Cerpen Nab Bahany As (Serambi Indonesia, 22 September 2019)

Rencong Pusaka ilustrasi Serambi Indonesiaw.jpg
Rencong Pusaka ilustrasi Serambi Indonesia

ENTAH kenapa,  orang-orang tak lagi bertegur sapa denganku, baik di kampung, di pasar, atau di tempat-tempat keramaian lainnya. Bahkan tak ada lagi yang menawarku minum untuk sekadar basa-basi bila aku singgah warung di kampung maupun di pasar. Biasannya bila aku masuk  sebuah warung  orang-orang yang menenalku lebih duluan menegurku dan menawari aku minum, dan bahkan biasanya mereka senang duduk satu meja untuk ngobrol di warung kopi.

Tapi lain halnya dengan yang kualami selama ini. Aku seperti terasing di tengah para sahabat dan handai taulan kemana pun aku pergi. Tak ada lagi yang mau bertegur sapa denganku. Pergaulanku semakin lama semakin berkurang. Mereka yang biasanya menghomatiku sebagai salah seorang pewaris dari sebuah keluarga bangsawan, kini kurasakan semua orang seperti enggan menyapaku. Sampai aku berpikir, apakah ini ada hubungannya dengan gejolak revolusi sosial Aceh masa lalu. Sehingga aku menjadi terasa terkucilkan di tengah masyarakatku sendiri.

Aku harus mencari tahu, apa penyebab dari semua ini. Apakah ini dendam lama dari sebuah peristiwa kelam yang mungkin  masih membekas  meninggalkan parut sejarah, yang tak mudah dilupakan? Ah, aku tidak yakin dengan semua itu. Kerena kakek dan ayahku dulu adalah keturunan bangsawan yang sangat disenangi rakyat. Harta mereka hibahkan mendirikan madrasah-madrasah. Puluhan naleh tanah sawah dan kebun-kebun yang dimiliki kakek dan ayahku dulu disuruh kerjakan pada masyarakat dengan cara bagi hasil.

Justru itu tidak mungkin mereka menaruh dendam padaku dengan cara mengucilkanku seperti yang kualami saat ini. Apa lagi sebagian harta yang kuwarisi dari kakek dan ayahku, seperti sawah dan kebun terus kumanfaatkan menolong orang-orang kampung yang kurang mampu untuk bisa bekerja di sawah dan kebunku, dengan cara bagi hasil, seperti yang dilakukan oleh kakek dan ayahku dulu.

Tidak ada orang yang tidak mengenal nama kakekku –  Teuku Beurahim Kawom. Meski beliau sudah lama almarhum, namanya tetap dikenang masyarakat sebagai hulubalang yang sangat pemurah. Demikian pula ayahku Teuku Cut Sabi, beliau juga mengikuti jejak ayahnya, Teuku Beurahim Kawom, yang sangat dihormati dan disegani masyarakat.

Baca juga: Sesuatu yang Bernama, Hidup, Tak Terhingga – Cerpen Ikhsan Hasbi (Serambi Indonesia, 24 Februari 2019)

Aku sering mendengar cerita orang tua di tempatku, bahwa kakekku dulu adalah seorang hulubalang yang tidak mau tunduk kepada Belanda. Malah kata mereka, Belanda pernah berkali-kali menawarkan kerja sama dengan kakekku, dan imbalannya Belanda akan memperluas wilayah kuasanya sampai 22 Mukim. Akan tetapi Teuku Beurahim Kawom menolak tawaran tersebut. Akibatnya, Belanda marah dan mengancam akan memecat kakekku dari jabatannya sebagai hulubalang, dan akan dibuangnya jauh ke daerah lain.

“Tuan boleh memecat dan membuang saya ke mana saja yang Tuan mau. Tapi untuk Tuan ketahui, apakah setelah Tuan memecat dan membuang saya jauh dari rakyat, Tuan dapat dengan mudah menguasai wilayah ini? Tidak Tuan! Tuan jangan pernah berharap saya mau  bekerja sama dengan pemerintahan Tuan. Karena saya tidak mau di kemudian hari, setelah tuan-tuan kalah dan angkat kaki dari sini, dan kembali ke negeri Tuan, saya dan keturuan saya  akan dihujat dan dicerca oleh generasi-generasi setelah saya nantinya,” begitu kata kakekku, Teuku Beurahim Kawom, yang tidak mau tunduk kepada Belanda.

