Cerpen Yudhi Herwibowo (Tribun Jabar, 15 September 2019)

Tunas Ibu ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Tunas Ibu ilustrasi Tribun Jabar

Bagi bocah-bocah di sini, Tunas Ibu adalah segalanya. Bila mereka bisa mencuri waktu, hal pertama yang akan mereka lakukan adalah berlari ke dalam hutan dan mencari tunas itu. Tapi tentu itu tak mudah, bahkan sebenarnya nyaris tak pernah ada yang menemukannya. Tak heran, bila kisah tentang bocah-bocah yang dulu pernah menemukan tunas itu, terus diceritakan berulang-ulang sampai sekarang.

Aku sendiri tak pernah tahu di mana tempat ini sebenarnya. Aku tiba di sini seperti tanpa menyadarinya. Yang kutahu, seorang perempuan separuh baya –yang senyumnya mengingatkanku pada senyum ibu– memberiku makanan dan menawariku, apakah aku mau diantarnya pergi ke sebuah tempat di mana aku bisa makan secara teratur? Tentu saja aku mau. Maka dengan menggandeng tangannya, kuikuti ke mana pun ia melangkah. Dari situlah perjalananku akhirnya menuju tempat ini.

Yang kudapati di sini hanyalah perkampungan kumuh yang begitu terpencil. Kondisinya jauh lebih kumuh dari tempatku sebelumnya, yang ada di bantaran kali dan jelas-jelas bersebelahan dengan sungai berbau apek. Di sini bau aneh terasa menyengat. Sungai kecil di dekatnya berwarna hitam pekat. Dan di mana mata memandang, hanya terlihat tumpukan barang-barang bekas yang menggunung. Kelak aku tahu, itu adalah tumpukan barang elektronik yang sudah tak lagi terpakai.

Sejak itulah bersama hampir 40 bocah kecil seusiaku, aku harus memilih-milih sesuatu di antara tumpukan-tumpukan itu. Kadang aku harus mengumpulkan sesuatu yang bulat dan hitam, kadang aku harus mencari yang panjang dan putih, atau apa pun sesuai keinginan penjaga. Barang-barang itulah yang nantinya kami setor pada mereka.

Tentu di hari pertama di sini, aku hanya bisa menangis. Aku meraung-raung tanpa henti, berteriak ingin pulang. Kucakar penjaga bertubuh besar itu, hingga ia harus menempelengku beberapa kali. “Kalau kau terus menangis, kami tak akan memberimu makan! Membusuklah kau di sini!” serunya marah.

Lalu salah satu bocah seumuranku –yang kelak kutahu bernama Agge– mendekatiku. “Tak perlu cengeng!” ujarnya setengah membentak. “Semua sudah terjadi. Kau tak bisa ke mana-mana lagi. Jalani hidupmu, seperti kami semua di sini!”

***

Advertisements