Cerpen Fachrul Rozi (Analisa, 15 September 2019)

Mak Yat ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Mak Yat ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Kokok ayam bersahut pelan-pelan memecah aroma subuh. Satu-satu embun jatuh membasahi kelopak bunga dan atap-atap rumah. Pagi itu suasana masih terasa begitu dingin. Sisa hujan lebat tadi malam memberikan gigil teramat sangat di bulu kuduk. Kampung Dusun masih terlihat begitu sunyi. Jalanan lengang. Warga kampung lebih memilih menarik selimut dibandingkan menyeduh segelas kopi ketika pagi membawa suasana menyerupai kutub.

Berbeda dengan Mak Yat, begitulah dia biasa dipanggil. Sejak pagi-pagi sekali sepasang kakinya sudah menapaki jalan setapak menuju sebuah sumur sambil memikul ember penuh pakaian. Tajam sorot mata Mak Yat menyibak kabut di sepanjang jalan. Sesekali dia tampak meraba pelan pundaknya yang lebam. Seorang perempuan, – yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri, Ratih membututi sambil membawa tempat sabun dan beberapa deterjen.

“Emak tidak kenapa?” Tertatih Ratih menyusul kemudian menggandeng tangan Mak Yat ketika dia melihat ibunya itu memasang wajah meringis setelah meraba pundak.

“Tidak apa-apa.”

“Emak yakin?”

Mak Yat tidak menjawab. Mulutnya bungkam. Sorot matanya semakin tajam menyibak kabut di sepanjang jalan. Seperti ada sesak dalam jantung yang membuat Mak Yat diam beribu bahasa. Dia berpikir masih terlalu belia Ratih untuk mengerti soal keadaan rumit yang terus menindih  hidupnya.

Setelah beberapa menit menapaki jalan setapak, Mak Yat dan Ratih sampai di sebuah sumur tua. Sumur itu adalah satu-satunya sumber air di Kampung Dusun. Mak Yat menurunkan ember yang dipikul kemudian memilah-milah pakaian yang berada di dalamnya. Ratih sibuk mengambil air dari sumur dengan sebuah timba.

Ketika sedang memilah pakaian, kepalan tangan Mak Yat terhenti pada sebuah kemeja. Dia terhenyak. Jantungnya seperti meronta-ronta. Menjerit-jerit dalam diam. Perlahan air matanya merembes. Di hadapannya tergambar jelas bekas bibir berwarna merah yang terletak di leher kemeja. Suasana membiru-kelabu. Semakin lama riak air mata Mak Yat semakin deras mengaluri garis wajah.

Advertisements