Cerpen Selo Lamatapo (Media Indonesia, 15 September 2019)

Penggali Sumur yang Ingin Pensiun ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Penggali Sumur yang Ingin Pensiun ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

DARI daun jendela yang terbuka, aku melihat Om Banus berdiri sendirian di sumur. Kedua lengannya yang kekar menekan bibir sumur. Kepalanya ditundukkan seperti sedang melihat sesuatu dalam sumur yang memikat matanya. Dalam bentangan jarak itu, aku melihat ia tercenung tanpa peduli angin sore yang menyapu-nyapu rambut ikalnya.

Kami mengenalnya sebagai lelaki penggali sumur. Ibu pernah bercerita bahwa sumur di tengah kampung kami ialah sumur pertama yang digali Om Banus. Ia tergerak menggali sumur karena orang-orang kampung hanya menaruh harapan dari curah hujan. Om Banus berhasil menggali sumur itu dengan kedalaman mencapai 16 meter. Warga membantu Om Banus membuatkan dinding sumur dengan batu bata.

Keberadaan sumur yang terbuka menghadap langit itu tidak hanya memperpanjang hidup kami di musim kemarau, tetapi juga menumbuhkan cinta, persaudaraan, keakraban, dan kebersamaan warga di kampung kami. Di sumur itu, kami menunggu giliran sambil bercerita, melepas penat kerja seharian, dan bergurau dalam suasana penuh keakraban. Siapa pun yang datang ke sumur itu pasti menemukan cinta yang bahagia dan menyaksikan persatuan himpunan manusia yang tak membedakan suku, agama, dan ras di kolong langit ini.

Ketika jumlah penduduk bertambah, kampung kami dibagi menjadi empat dusun. Warga dibagi merata ke dalam empat dusun itu. Om Banus diminta menggali lagi tiga sumur. Satu untuk dusun satu, satu untuk dusun tiga, dan satu untuk dusun empat. Sumur pertama ada di dusun dua, di tengah-tengah kampung. Semua itu berlangsung dalam keputusan bersama di bawah pimpinan kepala desa.

Kini, warga mulai menimba air sumur di dusunnya masing-masing. Tetap ada kegembiraan, kebersamaan, dan cinta. Namun, tidak lagi dalam jumlah banyak. Belakangan, beberapa warga merasa perlu memiliki sumur di pekarangan rumah mereka sendiri. Alhasil, mereka mendatangi dan meminta Om Banus menggali sumur bagi mereka. Lelaki itu telah menggali empat sumur lagi untuk memenuhi permintaan warga. Sejak itu, suasana di setiap sumur berubah total. Orang-orang mulai berkurang. Tidak ada lagi gelak tawa warga atas ulah Om Lamber yang kerap melawak sambil menunggu giliran. Tidak terdengar lagi kemarahan Om Tonis yang mengundang tawa, Nenek Maria bersama anjing jantan yang selalu mengikutinya, Tante Vero yang selalu membawa ember berukuran lebih besar dari tubuhnya, nyanyian orang tua dan orang muda dari gambus yang dipetik Om Leo, dan tiada lagi teriakan anak-anak kecil yang berlarian serta kejar-kejaran menunggu ibu dan bapak mereka menimba air. Kegembiraan-kegembiraan yang pernah tercipta itu bergantung bagai embun lalu menghilang seperti tak memiliki masa lalu.

Advertisements