Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 21-22 September 2019)

Kejadian-kejadian di Meja Operasi ilustrasi Koran Tempow
Kejadian-kejadian di Meja Operasi ilustrasi Koran Tempo

Ada baiknya cerita ini tidak dibaca oleh perempuan muda, terutama perempuan muda dengan perut buncit dan jabang bayi di dalamnya. Karena hal-hal tertentu dalam cerita ini bisa membuat perempuan dengan keadaan demikian menjadi stres, yang membuat orok di dalam ingin mendesak keluar sebelum waktunya. Daripada terjebak dengan mukadimah yang bertele-tele, yang berpotensi membuat orang bosan, saya ceritakan saja apa yang terjadi di meja operasi dokter Agam. Namun sebelumnya kita harus sepakat bahwa dokter Agam adalah dokter ahli kandungan terbaik di Kota Samalanga pada waktu itu. Postur kurus berambut lurus bercampur warna kelabu tidak sedikit pun mengurangi kecakapan lelaki tersebut dalam mengeluarkan bayi dari perut ibunya; lewat jalan lahir maupun dengan cara operasi.

Saat itu di Rumah Sakit Umum Daerah hanya terdapat dua dokter ahli kandungan, dokter Agam dan dokter Narto yang didatangkan dari Jawa. Tapi di sini kita tidak akan membicarakan dokter Narto. Keluarganya yang tinggal di luar kota memaksa sang dokter untuk pulang ke Medan setiap hari libur. Hal itu membuat dokter Narto kurang populer di kalangan warga kota. Selain bertanggung jawab pada pekerjaannya, ada sesuatu dalam diri dr. Agam yang membuat orang-orang begitu menghormatinya. Tak berlebihan jika ada yang mulai membanding-bandingkan dr. Agam dengan Abu Tuman, ulama karismatik yang memiliki pesantren di pinggir Kota Samalanga. Di atas meja pendaftaran praktek dr. Agam yang beralamat di Jalan Pang Akob, sekitar 200 meter dari stadion bola, sang dokter menyediakan sebuah wadah untuk para pasien meletakkan uang biaya konsultasi, uang-uang yang dimasukkan dalam amplop putih tanpa ditentukan berapa besar nominalnya.

Namun sebuah kejadian pada tahun 1997 cukup mengejutkan publik Kota Samalanga. Saya bisa menceritakan perkara ini karena waktu itu saya masih siswa kejuruan kesehatan dan kebetulan menjadi salah seorang yang berada dalam ruang operasi; operasi sesar (saya agak bingung harus menulis operasi caesar atau sesar seperti yang terdapat dalam KBBI) yang kemudian menjadi bahan pembicaraan lebih dari separuh warga Samalanga. Hanya, nama saya tidak disebut-sebut karena pihak rumah sakit telah bersepakat untuk menutupi keberadaan saya di ruang operasi yang berlangsung pada pukul 12.00 WIB, tanggal 14 September itu.

Baca juga: Boston: Ketika Ponsel Berdering (Cerpen F. Ilham Satrio (Koran Tempo, 14-15 September 2019)

Seorang perempuan muda berpakaian hijau khas ruang operasi didorong masuk: ahli anestesi, satu orang perawat perempuan, satu orang perawat laki-laki, dan satu orang dokter umum sudah menunggu di ruangan dingin itu. Dokter Agam belum kelihatan, mungkin sedang mencuci tangan dan memasang sarung tangan steril dengan dibantu seorang perawat di ruang sebelah.

