Cerpen Zainul Muttaqin (Padang Ekspres, 15 September 2019)

Anak Saya Ingin Menjadi Nabi ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Anak Saya Ingin Menjadi Nabi ilustrasi Orta/Padang Ekspres

MENJELANG adzan Isya saya baru muncul di rumah. Tergesa-gesa saya mengangkat kaki, langsung menerobos masuk diantara kerumunan orang-orang yang sedang berdiri di depan kamar anak saya. Mereka memberi saya jalan, seraya melihat dengan mengerutkan kening, dan saya dengar bisik-bisik mereka, serupa suara lalat, “Kemana saja si Maksan, kok baru muncul ya?” Saya lihat beberapa orang mengangkat kedua bahunya setelah pertanyaan macam itu muncul dari sebagian orang.

Tubuh anak saya dibaringkan di atas ranjang, kulit di sekujur tubuhnya mengelupas. Saya masih berdiri tidak percaya, dalam getar tubuh yang tak karuan saya menangis, “Ibrahim sudah meninggal?”

“Tidak bang,” kata Maisaroh, istri saya itu menjawab dengan suara yang nyaris tak dapat saya dengar.

Setelah saya lihat gerak bibir Ibrahim barulah tangis saya reda. Ia berusaha memanggil saya, terdengar lirih, terbata-bata suaranya, “Bapak.” Saat ia memanggil nama itu, tanpa bisa mengurangi debar-debar keharuan saya menangis lagi. Bagaimana tidak. Ia anak yang jauh dengan saya, memilih dekat dengan ibunya dengan alasan ibunya lebih mengerti apa yang diinginkan Ibrahim.

Sejak matahari muncul hingga tenggelam di ujung barat saya berada di tengah laut, bertarung dengan beringasnya ombak demi menghidupi anak-bini, selain itu saya juga memang jarang bercanda gurau dengan Ibrahim bahkan bisa dibilang saya keras terhadap anak sendiri. Itulah mengapa Ibrahim jarang sekali memanggil Bapak pada saya.

“Kenapa Ibrahim bisa terbakar seperti ini?” Saya bertanya pada Maisaroh. Ia diam untuk beberapa saat. Air matanya menitik, jatuh di pangkuannya. Ibrahim mengedipkan mata pada Maisaroh, sebuah isyarat agar Maisaroh menceritakan apa adanya tanpa perlu takut saya akan marah.

“Ibrahim…” Saya mendengar suara istri saya itu terputus, seakan tak mampu mengisahkan apa yang sesungguhnya telah terjadi pada Ibrahim. Sekilas saya lihat tubuh Ibrahim dibalut daun semak yang sudah ditumbuk sebagai obat luar. Saya tahu Ibrahim sedang menahan sakit yang teramat di sekujur tubuhnya. Hanya saja ia tidak menunjukkan rasa sakit itu pada saya, seakan ia mau bilang, “Saya anak lelaki, saya kuat.”

Baca juga: Aida – Cerpen Hary B Kori’un (Padang Ekspres, 08 September 2019)

Tak berapa lama kemudian istri saya itu bercerita awal mula Ibrahim masuk ke dalam api. Setelah magrib, Ibrahim pamit mengaji di langgar Kiaji Dulla sebagaimana biasanya. Mestinya Ibrahim selalu saya antar menuju langgar itu, hanya saja barusan saya harus ke rumah Masrakib sehingga Ibrahim berjalan sendirian menuju langgar, dengan jarak tempuh tak terlalu jauh, lima menit berjalan kaki sudah sampai di langgar Kiaji Dullah, satu-satunya Kiaji di kampung Tang-Batang.

Belum ada seorang pun yang menjemput anakanaknya di langgar Kiaji Suappak setelah isya berkumandang sepuluh menit yang lalu. Mereka bermain di belakang langggar, mereka mengumpulkan kayu dibentuk seperti sebuah bukit, dibawahnya ditabur dedaunan kering. Setelah itu mereka membakarnya hingga api itu terjulur-julur ke atas, girang sekali anakanak itu melihatnya.

“Kira-kira kalau masuk ke dalam api itu, terbakar gak ya?” Celetuk Jabbar sambil menepuk pundak Ibrahim.

“Pasti terbakar, emangnya kau sakti?” jawab Hamdi seraya melempar tanya. Api itu kian besar, mereka mundur sedikit menghindari lidah api yang seakan hendak menghisap bocah-bocah itu.

“Nabi Ibrahim tidak mati dibakar api, malah ia merasa dingin berada di dalamnya. Bahkan ketika ia keluar dari dalam api itu Nabi Ibrahim terlihat segar bugar, dan makin tampan. Apa kau tidak ingat sama kisah nabi itu? Kiaji Dullah kan sering menuturkannya.” Jabbar menjawab dengan tangkas.

“Itu nabi. Beda sama kita. Itu kan salah satu mukjizat Nabi Ibrahim.” Hamdi menggelengkan kepala. Bocahbocah itu melemparkan kayu, serta dedaunan kering ke dalam api itu, seperti menginginkan api untuk terus menyala.

“Kalau gak ada yang mencoba, kan gak ada yang tahu, siapa tahu diantara kita ada yang gak bisa terbakar oleh api.”

“Emang siapa yang mau mencobanya? Saya gak mau, ah!”

“Ibrahim saja yang coba. Namanya saja seperti nama nabi yang tak mempan dibakar, siapa tahu kau benarbenar tak terbakar.”

