Cerpen Vito Prasetyo (Bangka Pos, 22 September 2019)

Pembawa Kematian ilustrasi Bangka Posw.jpg
Pembawa Kematian ilustrasi Bangka Pos

Saat itu matahari terbenam, hujan deras turun. Rumah kami basah kuyup, tak pernah seperti ini. Hujan seakan tidak menghitung musim lagi. Aku duduk di ruang tamu bersama kakek, di atas meja ada 2 gelas kopi panas yang baru saja dihidangkan oleh Mak Ijah, pembantu kami. Buih asapnya masih mengepul, bergerak mengikuti arah angin.

Seperti membaca sebuah isyarat, pandangan mata kakek seakan menembus pekat warna kopi didalam gelas.

“Hidup itu di antara hitam dan putih”

Aku diam, tidak mengerti arah pembicaraan kakek.

“Tetapi gelap bukan berarti tidak ada rasa. Bisa jadi pahit hidup akan lenyap” lanjut kakek

Sekali lagi, aku hanya diam, mulut seakan terkatup bisu, tak mampu mencerna kata-kata kakek.

“Putih itu sering dimaknai terang dan suci, tetapi kadang menyesatkan manusia”

Aku semakin bingung, betul-betul tidak paham maksud kakek. Setelah itu kulihat kakek mengambil gelas di meja, meniup buih-buih asap kopi panas kemudian pelan-pelan meminumnya sedikit demi sedikit.

Diluar rumah, hujan terus berkecamuk semakin deras. Beberapa saat lampu tiba-tiba padam, seluruh isi rumah mejadi gelap. Aku beranjak, dan dalam keremangan sinar gelap aku berjalan meninggalkan ruang tamu menuju ruang makan, karena biasanya lilin ada di dekat meja makan. Gelap itu membuat aku berjalan meraba-raba, ada keinginan untuk memanggil Mak Ijah, tetapi rasa ibaku berpikir kalau Mak Ijah mungkin sudah tertidur karena keletihan sepanjang hari mengerjakan pekerjaan rumah.

Baca juga: Nelayan Muara – Cerpen Rifan Nazhif (Bangka Pos, 16 September 2018)

Rasanya begitu lega ketika berhasil menemukan lilin, langsung kunyalakan dan kembali berjalan menuju ruang tamu, dimana kakek duduk disana. Tetapi saat aku tiba di ruang tamu, kulihat kakek sudah berlalu dari situ. Pasti kakek tadi menuju kamarnya saat aku ke ruang makan untuk mencari lilin. Aku mengintip disela pintu kamar kakek yang masih terbuka sedikit, kulihat kakek telah berbaring di tempat tidurnya. Ah, secepat itu langkah kakek ke kamarnya!

Aku kembali ke ruang tamu, karena aku belum sempat mereguk kopi. Kulihat isi gelas kakek sudah berkurang sepertiga gelas, lalu kopi kakek kututup agar tetap hangat, tetapi tutup gelas itu berkali-kali terjatuh. Dalam beberapa waktu, lampu menyala kembali, sinar lampu seperti telah menghantam kegelapan, dan hujan pun di luar mulai reda. Ingin kupanggil kakek, biar kopinya dihabiskan.

“Kek….”

Tak ada jawaban atau suara mendehem, ciri khas kakek. Secepat itukah kakek telah tertidur pulas, tetapi aku tidak ingin mengganggu tidur kakek.

Keesokan pagi, saat aku bangun tidur, aku begitu heran kenapa tiba-tiba suasana rumah begitu ramai penuh orang. Aku bertanya ada apa, Mak Ijah menangis dan berkata terbata-bata bahwa kakek telah tiada. Apa mungkin ini mimpi tidurku, karena aku masih terbawa suasana bangun tidur, atau mungkin aku telah mengalami halusinasi.

Aku terhuyung, seperti dipermainkan ombak dan dalam hitungan detik tubuhku jatuh, aku tidak sadarkan diri. Semua menjadi gelap, terkecuali alam bawah sadarku seperti melihat jiwaku menjadi putih dan mengawang terbawa awan pekat.

***

“Syuikurlah, Mas Panjul sudah siuman” begitu kata Mak Ijah yang kudengar.

