Cerpen Priyo Handoko (Rakyat Sultra, 16 September 2019)

Segelas Air yang Mirip Perasan Lemon ilustrasi Istimewa
Segelas Air yang Mirip Perasan Lemon ilustrasi Istimewa

Aku sebenarnya malas untuk menceritakan kisah ini kepadamu. Kamu tidak akan percaya. Mungkin menganggapku tidak waras. Tetapi, bila tidak kuceritakan sekarang, pasti aku sudah gila pagi nanti. Menyusuri jalanan kota yang sibuk dan busuk ini tanpa busana.

Orang-orang yang berpapasan akan memandangiku dengan iba, lalu tak kuasa untuk tidak saling berkomentar. Bisik-bisik pun berseliweran seperti desau angin. Beberapa pria mungkin tak mampu menahan tetesan liurnya melihat tubuhku yang mulus. Tubuh yang selama ini rutin kurawat di salon kecantikan. Setidaknya dua kali dalam seminggu: lulur, massage, sauna. Dan, senam zumba hampir setiap hari.

Pastinya tubuh yang sedap dipandang ini belum menghitam terbakar matahari, kotor, juga bau seperti orang-orang gila lain yang mungkin pernah kamu lihat mempertontonkan kelaminnya. Berjalan ke sana ke mari dengan penuh percaya diri. Membuat kita mual.

Makanya, aku tidak punya pilihan lain. Meskipun sebenarnya aku sangat malas, biarlah aku ceritakan saja kisah ini kepadamu sekarang juga. Daripada pagi nanti aku benar-benar gila dan mondar-mandir sendirian di jalan tanpa busana. Sekarang, tarik kursi itu mendekat ke sini.

***

Mungkin ini rasanya menerima kabar bahagia dan kabar buruk sekaligus. Kabar buruk yang sangat mengerikan hingga memupuskan kabar gembira. Tak ada lagi ruang untuk menikmatinya. Yang tersisa hanya penyesalan dan ketakutan.

Dokter itu sempat hendak menunda memberitahuku. Dia meminta aku datang lagi besok dengan didampingi setidaknya seorang anggota keluarga. Tetapi, aku bersikukuh memintanya menyampaikan saat itu juga.

Dia tidak mau menyerah begitu saja. Membujukku agar pulang dulu hari itu dan kembali lagi nanti. Entah bersama suami, ayah, ibu, atau saudara. Semua tak kuhiraukan. Aku bergeming. Aku merasa siap untuk mendengarkan kabar buruk itu. Toh, masih ada kabar baik sebagai penawarnya. Begitu kira-kira pikiranku.

Setelah menarik beberapa kali napas panjang, dokter senior spesialis kandungan yang cukup populer di kotaku itu mulai berbicara. Ruangan praktik berdinding putih bersih ini sekarang terasa seperti lemari pendingin. Tubuhku beku.

Baca juga: Rantas Asa – Cerpen Musrida (Rakyat Sultra, 09 September 2019)

Beberapa belas menit kemudian, dengan anggukan kecil dan senyum tipis, aku beranjak dari kursi empuk berwarna coklat itu. Sembari memasukkan amplop berukuran besar berwarna coklat ke dalam tas, aku mengucapkan pamit. Tatapannya tampak prihatin. Dia memintaku untuk tidak buru-buru pergi. Bila ada yang perlu diceritakan, dia siap mendengarkan.

Aku hanya mengucapkan terima kasih. Melanjutkan niatku untuk segera keluar dari ruang praktiknya. Bahkan, sampai duduk di balik kemudi mobil, mataku tidak tergerak untuk meneteskan air mata. Semua rasa perih itu rasanya hanya berputar dan menggumpal di dada. Menumpuk begitu saja, terkunci, tak tahu jalan keluar.

Dalam perjalanan pulang, aku putuskan untuk mampir ke toko oleh-oleh langganan. Dari salah satu deretan rak, aku mengambil sekotak bandeng presto dan dua stoples kecil sambal terasi bergambar perempuan paruh baya berkonde. Membayarnya di kasir, lalu balik ke mobil.

Dari sana aku mampir sebentar di toko Afeng. Toko kelontong itu berada hanya beberapa ratus meter menjelang gerbang perumahanku. “Beli racun tikus bubuk,” kataku. Perempuan muda dengan kerudung hijau yang melayaniku itu langsung mengambilkan barang yang kuminta tanpa banyak tanya. Dia memasukkan semuanya ke kresek plastik berwarna biru.

***

Meja makan tertata rapi. Bandeng presto yang kubeli siang tadi sudah terpotong-potong dan digoreng. Asap tipis masih mengepul. Persis di sebelahnya, tutup stoples sambal terasi bergambar perempuan paruh baya berkonde pun sudah terbuka.

Tak lupa aku menyiapkan segelas besar air putih. Warnanya sedikit keruh. Hanya aku yang tahu bahwa bubuk racun tikus telah larut di dalamnya. Cuma dua bungkus. Aku pikir sudah cukup. Bila air di gelas itu ludas, aku akan mengisinya lagi dan melarutkan sisanya.