Sebelum saya lanjutkan cerita ini, ada baiknya saya gambarkan keadaan ruang operasi terlebih dahulu. Ruang operasi terletak terpisah dengan ruang perawatan lainnya. Di dalam gedung yang dikatakan ruang operasi itu sebenarnya terbagi dalam beberapa ruangan, yaitu sebuah ruang pemulihan pascaoperasi atau pra-operasi, yang dihubungkan oleh lorong sempit ke ruang pelaksanaan operasi, ruang desinfektan kecil juga disediakan di dekat ruang itu. Berjalan mengitari ruang tunggu, kita mendapati sebuah ruangan untuk mencuci dan mensterilkan instrumen yang dipakai untuk operasi serta ruang binatu untuk mencuci dan mensterilkan baju pasien, baju dokter, baju perawat, dan baju petugas anestesi. Tapi harus diingat, ini adalah kondisi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Samalanga pada 1997. Ketika mahasiswa belum berdemo di Ibu Kota yang menyebabkan runtuhnya sebuah rezim otoriter yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Kembali ke meja operasi, mereka memindahkan perempuan itu dari atas brankar ke atas meja operasi, ahli anestesi bersiap membius sang perempuan (waktu itu masih dilakukan bius umum yang menyebabkan pasien tidak sadar penuh, berbeda dengan bius pada saat ini, di mana sang ibu bisa melihat tangan dokter mengangkat bayinya, meski ada tabir kain yang menghalanginya untuk melihat orang-orang itu bekerja membelah perutnya). Petugas anestesi segera menyuntikkan obat bius melalui vena. Setelah perempuan muda itu kehilangan kesadarannya, perawat laki-laki yang bernama Dolah mulai menarik kain yang menutupi tubuh perempuan itu, payudara yang telah dipenuhi kelenjar air susu terlihat menantang di dada telanjang perempuan muda itu, perutnya seperti balon yang ingin meletus, sementara bulu-bulu kemaluannya telah dicukur di ruang perawatan. Tangan Dolah yang telah memakai handscoon mulai nakal mencolek payudara yang kencang dengan puting merah muda itu, yang diikuti candaan petugas anestesi. Sementara perawat perempuan menundukkan kepala dan mengingatkan Dolah agar berhenti mempermainkan payudara perempuan yang telah tidak sadar itu. Tangan Dolah baru diam setelah perawat perempuan mengancam akan mengadukan masalah itu ke istrinya.

Baca juga: Upacara Tabur Bunga (Cerpen Badrul Munir Chair (Koran Tempo, 07-08 September 2019)

Dokter Agam masuk ke dalam ruangan dan menanyakan kesiapan anggota tim. Sebagai seorang siswa, saya hanya diperbolehkan melihat jalannya operasi dari sudut ruangan dengan punggung terpaku pada dinding-dinding dingin sambil memegang pena dan sebuah notes untuk mencatat. Ibu muda itu, yang parasnya selalu saya ingat, terpaksa didorong ke ruang operasi karena cephalopelvic disproportio (ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu), dan itu penyebab yang umum operasi sesar demi menyelamatkan nyawa ibu dan janin. Dolah mulai memberi desinfektan pada bagian perut yang akan disayat, kemudian mereka menyelimuti tubuh ibu muda itu dengan duk besar dan duk kecil. Hanya bagian yang akan disayat dibiarkan terbuka.

Ini bukan operasi sesar pertama yang saya lihat, tapi saya merasa sedikit gugup, alam telah memberi tanda-tanda, mungkin saya saja yang gagal memahaminya. Saya mengira saya gugup karena melihat apa yang dilakukan Dolah pada payudara sang perempuan muda, meski ini juga bukan yang pertama kalinya saya lihat tangan lelaki itu menjadi kurang ajar dan memangsa bagian tubuh tertentu dari pasien yang tak berdaya di atas meja operasi. Saya tidak tahu, alasan apa yang membuat lelaki itu dipilih untuk menjadi perawat di ruang operasi. Mungkin tangannya juga terampil dalam banyak hal. Selain mencolek bagian tubuh yang menurutnya hanya keisengan semata, mungkin tangannya juga sangat terampil dalam menjahit luka dan mengikat pembuluh darah yang bisa saja terpotong dalam sebuah tindakan pembedahan.

