Cerpen Pangerang P. Muda (Solo Pos, 22 September 2019)

Setelah Hari Celaka ilustrasi Solo Posw
Setelah Hari Celaka ilustrasi Solo Pos

Benda laknat itu pasti terselip di balik katup rapat jaketmu, sampai tanganmu sering-sering beringsut meraba. Masih saja pistol itu kamu bawa setelah sebutir peluru dari moncongnya nyaris melubangi jidatku. Uh, kamu menganggap aku masih bisa melawan?

Kemarin, seusai kita memperdebatkan di kantor tanpa kesepakatan, kamu nekat mengikutiku naik ke lantai ke tujuh. “Kau memang tak tahu diri!” sentakmu, berbarengan dengan dorongan kasarmu pada pintu apartemen. “Setelah kau merebutnya dariku, sekarang kau buat aku serupa pengemis meminta sepuluh persen dari bagian kalian.” Lalu kamu merangsek, meneruskan rengek, “Kau lupa, kalau papanya adalah pamanku sendiri, dan sebagian aset perusahaan masih milik kakekku? Heh, harga yang kutawarkan pun cukup lumayan: enam ratus lima puluh juta, kuangsur empat kali.”

Kukibaskan tangan. “Aku tahu kamu sudah bangkrut,” lecehku, sekilas menatapmu sebelum membalik badan. “Penawaranmu hanya akal-akalan. Kamu hanya ingin menjualnya kembali, dan bisa jadi selisih harganya yang akan kamu pakai mengangsur. Pasti kamu sudah pantau prediksi harganya yang akan naik.” Kulepas gelak, menoleh kembali ke arahmu, dan senang melihat parasmu telah berubah serupa rajungan rebus akibat didih amarah.

“Huh, andai tidak ada kau yang menjadi hantu pengganggu dalam hubungan kami,” terus saja kamu bersungut. “Kau itu hanya keluarga jauh mamanya. Oleh kelicikanmu, kau telikung aku, mendahuluiku menikahinya agar kau mendapat bagian itu, padahal kau tahu aku tengah mati-matian mendekatinya.”

“Jadi, kamu tidak percaya jodoh?” Kukeraskan tawa. “Walau kamu yang mengiba seperti anak kecil mengharap cintanya, tapi justru lamaranku yang ia terima. Itulah jodoh.”

Ketika kamu merogoh selipan pinggangmu, mengeluarkan pistolmu, sempat kuduga itu hanya pistol mainan. Makanya aku berbalik membelakangimu dan menukas, “Tidak ada lagi negosiasi,” lalu menuju balkon. Aku sumpek mendengar ocehmu, dan merasa butuh oksigen lebih banyak. “Berapa persen pun dari saham itu tidak akan kuberikan. Sudah terlalu sering kamu merecoki, bahkan membodohi keluarga istriku.”

Saat itulah kudengar suara letusan. Pistol di tanganmu ternyata bisa menyalak, menyentak tubuhku tersandar ke pagar balkon. Sempat kukira jidatku telah bolong. Sedikit meleset, peluru itu hanya mengirim desing di atas rambutku.

Baca juga: Pembuat Kursi – Cerpen Pangerang P. Muda (Solo Pos, 26 Mei 2019)

Aku kemudian lalai menduga gerakmu. Masih dalam buai kaget, ternganga menyadari pistolmu ternyata betulan, sampai aku kasip mengelak ketika kamu menyerbu ke arahku. Kamu langsung mengait tengkukku dengan lingkaran kukuh lenganmu, sedang lenganmu yang bebas meraih pinggangku dan mengangkatnya. Baru kusesali kenapa aku ditakdirkan bertubuh agak kurus. Jangkung kita hampir sama, tapi bobot tubuhku agaknya sepuluh kilogram lebih ringan darimu. Dengan gampang kamu mengangkatnya, sebelum menjungkalkan keluar dari pagar balkon.

Di atas kaca tebal penutup kanopi yang berderak, tubuhku berdebam. Tersedot gravitasi sejak dari lantai ke tujuh apartemen, rupanya membuat tekanan bobot tubuhku berlipat. Suara derak itu sontak memekikkan orangorang yang melintas, saling-sela dengan teriakan, “Orang bunuh diri…. Melompat dari balkon….”

Itukah yang kamu inginkan, agar orang menduga aku sengaja melompat bunuh diri? Uh, terkutuklah kamu! Setelah kejadian yang mencelakakanku itu, pasti kamu belingsatan meninggalkan apartemen karena panik. Kamu pasti tidak menyadari, ada saksi di dalam kamar mandi yang (tentu!) menyaksikan perbuatanmu. Bisa jadi dia telah menyelesaikan mandinya, sejak tadi mengintip ulah brutalmu, tapi oleh rasa takut karena kamu berpistol membuatnya tidak berani keluar.

Dan hari ini, kamu datang pura-pura ikut bersimpati. Setelah memepet dan menyela orang-orang, kamu berhasil merapat di sisinya. Kamu memang keparat!

***

Parasnya memeram duka. Air matanya seakan membeku serupa butiran es, merebak berkaca-kaca di kedua matanya. Tatkala ia menyentuh keningku, mengusap sebelum mencium, barulah bahunya berguncang. Tangisnya pecah, melelehkan butiran es dari rebak bola matanya.

Segenap kasih yang ia miliki telah berubah menjadi lara. Telapak tangannya yang terus mengusap pipiku, merambatkan guncang sedu-sedan pada seluruh tubuhnya. Gaun berwarna gelap yang ia kenakan tidak lurus jatuh menjuntai, tapi agak menggembung di bagian perutnya. Kamu pasti paham, di balik kulit dan daging perutnya yang menggembungkan gaun itu, ada sesosok janin sedang meringkuk lelap dan sedang berupaya mematangkan diri.