Tentu saja kakekku, Beurahim Kawom, dipecat dari jabatan uleebalang dan dibuang ke Mataram. Dasar Belanda cerdik, kemudian ayahku Teuku Cut Sabi diangkat oleh Belanda menjadi uleebalang menggatikan ayahnya. Berharap jabatan uleebalang, ayahku, Teuku Cut Sabi, mau bekerja sama dengan Belanda.

Menurut cerita yang pernah kudengar, ketika Beurahim Kawom hendak dibuang ke Mataram, sehari sebelum dibuang oleh Belanda, dia sempat berpidato di halaman rumahnya yang luas dan dihadiri oleh rakyat, “Wahai rakyatku semuanya, takdir Allah, bahwa semua ini ada hikmah bagi kita. Besok pagi sehabis salat Subuh lon tuan akan dibuang oleh Belanda ke Mataram. Berapa lama saya akan dibuang hanya Allah yang tahu. Ulon tuan berpesan pada saudara-saudara semua, jangan pernah berhenti berjuang untuk tidak membiarkan nanggroe geutanyoe dicuca kafee Beulanda,” demikian pesan terakhir Uleebalang Beurahim Kaom.

Hari itu pada setiap wajah yang memadati halaman kediaman kakekku suasana sedih dan pilu tak terbendung. Mereka semua benar-benar kehilangan seorang pemimpin yang sangat mereka cintai. Setelah kakekku berpidato, semua orang yang hadir diberi kesempatan untuk bersalaman dengan si orang buangan. Semuanya meneteskan air matanya.

Baca juga: Hipokrit – Cerpen Putra Hidayatullah (Serambi Indonesia, 07 April 2019)

Teuku Cut Sabi, pengganti Teuku Beurahim Kawom, ternyata juga lain dari perkiraan Belanda. Dalam diri Teuku Cut Sabi juga mengalir sifat dan prinsip ayahnya, tak mau kompromi dengan Belanda. Bahkan Teuku Cut Sabi berani menentang kebijakan-kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang tidak menguntungkan rakyat. Terutama kebijakan-kebijakan Belanda dalam mengubah tatanan lembaga adat.

Sekali waktu, saat itu aku masih kecil tapi sudah mengerti pembicaraan orang tua, sempat mendengar ayahku mengkritik seorang pamong praja Belanda. “Sebaiknya pemerintahan Tuan dapat menghargai lembaga adat kami, tidak justru meleburkan dan menghilangkan fungsinya, menggatikan dengan kebijakan-kebijakan aturan pemerintahan, Tuan,” kata ayahku.

Pamong praja itu tersinggung. Ia melaporkan ayahku ke asiten residen afdeeling yang membawahi wilayah ayahku. Tak lama setelah itu, ayahku menerima surat teguran sekaligus peringatan keras dari pimpinnan afdeeling Belanda, yang isi surat tersebut menawarkan dua pilihan, yaitu tunduk pada pemerintahan Belanda, atau meletakkan jabatan sebagai uleebalang.

Ucapan Teuku Beurahim Kawom sehari sebelum dibuang Belanda ke Mataram, yang mengatakan untuk tidak membiarkan nanggroe geutanyoe dicuca oleh kafee, selalu terngiang-ngiang di telinga Teuku Cut Sabi.

Sekali waktu ayah pernah menceritakan kepadaku, bahwa kakekku sangat suka pada lantunan-lantunan syair Aceh yang menyemangati sikap keteguhan seseorang dalam mempertahankan negerinya.

“Ya ayah, aku ingat sekali waktu aku kecil, kakek pernah mengajariku syair yang bunyinya:  di pasi rawa na rusa jampok, rincong meupucok di ateuh bara, menye mantong na rincong meupucok, nanggroe han kujok keu Beulanda.”

“Kakekmu dulu memang banyak sekali menulis syair-syair Aceh dalam aksara Arab Jawi. Tapi kemudian syair-syair yang ditulis tangan oleh kakekmu semuanya dirampas Belanda saat mereka menggeledah rumah kakek. Waktu itu Belanda menuduh kakek menyimpan sebuah rencong yang bisa mengelabui Belanda, ke mana pun kakek pergi. Tapi Belanda tidak menemukan rencong itu.”

“Rencong apa itu, ayah?” tanyaku penasaran.

Baca juga: Hologram – Cerpen Ikhsan Hasbi (Serambi Indonesia, 28 April 2019)

“Rencong itu tidak boleh dipakai oleh sembarang orang bila tidak tahu khasiatnya. Dan rencong itu hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Namanya rencong peuneulieh. Rencong ini adalah rencong yang ditempa khusus oleh seorang utoh yang sangat ahli dalam memasukkan khasiat-khasiat ke dalam sebuah rencong yang dibuatnya. Rencong yang berkhasiat seperti yang diimiliki kakekmu biasanya dibuat oleh seorang ulama. Lama pembuatanuntuk sebilah rencong kadang bisa memakan waktu tiga sampai lima tahun.”

