Cerpen F. Ilham Satrio (Koran Tempo, 14-15 September 2019)

Boston Ketika Ponsel Berdering ilustrasi Koran Tempow.jpg
Boston Ketika Ponsel Berdering ilustrasi Koran Tempo 

Selamat malam, Bung.

Agak berbeda dengan badan surat sebelumnya, saya mau sampaikan sedikit pengantar (atau penjelasan?) perihal lampiran yang saya kirim. Semoga dapat membantu Bung dan teman-teman di redaksi memutuskan layak atau tidaknya karya saya ini.

Tak memakan waktu lama, Bung, karya ini berproses singkat saja. Satu minggu mencatat ide, satu minggu merangkainya, untuk kemudian saya cacah lagi. Saya tentukan karakter seperti apa yang dapat mengemban gugusan ide setelah tersebar jadi remah-remah cerita itu. Ada tiga karakter, ada tiga tokoh dalam cerita. Ketiganya saya anggap pas untuk menghidupi latar dan suasana yang coba saya hadirkan.

Ceritanya, bila Bung ingat, adalah satu kejadian setahun yang lalu. Saya merasa butuh menuturkan pengantar ini. Karena saya tak mau menyangkut-pautkan hal yang tak sedap dengan posisi Bung sekarang. Sederhananya, saya bukan bermaksud menjadikan sosok Bung sebagai tokoh dalam cerita saya. Dapat dicek kebenarannya (dan kebohongannya?) cerita singkat karya saya itu. Perlahan akan saya jabarkan di sini.

Saya mengingatnya seperti mengingat kisah gelap saya sendiri. Saat itu saya tengah berada di Boston, dan mantel seharga 5 dolar saya tertinggal di sebuah klub malam. Dalam keadaan setengah sadar, saya kembali ke rumah. Dua botol Vodka Martini dan selusin bongkahan es batu (juga perasan lemon) membuat saya lupa betapa angin bertiup cukup tajam. Membuat siapa pun yang saya temui membungkus tengkuk leher mereka dengan syal.

Saya tahu langkah kaki saya terseret. Tapi orang-orang di kediaman Bung Yap itu sama sekali tak menggubris kedatangan saya. Tidak seperti biasanya, pada pukul dua malam mereka saling berpangku tangan di ruang tengah. Ada tiga lampu di sudut ruang, cahaya redupnya tampak merengkuh dan menenggelamkan mereka ke dalam lamunannya masing-masing.

Yap memakai mantel cokelat dengan emblem bendera Amerika kecil di dada kirinya. Embus napas sekali ia hempaskan, sementara jemarinya memilin bakal janggut di dagunya. Tak ada yang merokok. Saya tak mencium wangi kretek selain semilir arabika dari gelas yang masih mengepulkan asap. Rupanya mereka baru memulai, dan saya datang di waktu yang tepat.

Advertisements