Cerpen Hendy Pratama (Denpost, 15 September 2019)

Orang Buta Melukis Tuhan ilustrasi Denpostw.jpg
Orang Buta Melukis Tuhan ilustrasi Denpost

TANGANNYA masih menari-nari di atas selembar kanvas. Ia tak tahu, sampai kapan akan berhenti memainkan kuas. Warna merah dan biru melebur jadi satu, ditambah sedikit polesan warna hijau di samping kanan. Tak cukup dengan tiga warna, ia mencelupkan ujung kuas ke dalam tinta warna kuning, lalu melumuri kanvas sedikit demi sedikit. Sesekali, ia merenggangkan otot tangan, sebelum meneruskan lukisan yang belum ia rampungkan selama seratus tahun.

Orang-orang yang melalui jalan berliku dekat gereja akan berhenti. Mereka akan turun dari kendaraan untuk sekadar melihat lukisan itu. Sebuah lukisan yang aneh, yang dilukis oleh orang tua dengan jenggot yang menjuntai di pinggiran jalan. Sesekali, orang-orang yang terheran akan bertanya. Satu pertanyaan yang sudah seratus kali lebih diucapkan, “Kakek sedang melukis apa?”

Si Kakek kemudian akan menjawab. Sebuah jawaban yang telah seratus kali pula diucapkan, “Aku sedang melukis Tuhan.”

Lalu, beberapa orang yang mendengar jawabannya sesegera menjauh. Berhamburan seperti semut yang hendak diinjak oleh sekawanan gajah. Mereka akan mengambil kendaraannya masing-masing. Menyalakan mesin, lalu bergegas sambil mengumpat dalam hati, “Ateo basico!”

Tak jarang, sebagian dari mereka memukul kepala Kakek itu dengan sekaleng minuman soda, atau menimpuknya dengan seikat sawi—biasanya ibu-ibu. Pernah juga, suatu ketika, seorang pastur sedang menceramahinya dengan tangan kanan menunjuk langit serta mulut yang merapalkan isi Alkitab. “Karena Tuhan bukan untuk dilukis,” katanya. Namun, Si Kakek tetap bersikukuh melukis Tuhan dan tetap berniat merampungkan lukisannya meski ia sendiri tak tahu; kapan lukisan itu bakal rampung?

Anehnya, kebanyakan dari mereka—yang memandang lukisan tersebut—akan merasakan getaran yang mendalam dari dalam hatinya. Suatu waktu, seorang pemuda bernama Raymon pernah bertanya, “Kek, selain disebut sebagai ateis, pernah tidak, ada seseorang yang terenyuh setelah memandang lukisan ini?”

“Pernah,” ucap pelukis tua itu.

Baca juga: Boneka Kedua – Cerpen AS Noor (Denpost, 12 Mei 2019)

Raymon memandang raut muka Kakek tersebut. Ia merasa, ada sesuatu memancar dari sana. Meskipun sering dihina dan dicaci sebagai ateis, Raymon yakin, pelukis tua itu tak pernah berhobong walau hanya sekalimat pun. Wajahnya seperti pusaran air misterius di samudra yang membentang jauh, dan matanya seperti black hole yang menjadi salah satu sumber ketakutan terbesar bagi orangorang sejagat.

“Kek Pablo,” panggil Raymon—setelah sebelumnya, Kakek itu memperkenalkan diri dengan nama Pablo Picasso. “Seperti apa ekspresi orang-orang terenyuh itu?”

Pablo Picasso—pelukis tua itu, berhenti sejenak melukis. Ia menatap Raymon di samping kanannya yang duduk dengan beralaskan sepatu dan tatapan miring. Pablo melepas kacamatanya, dan seketika itu, Raymon terhenyak.

“Ka-kek b-buta?” tanya Raymon, tertatih.

“Lalu, bagaimana Kek Pablo melukis jika melihat saja, maaf, tak dapat?” Raymon menambahkan. Rasa ingin tahunya begitu besar, meskipun setelahnya, dengan kepala menunduk, Raymon merasa bersalah selepas kalimat tanya itu keluar dari mulutnya.