Dengan bisturi, dr. Agam mulai membedah perut ibu itu, seperti ratusan kali telah dilakukan sebelumnya. Tapi yang saya lihat tidak seperti yang terjadi di ruangan itu. Ruangan itu serta-merta berubah, ubin lenyap menjadi tanah keras bertumpuk jerami. Seorang pria yang tadi saya lihat sebagai sosok dr. Agam sedang membelah perut seorang wanita menggunakan pisau dapur, bukan bisturi, tanpa alat bantu pernapasan, tanpa anestesi; seorang wanita yang terbujur kaku di atas meja kayu. Berbagai peralatan mengerikan lainnya, yang tidak saya kenal sebelumnya, berserakan di samping tubuh perempuan yang telah membeku itu. Baju laki-laki yang saya pikir dokter Agam tadi telah berubah kusam dan bersimbah darah yang keluar dari luka di perut si perempuan.

Lelaki yang lain terlihat menyumpah-nyumpah di dekat si ibu yang telah mati; bayi yang akan diambil dari perut ibunya itu akan disusui siapa. Selain itu, lelaki yang sepertinya ayah si bayi itu juga berkata, “Anakku akan menjadi penguasa dari barat hingga ke timur!” Saya bisa melihat rambut bayi itu bukan hitam seperti bayi Samalanga pada umumnya. Detik itu juga saya teringat pada ensiklopedia sejarah Bizantium-Yunani abad kesepuluh, The Suda. Tidak mungkin! Tidak mungkin saya sedang melihat proses kelahiran Julius Caesar, sang raja di atas raja. Anak yang dikeluarkan dengan membelah perut ibunya yang telah mati. Banyak yang menganggap mitos kejadian itu, tapi saat ini saya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan sampai saat ini saya belum sanggup menceritakan kembali proses pembedahan yang sangat mengerikan itu.

Baca juga: Sebuah Naskah Kehidupan Seorang Penulis (Cerpen Wawan Kurniawan (Koran Tempo, 31 Agustus – 01 September 2019)

“Tarik hak blass lebih kuat lagi, Dolah!” Suara dokter Agam telah mengembalikan saya pada tempat seharusnya saya berada. Tumpukan jerami telah menghilang. Lantai licin putih dan dingin muncul kembali, menggantikan laintai kotor tadi. Perawat yang bernama Dolah—yang menjadi asisten operasi—menarik perut yang sudah terbuka itu dengan hak blass (saya kebingungan menggambarkan alat ini, anggap saja mirip centong nasi yang gagangnya lebih lebar dan lebih panjang dari centong nasi pada umumnya, sementara ujungnya bengkok ke atas). Ujung yang bengkok itu dikaitkan pada luka operasi untuk dikuak ke bawah, supaya dokter bisa menemukan mulut rahim dan memudahkannya untuk menyayat dinding rahim dan terlihatlah rambut bayi. Sementara perawat perempuan mengarahkan ujung selang suction regulator ke bagian luka yang berdarah. Dan tugas saya nantinya yang akan membuang darah yang terkumpul dalam botol regulator dan mencuci sampai bersih; menjadi siswa di sekolah kejuruan kesehatan sama juga dengan melakukan hal-hal yang menjijikkan yang ditolak dilakukan sebagian besar orang.

Yang saya lihat di depan saya, sungguh bukan apa-apa dibanding apa yang dilakukan oleh lelaki yang saya pikir dokter Agam dalam penglihatan yang muncul begitu saja di depan saya tadi. Sebuah penglihatan yang membuat saya melewati beberapa fase pembedahan yang dilakukan sang dokter, yang seharusnya saya catat dalam buku catatan saya. Saya tidak tahu, apa karena penglihatan gaib itu, dokter terbaik di Samalanga juga melewati satu hal penting, hal penting yang membuat heboh publik Samalanga beberapa bulan setelah itu, atau saya saja yang berpikir ia telah melewati sesuatu dalam melakukan operasi kali ini.