Aku pandangi gelas itu dalam-dalam. Mirip seperti air perasan lemon. Rasa marah, penyesalan, dan putus asa menjejaliku. Membuat dadaku terasa panas. Kelihatannya memang hanya isi gelas berukuran jumbo itu yang mampu memadamkannya.

Entah apa yang terjadi selanjutnya. Aku tak begitu ingat detailnya. Namun, begitu membuka mata, aku langsung tahu rencanaku gagal total. Kulihat suamiku, kedua mertuaku, dan kedua saudara iparku. Seorang pria lain dan perempuan, mereka mengenakan jas dan pakaian serba putih, berdiri persis di sebelah kanan dan kiriku. Dokter dan perawat. Rupanya mereka masih sempat melarikanku ke rumah sakit. Beberapa jarum infus kini menancap di tangan kanan dan kiriku.

Baca juga: Ustaz Abidin dan Corong Masjid – Cerpen Yudik W (Rakyat Sultra, 26 Agustus 2019)

Mataku beradu pandang lagi dengan suamiku. Aku terus menatapnya. Semakin jauh menyelaminya. Entahlah, sama sekali tak ada rasa takut, apalagi penyesalan. Aku bahkan bisa merasakan getir tersembunyi di balik matanya yang kalut. Kami terus saling pandang dalam diam.

***

Berjam-jam kemudian, akhirnya tinggal suamiku. Yang lain sudah pulang. Kami berkali-kali saling pandang. Belum ada yang mau memulai. Dengung AC terdengar keras. Lama-lama terasa mengganggu. Aku sadar pada akhirnya dia harus tahu.

Tepat ketika dia menarik kursi dan menggesernya lebih rapat dengan tempat tidurku, seekor cecak tergelincir, lalu jatuh ke dalam gelas minumku di atas meja. Aku terkejut. Suamiku hanya melirik. Membiarkan cecak itu berusaha menyelematkan diri. Memanjat dinding gelas lalu menghilang di balik lemari.

“Aku akan menceritakannya meski aku sebenarnya malas sekali untuk menyampaikannya. Mungkin kamu akan marah. Mungkin kamu akan mencekik leherku dengan tanganmu yang kekar itu. Tak masalah, karena aku memang ingin mati.”

Dia masih terdiam. Hanya tatapan matanya yang berbicara. Aku tahu dia menungguku mengalirkan kisah yang aku pendam.

“Pagi tadi aku bertemu dokter kandungan. Dokter bilang aku hamil,” ujarku memecah keheningan.

Suamiku seperti hendak meloncat dari kursi. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat bahagia. Tetapi, dia buru-buru sadar. Informasi ini belum utuh. Ada hal lain, sesuatu yang sangat mengerikan yang belum kusampaikan. Sebegitu menakutkan, hingga mendorong istrinya ini mencoba mengakhiri hidup.

“Aku juga menerima laporan laboratorium. Ini suratnya, silakan baca sendiri.” Beberapa saat sebelumnya, aku memang sudah meminta agar supirku mengambilkan tasku di rumah.

Usai mengatakan semua itu, aku sempat heran. Kagum dengan diriku sendiri. Tidak menyangka aku bisa menyampaikannya dengan begitu lancar. Tidak terdengar suara bergetar atau tangis tersedu-sedu.

Aku masih menatap suamiku. Mulutnya sedikit melongo. Wajahnya tampak shock. Kutunggu responsnya. Apakah dia akan memakiku lalu menempelengku seperti biasa. Atau, langsung mencekik leherku.

Baca juga: Nenek Pakande – Cerpen Nur Inayah Syar (Rakyat Sultra, 19 Agustus 2019)

Dia memang ringan tangan. Mungkin karena kecewa. Lima tahun menikah dan tak ada tanda-tanda kehamilan. Tetapi, kini aku hamil. Sekaligus positif mengidap virus celaka yang merusak sistem kekebalan tubuh itu. Belum ada obatnya. Benar-benar kebetulan yang luar biasa. Siapa yang mengira. Kabar baik dan buruk datang beriringan dengan begitu akurnya.

Aku masih meraba-raba sumber virus sialan ini. Dari suamiku yang sejak tiga tahun belakangan kuketahui tak bisa menjaga kelaminnya. Atau, dari seorang pria, sahabat masa remajaku, yang diam-diam kubiarkan memasuki diriku. Sebab, dengan itu aku merasa lebih dihargai. “Aku belajar darimu bagaimana menjadi orang yang tak bisa menjaga kelaminnya.”

Beberapa detik kemudian, suamiku membuka pintu kamar dengan kasar. Wajahnya pucat. Aku yakin dia akan segera memeriksakan dirinya. Tenggorokanku kini terasa kering. Aku menoleh ke sebelah, mengambil botol air mineral dan langsung menenggaknya. Setelah keluar dari rumah sakit, aku berjanji akan mampir ke toko Afeng lagi. (*)

 

Priyo Handoko, lahir di Dabo Singkep, 1 Mei 1982. Jurnalis/redaktur koran Jawa Pos (2006-2018). Aktif menulis cerpen, puisi, dan artikel opini yang termuat di media cetak dan online, lokal dan nasional. Memiliki sejumlah prestasi dalam bidang kepenulisan tingkat nasional. Saat ini ia menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya.

Advertisements