“Apakah kau tahu? Kebanyakan orang menikmati dunia melalui mata. Orang-orang mengutukku sebagai calon penghuni Jahanam melalui penglihatan mereka. Namun, masih ada sebagian orang yang terenyuh setelah memandang lukisan ini. Mereka telah memahami betapa dunia begitu gelap. Orang-orang urban, berseliwaran ke sanakemari dengan beralaskan pantofel, berbaju rapi, dan berambut klimis menumpang kuda besi. Kehidupan yang mereka jalani begitu teratur seperti lintasan jagat raya.

“Matahari menjadi pusat pemberhalaan planetplanet. Bumi mengelilingi matahari selama bertahun-tahun. Ia tak pernah tahu, kapan waktunya berhenti. Tak ubahnya seperti manusia yang tak pernah tahu, sampai kapan mereka akan terus bergerak dan bernapas. Aku pula juga tak pernah tahu, sampai kapan Tuhan bakal selesai kulukis.”

Raymon mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Kemudian, mengusap sekujur wajahnya hingga bersih tanpa peluh yang tersisa.

Matahari mulai condong ke barat. Orang-orang urban berangsur-angsur tenggelam. Jalanan berubah lengang. Hanya sebagian kendaraan yang melintas. Sesekali, klakson sahut-menyahut saat lampu merah berganti hijau. Kemacetan sering bersarang di perempatan jalan yang sempit itu. Tak jarang, adu mulut kerap terjadi.

Baca juga: Suci Penuh Debu – Cerpen Komala Sutha (Denpost, 16 Juni 2019)

Satu jam berselang. Mata Raymon menjurus pada seorang lelaki yang menuntun anaknya. Dua orang itu sedang menyeberang gereja di malam Natal ini. Mereka celingukan, menanti jalanan sepi, sebelum akhirnya memotong jalan lurus dan membuka pintu gereja.

“Dua orang itu sedang berdoa,” sahut Pablo dengan mata yang masih bersauh pada selembar kanvas—pandangannya agak miring ke kiri, tidak tepat di tengah lukisan. “Kau tahu? Lelaki yang menuntun anaknya itu baru saja bercerai dengan istrinya.”

“Dari mana Kakek tahu?”

“Dari Tuhan,” jawabnya, santai.

Lonceng gereja berdenting nyaring. Tak seorang pun tahu, mengapa lonceng dibunyikan saat malam masih seperti bocah ingusan. Hanya pelukis tua yang mengerti, bahwa Tuhan telah datang di tengah keheningan gereja tersebut, di mana para Kristiani bermandi air mata dengan mulut yang berirama lembut. Seperti merapalkan sesuatu, memohon suatu kebahagiaan bagi mereka.

“Abaikan dua orang yang sedang berdoa itu. Aku ingin sejenak meneguk air putih. Kau membawanya?” Kek Pablo menatap Raymon dengan tatapan yang tak sempurna menjurus ke arahnya—agak miring ke kiri seperti menatap tiang lampu.

Setelah air putih itu terjun ke lambungnya, Kek Pablo kembali meng-ambil kuas dan melukis. Seperti apa lukisannya itu? Bagaimana ia melukis Tuhan? Atau, lebih tepatnya, seperti apa wujud Tuhan yang ia lukis?

***

KOTA Basque teramat panas. Matahari seolah tembus pandang dari lapisan pelindung terluar kulit bumi. Orang-orang urban seolah lupa dengan peperangan yang pecah di antara bangunanbangunan berbaris yang menjulang. Pablo, kembali meneguk air putih milik Raymon. Pada jari-jarinya, ia memegang erat sebotol air mineral itu. Menutupnya, lalu memberikannya ke pemuda awam di sampingnya.

Baca juga: Alenia dan Ikan-ikan di Akuarium – Cerpen Haryo Pamungkas (Denpost, 23 Juni 2019)

“Apa kau masih ingat, hujan yang mengguyur Basque?” tanya Picasso.

“Selama beberapa periode, Basque selalu dilanda hujan, Kek. La temporada de lluvias siempre inundaba todas las ciudades del mundo,” jelas Raymon.