“Jangan takut. Sebelum masuk ke dalam api, berdoalah sebagaimana doa Nabi Ibrahim.”

“Pasti ada malaikat yang membantumu di dalam api itu.”

“Malaikat apa?” tanya Ibrahim. Ia berdiri di depan api itu. Jiwanya tergugah untuk mencoba setelah kawankawannya mendesak.

“Malaikat api.”

Baca juga: Diksi Kampung Tebu – Cerpen Beni Setia (Padang Ekspres, 25 Agustus 2019)

“Emang ada malaikat api?”

“Nabi Ibrahim tidak bisa dibakar karena ia ditolong oleh malaikat api.”

Sebelum Ibrahim masuk ke dalam kobaran api itu, ia meminta kawan-kawannya mengikat tangan dan kakinya. Dengan tenang, sangat mencengangkan Ibrahim menyuruh kawan-kawannya menggotong tubuhnya, memasukkannya ke dalam api itu. Hal ini dilakukan oleh Ibrahim seakan ia mau mempertontonkan kehebatannya, bahwa betapa tubuh bocah itu juga tak mempan dibakar api sebagaimana Nabi Ibrahim.

Berada dalam kobaran api terdengar jeritan Ibrahim. Tak satu kawan-kawannya menggubris, malah ia bilang, “Ah, bisa aja aktingnya Ibrahim.” Untung saja api itu segera padam.

Mereka terperangah melihat Ibrahim hangus terbakar, kulitnya mengelupas sampai tulang belulang tubuh Ibrahim terlihat jelas. Bocah-bocah itu berlarian, menghampiri Kiaji Dullah, meminta laki-laki sepuh itu menggotong Ibrahim yang hampir habis tubuhnya dilumat api.

Saya mengelus dada berulang-ulang, jantung saya seakan mau lepas dari tangkainya mendengar cerita ini dituturkan oleh Maisaroh, dengan air mata yang tumpah di atas pangkuannya. Saya tidak menyangka Ibrahim bisa berbuat nekat seperti itu. Tetapi dilain sisi, saya rasa wajar Ibrahim melakukan perbuatan tolol itu karena umur bau kencur adalah alasan mengapa ia bisa berbuat sebodoh itu.

Bahkan masih ada potongan ingatan dalam tempurung kepala saya, sebuah ketololan yang pernah saya lakukan sewaktu kecil, di usia sama persis dengan anak saya sekarang ini, delapan tahun. Saya pernah terobsesi menjadi nabi lantaran ustaz ngagi saya menuturkan perihal mukjizat 25 nabi itu. Saya tercengang mendengar setiap mukjizat yang dimiliki nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.

Uztaz ngaji saya menjelaskan, tidak akan ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad, kalaupun ada pastilah ia nabi palsu. Karena saya tahu tidak mungkin saya menjadi nabi, maka saya berinisiatif bergaya, meniru seolah-olah saya punya mukjizat. Saya hampir mati tenggelam di laut gara-gara menceburkan diri dan berpikir ikan paus raksasa akan menelan saya, kemudian akan memuntahkan tubuh saya ke bibir laut, sebagaimana yang pernah dialami Nabi Yunus. Untung saja seorang nelayan menarik tubuh saya ke tepi laut.

Bukan hanya ketololan itu yang saya lakukan, hampir semua mukjizat yang dimiliki 25 nabi itu saya tiru kehebatanya. Namun tak satu pun berhasil saya lakukan. Barulah saya sadar setelah hampir tewas, bahwa mukjizat para nabi itu tidak bisa ditiru. Saya tidak menyangka jika hari ini Ibrahim, anak saya sendiri mengulang ketololan yang pernah saya perbuat itu.

Baca juga: Lenyapnya Bendera-bendera – Cerpen Erwin Setia (Padang Ekspres, 18 Agustus 2019)

Empat hari kemudian, saya mendengar Maisaroh menangis meraung-raung. Dengan sigap, saya berlari ke kamar Ibrahim. Saya melihat Ibrahim menahan sesak di dadanya, napasnya berada dalam kerongkongannya. Istri saya itu yang pernah menunggui Bapak-Ibunya wafat tahu waktunya kapan Ibrahim akan meninggal. Tinggal beberapa menit lagi, kata Maisaroh pada saya.

“Apa malaikat api itu ada Pak?” Ibrahim masih sempat bertanya diantara gerak napasnya yang mulai pendek-pendek.

“Iya ada. Malaikat api ditugaskan menjaga api. Dia penjaga api neraka.”

“Saya ingin segera bertemu dia.”

“Untuk apa?” “Untuk bertanya, kenapa dia tidak menolong saya sewaktu saya menceburkan diri ke dalam api itu kemarin.” Saya melihat mata Ibrahim semakin redup. Saya juga mencium aroma bayi yang baru dilahirkan.

Saya mengulang-ulang kalimat tauhid di gendang telinga Ibrahim. Ia mengikutinya hingga selesai, dan beberapa saat kemudian sudah tak dapat saya rasakan lagi hembusan napasnya. Tumpah seketika air mata Maisaroh. Sementara saya berusaha tegar, menerimanya sebagai suratan, dan hanya berharap Ibrahim tidak akan pernah bertemu dengan malaikat api di sana. (*)

 

Pulau Garam, 2019

Zainul Muttaqin Lahir di Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Meraih Juara II Lomba Cerpen Se-Nusantara (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kabupaten Sumenep, Desember 2017).  Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019). Tinggal di Sumenep Madura.

Advertisements