Aku memandang sekelilingku, aku seperti bingung tidak mengerti apa yang telah terjadi. Sayup-sayup aku mendengar perbincangan dari beberapa orang di sebelah kamarku, di ruang tamu.

“Kakek dimana, Mak Ijah?”

“Kakek sudah tidak ada, mas. Sudah dikubur”

“Maksudnya apa Mak Ijah?”

“Kakek sudah meninggal, mas”

“Hah … apa?”

Baca juga: Kunjungan Mak Gejik – Cerpen Eko Setyawan (Bangka Pos, 30 Juni 2019)

Kembali badanku terasa limbung, dan akhirnya tak sadarkan diri. Entah apa yang telah terjadi dengan diriku. Kondisi semacam ini tak pernah kualami, baru kali ini terjadi. Dalam sehari, aku telah mengalami pingsan sampai dua kali. Tetapi itu semua baru aku tahu setelah aku tersadar, dan mendengar kata-kata Mak Ijah mengatakan aku semaput dua kali. Entah berapa lama aku pingsan, sampai-sampai tidak tahu kalau kakek sudah dimakamkan.

Begitu aku betul-betul sadar, aku segera minta tolong kepada Pak Mimin – tukang kebun di rumahku, untuk menunjukkan kuburan kakek. Aku ingin melihat kuburan kakek, walau jasadnya tak akan pernah lagi kulihat, hanya seonggok tanah bertabur bunga dan kedua sisinya tertancap batu nisan.

***

Keesokan harinya, situasi rumah masih agak ramai, tidak hanya semua keluarga dan sanak-familiku yang datang dari jauh berkumpul, tetangga pun masih banyak berbincang tentang kematian kakekku. Mereka sedikit heran, karena menurut mereka tidak ada tanda-tanda atau isyarat buruk dari kakekku, dan juga tidak pernah melihat kakekku jatuh sakit. Beberapa saat kemudian, ada sedikitnya 3 orang berpakaian dinas kepolisian dan beberapa orang memakai pakaian biasa memasuki pekarangan rumahku. Aku sangat kaget karena polisi itu bukan dari kalangan keluarga kami, dan juga setahuku kakek tidak pernah ada urusan kriminal ataupun melakukan pelanggaran hukum.

“Permisi mas, kami dari kepolisian ingin meminta informasi atas kematian Pak Wirja” salah satu dari mereka bertanya kepadaku.

“Ada apa dengan kakekku?”

Baca juga: Tikus dan Manusia – Cerpen Jakob Sumardjo (Kompas, 28 November 2010)

Tanya jawab pun berlangsung antara aku dan petugas polisi itu, Paman Darman ikut mendampingiku. Rasanya hal ini seperti tidak masuk akal, karena menurut keterangan polisi, tetanggaku ada yang melapor melihat kejanggalan kematian kakekku setelah meminum kopi kemudian meninggal dunia. Mungkin ada yang sengaja mencampur racun atau apapun kedalam gelas kopi kakek. Mak Ijah dan Pak Mimin juga dipanggil untuk dimintai keterangan, berdasar desas-desus di kalangan warga sekitar, beberapa cerita menjadi bumbu tak sedap dan menjadi rekayasa pikiran mereka. Ada yang beranggapan bahwa, kematian kakekku memang ada unsur kesengajaan untuk mendapatkan harta warisan kakekku. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Akupun membantah anggapan itu, karena aku juga meminum kopi bersama kakek, dan rasanya tak ada alibi untuk menyalahkan Mak Ijah, karena Mak Ijah sudah ikut bersama keluargaku sejak aku masih kecil. Kami pun sudah menganggap Mak Ijah dan Pak Mimin seperti keluarga sendiri. Rasanya, sangat tidak masuk akal untuk menuduh Mak Ijah atau Pak Mimin berbuat sejahat itu. Akhirnya polisi tidak mempunyai bukti kuat untuk menindak-lanjuti laporan itu. Akupun tidak tahu persis, siapa tetanggaku yang melaporkan kejadian ini pada polisi. Paman Darman berpesan, agar pihak keluargaku jangan mudah terpancing dengan sikap tetangga yang bisa menimbulkan fitnah. Lebih baik mengikhlaskan kepergian kakek dan selalu mendoakannya.