“Basque pernah dilanda hujan yang cukup deras. Orang-orang urban pasti telah lupa, bahwa saat itu, kesedihan seperti turun dari langit. Jalanan berhias cairan merah yang baunya anyir.” Kek Pablo kembali menghentikan tarian tangannya. “Aku kenal baik dengan Francisco Franco dan Manuel Azana. Mereka sahabat baik, meski kerap berseberangan serupa dua lelaki yang memotong jalan demi membuka pintu gereja barusan. Kau harus tahu, aku buta sejak Basque dilanda hujan yang teramat menyedihkan.”

“Dan Kakek melukis Tuhan sejak tahun purba itu?” Raymon menghabiskan seluruh jatah air mineralnya.

“Tepat.”

“Bahkan, aku merasa, saat itu Tuhan telah mati di antara pelor yang saling menghunjam seperti sebuah festival memburu domba,” imbuh Pablo dengan nada yang makin lemah.

Raymon memerhatikan Pablo dengan saksama.

“Orang-orang urban telah terpana dengan lukisan Guernica milikku. Sebab, aku memang sengaja mengingatkan mereka pada tragedi perang saudara di tanah Spanyol ini. Tetapi, pasca bendera putih berkibar, orang-orang urban mulai memerangi diri mereka masing-masing, hingga aku memutuskan untuk melukis Tuhan.

“Dalam kubisme yang kuanut sejak Josse Ruiz Blasco mengembuskan napas terakhirnya. Sampai saat ini, pola-pola yang kubangun berbentuk siku-siku dan saling berhimpitan. Ehm, Tuhan bersemayam di sana.”

“Tunggu!” Raymon beringsut, berdiri dan menatap lukisan itu dalam-dalam. “Kakek bilang sedang melukis Tuhan, tapi mengapa aku tak dapat melihat wujud Tuhan dalam lukisan ini?”

Baca juga: Darah Daging – Cerpen Anggoro Kasih (Denpost, 30 Juni 2019)

Jalanan kembali padat oleh lalu lintas. Suara klakson terdengar makin riuh. Jam besar yang terpampang di tugu pemecah perempatan menunjuk pukul tujuh malam. Aktivitas orang-orang urban kembali pulih.

“Aku melukis sesuatu yang kuketahui; Basque, atau suara pelor yang memekakkan telinga sampai ke jantung, orang-orang yang larut dalam kesibukan, hingga diriku yang penuh dengan kesunyiaan. Tetapi, kali ini, aku melukis berdasarkan dengan apa yang tak kuketahui; Tuhan.

“Tuhan memang tak suka dilukis. Aku sengaja melukisnya hanya untuk mengingatkan tentang sesuatu yang tak pernah kita lihat, namun ada—”

Pablo berhenti berucap.

Hiruk pikuk kota senyap seketika orang tua berjenggot putih itu kejang-kejang. Beberapa orang berduyun-duyun mendatanginya. Raymon, ia seperti orang linglung—menatap Pablo yang sedang mendekati ajalnya. Sembari memegang tubuh ringkih Pelukis Tua, Raymon berseru, “Ayudarlo!”

“Selamatkan nyawa Kakek ini!”

Di bawah bulan pucat, orang-orang urban tak pernah menyangka—sekalipun Raymon—ajal akan datang semengejutkan ini.

Basque tampak seperti lautan manusia yang menapak pada satu titik, melingkar di tengah Pablo dan Raymon yang membeku. Jalanan kian macet. Sebab, orang-orang memutuskan untuk melihat keriuhan yang melanda sudut perempatan jalan. Sebuah kanvas yang ditumpu oleh kaki-kaki kayu itu terpelanting. Menampakkan sebuah lukisan abstrak, seperti gambar awan berwarna legam. ***

 

Madiun, Januari 2019

Hendy Pratama lahir dan bermukim di Madiun. Sedang menyiapkan sebuah naskah buku kumpulan cerpen yang rencananya akan terbit tahun ini.

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/users/amurca

Advertisements