Cerpen Sasti Gotama (Fajar, 15 September 2019)

Semusim ilustrasi Fajarw.jpg
Semusim ilustrasi Fajar

Kau bilang akan menunggu. Kuharap, kau tetap menunggu. Aku hampir tiba.  Malam ini, tepat semusim kita bersama. Kotamu  sepi. Gerimis. Di bawah titik hujan, beberapa mobil tetap lalu lalang dan motor-motor menepi. Sebagaimana mobil yang lain, aku tetap melaju. Menujumu.

Aplikasi penunjuk jalan ini benarbenar sialan. Aku tersesat ke jalanan pinggir Karawang. Pikiranku sedang melayang ketika tiba-tiba seekor anjing liar melintas jalan. Beberapa perempuan berbaju seksi di tepian kali memekik. Anjing itu terkejut. Aku juga. Entah siapa yang paling terkejut. Yang jelas, aku  sigap menginjak rem tepat waktu. Anjing itu selamat dan melenggang. Tapi tidak denganku. Kepalaku terbentur setir.  Harusnya aku tak lupa memakai sabuk pengaman. Syukurnya, tak apaapa. Hanya pusing sedikit. Tak nyeri. Lebih nyeri hatiku.

Malam ini, sesuai yang kita sepakati, aku akan menjemputmu.

“Jangan terlambat.” Kau berpesan tadi siang melalui telepon.

Aku mengangguk, walau kuyakin kau tak melihatnya. Tapi seperti yang kita yakini bersama, apa yang kulakukan kau selalu tahu. Telepati, katamu. Menurutku, itu telehati.

“Karena hati kita terpaut. Jika kau bersedih, aku bisa merasakan walau jauh. Kau ingat, saat kau sakit kemarin, aku kebingungan sepanjang hari. Kutelepon tapi kau tak mengangkat. Hampir saja kupesankan ambulans untuk memeriksa keadaanmu di rumah,” katamu sambil merengut.  Padahal aku tak melihat raut wajahmu. Tapi segera terbayang  bibirmu membentuk kerucut.

“Jika kau seperti itu, kau mirip mujair.”

“Nggak, ah. Aku tampak menggemaskan.” Dan aku tergelak.

Ini kali pertama aku tiba di kotamu. Jarak terdekat antara kita. Bagiku, kau menjelma menjadi udara yang masuk ke dalam paru-paruku, merasuki setiap alveoli. Tapi paling tidak, menghirup udara berpolusi yang sama, sudah membuatku bahagia.

Aplikasi ini benar-benar menyebalkan. Ia mengarahkanku ke jalan sepi. Di sebelah kiri ada sungai besar. Permukaan airnya tampak tenang karena gerimis sudah menghilang.  Di gelap malam, tampak begitu hitam. Mungkin segelap mata kita.

“Apakah kau tak akan menyesal,” tanyaku tadi siang. Lewat telepon, tentu saja.

Advertisements