Suatu ketika, saat aku duduk termenung sendiri sempat melintas dalam benakku, kehidupan kakek begitu sederhana, tetapi harta kekayaannya cukup banyak. Beberapa rumah dan sawah di tempat lain yang kalau dihitung nilai nominalnya mungkin mencapai milyar. Ayah dan ibuku pun terbilang orang yang sangat mapan, tetapi begitu sibuk sehingga aku lebih memilih ikut kakek mulai dari kecil. Sampai saat ini, sejak kematian kakek belum ada dari pihak keluarga kami yang membahas tentang peninggalan harta kakek.

Tak terasa waktu beranjak begitu cepat, sudah sebulan lebih kepergian kakekku. Hari-hari kulalui penuh dengan rasa sepi, walaupun Mak Ijah dan Pak Mimin tetap setia bersamaku. Bapak dan Ibu hanya seminggu sekali datang menengokku dan mencukupi segala kebutuhan rumah dan keperluan hidupku. Ibuku adalah puteri tunggal dari kakekku. Mereka betul-betul telah hanyut dalam kesibukannya. Tetapi sampai saat ini kebiasaanku bersama kakek tetap kupertahankan, yaitu meminum kopi buatan Mak Ijah. Hanya saja yang membuatku sedikit heran, sejak kematian kakek, Paman Darman sangat sering berkunjung ke rumah, walau hanya sekedar menemaniku minum kopi. Kebiasaan ini tak pernah dilakukannya saat kakekku masih hidup. Paman Darman ini adalah adik bapakku yang paling bungsu. Sekilas muncul pertentangan bathin dalam pikiranku, ada sebuah prasangka yang tak pernah aku alami terhadap Paman Darman. Tetapi aku berusaha untuk menyangkal perasaan-perasaan aneh itu.

Baca juga: Hujan Darah – Cerpen M Taufan (Republika, 21 November 2010)

“Mas Panjul, ada sesuatu yang Mak Ijah ingin sampaikan” tiba-tiba Mak Ijah mengagetkan lamunanku.

“Iya…. Ada apa Mak Ijah? Katakan saja”

Aku betul-betul merasakan seperti ada sesuatu yang aneh dari gelagat bicara Mak Ijah. Sejurus kemudian Mak Ijah bercerita panjang lebar tetapi dengan bahasa yang sering terputus-putus. Termasuk, Mak Ijah sangat menyesali keteledorannya saat membuat kopi untukku dan kakek. Sendok yang digunakannya tidak dicuci dulu, khawatir sendok itu telah digunakan oleh orang lain sebelum menyeduh kopi. Mak Ijah sempat melihat ada sebuah botol kecil bertuliskan larutan sianida tidak jauh letaknya dari rak kopi dan gula. Katanya, Paman Darman yang meletakkannya disitu dengan alasan untuk campuran pupuk tanaman. Mak Ijah memang tidak mengerti, dia begitu polos. Tapi dalam logikaku, itu sangat sulit dibuktikan karena semua alat bukti itu pasti sudah dibersihkan, apalagi pada saat itu kondisi dalam keadaan ramai dan tidak ada prasangka buruk terhadap kematian kakek. Dan juga, aku tidak pernah melihat larutan sianida itu. Entahlah, kebenaran ini hanya akan menambah permasalahan panjang bila harus diusut. Toh, aku juga tidak pernah muntah-muntah setelah meminum kopi itu sebagai alibi pertama yang sering digunakan oleh para penyidik hukum.

Sambil terisak-isak, Mak Ijah memohon padaku biar aku memecatnya. Kutatap lekat matanya yang sembab seraya menggeleng-gelengkan kepala. Aku sangat yakin, Mak Ijah sama sekali tidak bersalah, dan bagaimana mungkin aku mengabaikan pengabdian dirinya terhadap keluargaku yang sudah berjalan puluhan tahun. Aku menolak permintaannya, dan terus menggeleng.

 

Catatan:

Siuman (bahasa jawa) = sadar

Semaput (bahasa jawa) = pingsan atau tak sadarkan diri