“Rencong kakek berapa lama ditempa?”

“Persisnya aku tidak tahu. Paling tidak, mungkin sampai tiga tahun. Pembuatannya harus selesai pada tahun ganjil, kalau tidak tiga tahun, ya lima tahun, atau bisa tujuh tahun.”

Ayahku menceritakan, bahwa rencong milik kakekku adalah rencong yang sangat mewah bentuknya. Puting gagangnya terbuat dari emas yang berukir cawardi bermotif pucuk rebung. Cawardi ini bentuk ukiran Aceh yang sangat indah, tidak ada di tempat lain di Nusantara yang menggunakan ukiran cawardi, kecuali dalam ukiran-ukiran orang Aceh. Itu pun dalam ukiran Aceh tempo dulu. Sekarang tak ada lagi tukang yang ahli membuat ukiran cawardi pada perhiasan-perhiasa emas atau suasa di Aceh.

Semua itu diceritakan ayahku saat aku masih berumur sekitar dua belas tahun, ketika ayahku telah menjadi uleebalang menggantikan kakekku yang telah dibuang Belanda ke Mataram. Beberapa hari sebelum kakekku dibuang,  dia mewariskan rencong itu kepada Teuku Cut Sabi. Saat kakek menyerahkan rencong itu kepada ayah, kakek mengamanahkan untuk menggunakan rencong itu dalam kondisi-kondisi tertentu saja. Terutama bila situasinya sudah sangat bahaya untuk menyelamatkan dirinya dari musuh.

Setelah ayahku meninggal, atas kesepakatan, saudara-saudaraku  mempercayai rencong warisan itu kepadaku. Dengan syarat aku tidak boleh meberikan rencong itu kepada siapa pun, kecuali atas persetujuan keluarga. Rencong itu kupakai setiap saat ke mana pun aku pergi. Aku menyelipkan rencong itu di pinggang, tersembunyi di balik baju jas hitamku, sehinngga orang tidak tahu bersamaku selalu ada sebilah rencong.

Baca juga: Tanah Kami – Cerpen Juan Rulfo (Serambi Indonesia, 26 Mei 2019)

Pada suatu hari aku sengaja mendatangi seorang saudaraku lain ibu, Teuku Cut Banta. Karena ia lebih tua, aku memanggilnya Teuku Abang. Saat kami bertemu, aku menyampaikan perihal yang kualami selama ini.

“Teuku Abang, kenapa selama ini Dinda merasakan seperti ada yang aneh dalam hidup Dinda?”

Aneh bagaimana?”

“Dinda merasa sekarang seperti dikucilkan oleh orang-orang dalam pergaulan. Mereka tidak lagi mau bertegur sapa denganku, apa lagi untuk bertanya ini dan itu. Apa ada yang salah dengan keluarga kita?”

“Apakah Dinda bila berpergian ke luar rumah membawa serta rencong itu?”

“Ya, aku selalu membawa rencong itu.”

“Berarti benar dugaanku. Kerena rencong itu, orang-orang tidak berani bertegur sapa dengan Dinda.”

“Mengapa memangnya, Teuku Abang?” tanyaku tidak mengerti.

“Rencong warisan kakek kita, Teuku Beurahim Kawom, adalah rencong penuh khasiat. Rencong itu hanya dapat digunakan bila kita sedang dalam bahaya. Misalnya kita sedang dicari oleh musuh, atau akan berhadapan dengan musuh. Bila kita menggunakan rencong itu, musuh yang mencari kita jangankan untuk berbicara dengan kita, menegurnya saja mereka sudah merasa enggan. Itulah salah satu peungaba dari rincong peuneulieh yang ditinggalkan kakek, rencong pusaka yang tidak semua orang memilikinya.”

Dari penjelasan itu barulah aku tahu, kenapa selama ini setelah aku memakai rencong tersbeut orang-orang tidak lagi mau bertegur sapa denganku. Maka benar apa yang dulu diceritakan ayahku, Teuku Cut Sabi, bahwa rencong milik kakek itu hanya dapat digunakan dalam keadaan-keadaan tertentu saja. Mungkin kakekku dulu menggunakan rencong itu hanya saat menghadapi musuh-musuh Belandanya.

 

Nab Bahany Asbudayawan, tinggal di Banda Aceh.

Advertisements