Mereka telah membuka dinding rahim perempuan muda itu, seorang lelaki yang saya kenal sebagai dokter anak masuk. Dokter Agam menarik bayi yang ternyata berjenis kelamin perempuan itu—bayi yang tidak segera menangis—untuk diberikan kepada dokter anak yang baru masuk, yang segera menepuk-nepuk telapak kaki bayi; tak lama berselang bayi itu menjadi merah dan mulai menangis. Paras-paras di balik masker itu pun terlihat lega. Setelah tali pusatnya dipotong dan diberi tanda pengenal, dokter anak membawa bayi itu untuk diletakkan dalam inkubator. Kemudian mereka mulai menjahit kembali luka yang panjangnya 10 cm di perut si ibu, menjahitnya lapis demi lapis. Dan operasi dilaporkan telah berhasil dilakukan dengan sukses. Tubuh ibu itu kembali dinaikkan ke atas brankar dan didorong ke ruang pasca-operasi untuk dilihat perkembangannya sebentar.

Baca juga: Toko Kue dan Boneka Ibu Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 24-25 Agustus 2019)

Dokter Agam dan tim keluar dari kamar operasi, sementara saya harus melakukan tugas bersih-bersih bersama tiga orang siswa lainnya yang tadi menunggu di luar ruangan. Dokter dan tim yang telah sukses melakukan operasi biasanya duduk melingkar di meja makan yang berada di antara ruang cuci instrumen dan ruang tunggu. Mereka merayakan keberhasilan dengan makan gorengan atau makanan kecil lainnya dan minum kopi bersama. Mereka dan saya tak pernah menduga kalau tiga bulan kemudian seorang laki-laki yang mengaku suami perempuan muda yang dioperasi pada hari Minggu, 14 September 1997, itu akan mengamuk dan memaki-maki di tempat praktek dokter Agam.

Lelaki bernama Bransah itu menuduh sang dokter telah merusak istrinya. Setelah ditanyai lebih lanjut; ternyata begitu masa nifas istrinya berakhir, lelaki yang sudah lama hasratnya tak terpenuhi itu segera mendekati sang istri. Tapi betapa terkejutnya ia saat menyetubuhi istri, farji sang istri malah mengeluarkan air seni yang menetes-netes. Laki-laki itu menjadi jijik dan marah karena tidak bisa melampiaskan hasratnya. Dan dokter Agam dianggap satu-satunya orang yang bertanggung jawab akan hal itu. Tidak puas dengan mengamuk di tempat praktek dokter, lelaki itu mendatangi stadion bola di mana sebuah pertandingan sepak bola baru selesai; berteriak pada orang-orang yang bergerombol keluar stadion bahwa dokter Agam telah merusak istrinya. Orang-orang itu segera mendekat dan jatuh iba, dan hendak menuju praktek sang dokter kalau tidak dicegah oleh petugas keamanan yang mengawal pertandingan sepak bola. Aku mendengar cerita itu dari salah seorang perawat rumah sakit umum ketika harus bertugas di ruang obstetri.

Menurut dokter Agam yang dibenarkan oleh banyak dokter lainnya, hal itu terjadi bukan karena proses operasi, melainkan karena terlambat dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi. Bayi terus-menerus menekan panggul si ibu yang sempit hingga melubangi kandung kemihnya. Ahli lainnya mengatakan hal itu bisa juga terjadi karena kesalahan dokter yang melakukan operasi sesar meski kemungkinannya kecil. Masalah yang kemudian diselesaikan dengan jalan damai itu telah menarik perhatian media lokal, polisi, dan kejaksaan bahkan tokoh politik tertentu, tapi tak disebut-sebut seorang siswa Sekolah Kejuruan Kesehatan berada di ruang operasi pada tanggal 14 September 1997 itu. 

 

Ida Fitri, lahir di Bireuen, Aceh, pada 25 Agustus. Tulisannya pernah terbit di sejumlah media massa. Buku kumpulan cerpennya berjudul Air Mata Shakespeare (2016) dan Cemong (Basabasi, 2017)

Advertisements