“Aku bersedia menjadi bapaknya.” Belah mulutmu yang serupa desis ular, tidak sampai mendongakkan kepala orang-orang yang sedang bertafakur diam. “Dengan licik dia merebutmu dariku.” Kepalamu sedikit meneleng ke arahnya, meneruskan geremeng, “Dia memang laki-laki bodoh, dan tidak bertanggung jawab.”

Baca juga: Surat-surat Tuan Zeeman – Cerpen Pangerang P Muda (Padang Ekspres, 28 April 2019)

Ia tidak segera membalas desis mulut busukmu. Kedua tangannya memeluk perutnya, mungkin menenangkan geliat marah janin di baliknya. Ah, aku berharap titis darah-dagingku itu tahu apa yang telah terjadi, agar bisa mulai menabung murka, demi suatu saat menimpali dendamku padamu.

“Kau pikirkan sendiri; di saat kau sedang hamil, dengan bodoh dia malah melemparkan tubuh keroposnya dari balkon,” culas mulutmu tak juga berhenti berdesis di sisi kepalanya. “Kupastikan dia memilih tindakan bodoh itu karena punya masalah serius. Pasti dia sedang terlilit utang besar, atau malah menghadapi sebuah kasus, bahkan terlibat sebuah skandal, dan dia tak kuat menanggang rasa malu. Hm, seperti itu yang kau anggap laki-laki bertanggung jawab?”

Menyela provokasi busukmu, ia menukas, “Tidak usah purapura mengkhotbahiku. Kau kira aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan padanya?”

Sekilas kamu melirikku, tersenyum sinis sebelum membusakan kembali busuk mulutmu, “Jangan berasumsi. Semua orang tahu, dengan bodoh dia melompat dari balkon apartemen.”

“Dia dilemparkan, setelah diancam tembakan….”

Betapa tenangnya kamu. Reaksimu hanya menggigit bibir bawah, terkesan sedang meredam gejolak emosi, ketika ia dekatkan mulutnya ke sisi kepalamu dan menohok, “Anak kami, suatu saat akan membalaskan dendam bapaknya.” Oh, ia pun paham harapku! Lalu tangannya kembali memegang perutnya, menenangkan cikal-bakal keturunan kami itu, yang pasti ikut paham apa yang barusan dikatakan mamanya.

“Jadi, kau mencoba mengancamku?”

Memilih berbalik, lalu mengentak kaki menjauh, kuyakin ia mulai muak mendengar ocehmu. Ia memilih menjauhimu pasti karena tak tahan kamu recoki.

Aku hanya bisa pasrah pada apa yang akan terjadi padanya. Gerak samarmu menyentuh selipan pinggangmu sebelum mengekori langkahnya, memperjelas apa yang sedang kamu rancang. Kamu pasti bermaksud pula menembaknya!

Di hari celaka kemarin, sudah kuduga ia melihatmu dari intip sela pintu kamar mandi. Tadinya aku berharap kamu tidak usah tahu bahwa ia melihat perbuatanmu itu, sampai suatu saat nanti ia bersaksi di pengadilan. Namun, terlanjur ia mengatakan tadi, bahwa ia tahu apa yang telah kamu lakukan padaku.

Baca juga: Taman Cinta Pak Tua – Cerpen Pangerang P. Muda (Radar Selatan, 25 Februari 2019)

Kamu mengikutinya … uh, kamu pasti bermaksud menggiringnya ke luar, ke tempat yang tak terlihat orang-orang. Di situlah kamu akan menembaknya; mungkin kamu berpikir untuk melenyapkan saksi mata, atau malah upaya memunahkan penerus dendamku yang sedang ia kandung.

“Dia yang melemparkan suamiku dari balkon! Dia yang membunuhnya!” Teriakan itu, amat mendadak dan seperti histeris. Entah apa yang kamu perbuat padanya, sampai ia tak kuat lagi menyimpan sabar dan meneriakkannya.

Menyusul riuh orang-orang memekik dan saling-teriak, ada suara tembakan dua kali. Aku yakin kamu telah menghabisinya!

Namun, ia kemudian malah datang kembali ke sisi kepalaku, tersedu lebih lama, melampiaskan seluruh persediaan air matanya. Ia dekatkan bibirnya yang bergetar ke telingaku, terus mengguguk sembari berbisik, “Oohh … aku tidak bisa lagi bersabar menunggu saat tepat melaporkannya ke polisi. Aku tadi berteriak, agar semua orang di dalam ruangan ini segera tahu dialah pembunuhnya. Itulah sampai dia sangat marah, lalu mengacungkan pistol ke arahku. Aku nekat menubruknya sehingga arah tembakannya mendongak ke atas. Oohh … dia hampir pula membunuhku….”

Setelahnya, sedikit lebih tenang, ia terus memperjelas apa yang barusan terjadi, “Di luar, ternyata ada polisi yang mengawasi. Bisa jadi itu kasusnya yang lain. Polisi itu menyerbu masuk begitu ada suara tembakan. Dia berbalik, mengarahkan pistolnya ke polisi itu, tapi polisi itu lebih tangkas dan duluan menembaknya. Oh, bajingan itu telah menemukan karmanya, jadi tidak perlu lagi kita bebani anak kita dengan warisan dendam….” Air matanya mungkin pula sudah habis, dan getar tangannya yang mencengkeram tepi peti mati tempatku berbaring geming, tidak lagi merambatkan guncang.

Aku pun tenang.

 

Pangerang P. Muda. Kumpulan cerpennya yang terbaru “Tanah Orang-Orang Hilang” (Basabasi/2019). Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.

Advertisements