Cerpen Musrida (Rakyat Sultra, 09 September 2019)

Rantas Asa ilustrasi Istimewa
Rantas Asa ilustrasi Istimewa

“Kau di sini lagi,” tegur Marko yang baru saja muncul dari sisi gang yang lain. Dia berjalan mendekat dan duduk mengisi bangku kosong di sebelahku.

Aku berpaling padanya. Kuperhatikan dirinya lekat-lekat. Entah bagaimana aku bisa santai berbicara dengannnya. Dengan garis wajah yang keras dan penampilan yang amburadul, orang-orang akan ketakutan dengannya. Cincin tengkorak, tato di sepanjang tangan dan leher, ditambah dua tindik di telinga sebelah kiri semakin memperkuat sisi premanan di dirinya. Tetapi jangan salah, soal pertemanan aku mengakui kesetiaannya.

“Aku sudah menyuruh beberapa anak buahku untuk mencarinya. Kau tunggu sajalah kabar dari mereka,” kata Marko seraya menepuk pundakku.

Aku menoleh padanya. Aku bersumpah, aku melihatnya tersenyum. Senyum itu hanya sekilas tapi sarat akan misteri. “Aku menyesal,” keluhku dengan kepala tertunduk lesu.

***

Peristiwa naas itu bermula lima tahun lalu. Aku mengadopsi seorang anak setelah mendapat saran dari Mira, teman istriku. Katanya anak itu bisa jadi pancingan agar kami memperoleh keturunan. Aku dan istriku kemudian mengangkat Cici sebagai anak. Cici masih berumur enam tahun saat aku secara tak sengaja menemukannya di warung makan sekitar pabrik tempatku bekerja. Saat itu ia datang untuk membeli makanan, tetapi diusir karena bau badan dan penampilannya yang kotor.

“Bu, beli nasi,” pinta Cici dengan suara khas anak-anak.

“Pergi kau, pembeliku bisa kabur karenamu,” sambil berkacak pinggang dan dengan mata yang dipelototkan, pemilik warung itu mengusir Cici.

Cici terkesiap dengan perkataan yang ditujukan padanya. Tak sanggup menahan makian lebih banyak, Cici berlalu dengan menangis. Karena teringat perkataan Mira, aku bergegas membayar makanan lalu mengikutinya. Aku menemukan Cici persis di tempatku berada sekarang. Di salah satu gang sempit di kota metropolitan ini. Aku putuskan membawanya ke rumah. Lagi pula dengan mengangkatnya menjadi anak, tak perlu proses yang panjang seperti mengangkat anak di panti asuhan. Cukup membayar pada Marko, preman yang merawat Cici selama ini. Marko setuju saja asal bayaran dirasa menguntungkannya.