang setia. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang manusia sangkakan. Demi itu, ia sabar menunggu. Menunggu kesempatan baginya buat menayangkan protes. Memulihkan nama baiknya.

“Ahh, bohong!”

“Beneran.”

“Kamu berbohong—mana buktinya?”

“Sayang, harus kubuktikan sampai berapa kali agar kau percaya…” si lelaki itu masih mendekap kekasihnya, “bahwa aku cinta kau selama—”

Belum selesai dengan kalimatnya, tanpa aba-aba, ekor Kroko menyentak dahsyat. Tubuhnya melompat keluar dari sungai. Dan, moncongnya mendarat tepat di kaki si perempuan. Gigi runcingnya mengoyak kaki mulus itu hingga terluka. Darah mengucur. Si perempuan berteriak ketakutan.

“Tolooong, tolooonngg aku, Sayaang!”

Tetapi, bukannya menolong, si lelaki justru berlari. Terbirit-birit entah ke mana. Batangbatang kakinya terseok-seok. Tubuhnya sempoyongan.

Si perempuan itu masih histeris; menjerit sejadi-jadinya, menangis sekencang-kencangnya. Dan, sesekali memukul moncong Kroko yang tentu tak berasa.

Semenit berlalu. Kroko melepaskan gigitan. Ia memang tak berniat memakan kaki perempuan malang itu. Tubunya melekuk-lekuk. Dengan merangkak mundur, ia kembali ke perut sungai. Secara perlahan, sungai hijau dengan pendar matahari itu menghilangkan tubuh si Kroko. Sekejap, ia sirna, meninggalkan bekas gigitan di ingatan si perempuan.

“Horasss! Akhirnya berhasil,” teriak Kroko, semringah, di dalam perut sungai. Tangannya mengepal, menandakan keberhasilan.

Kroko ngedumel dalam hati. Ia berpikir bahwa manusia itu makhluk paling bodoh. Dan sejatinya mereka hanya menduga-duga. Tidak tahu kenyataan yang terjadi. “Sejak kapan mereka menyamakan tikus dengan koruptor? Bukankah tikus jauh lebih mulia daripada koruptor?” [1] Dan, istilah ‘buaya darat’ itu…. Akhhh.”

“Mereka salah mengira diriku. Hei, aku ini tipe binatang yang setia,” imbuh Kroko, bicara dalam hatinya yang mekar. “Aku hidup di sungai, dan hanya sesekali ke daratan. Bagaimana mereka dapat mengira sebangsaku ini hidung belang? Bukankah berbagai pohon juga dapat tumbuh di tempat yang sama dengan damai?” [2]

Tentu saja si perempuan tak dapat mendengar keluh kesah Kroko. Ia hanya berlalu dengan pincang. Ranting tangannya meraih pohonpohon buat membantu langkahnya. Perasaannya kesal bercampur cemas. Tiada yang tahu, ia bakal marah pada si lelaki atau tidak. Yang pasti, kejadian itu ialah bagian dari ingatannya yang tak pernah hilang.

“Dan, huhh… manusia memang tak lebih baik daripada binatang,” tukas Si Kroko, kesal dan geram. ***

 

/Dolopo, Madiun. September—2019

Hendy Pratama, lahir pada 3 November 1995 di Dolopo, Madiun. Berkegiatan di komunitas sastra ‘Langit Malam’ dan ‘FPM IAIN Ponorogo.’ Beberapa cerpennya pernah termuat di berbagai media massa.

 

Catatan kaki: 

1 Termaktub dalam cerpen Indra Tranggono dengan judul Hukuman untuk Pencipta Bahasa.

2 Tertera dalam cerpen Eko Triono dengan judul Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon?