Cerpen Kiki Sulistyo (Suara Merdeka, 08 September 2019)

Teo Berubah Jadi Bebek ilustrasi Hangga - Suara Merdekaw.jpg
Teo Berubah Jadi Bebek ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

Teo berubah jadi bebek. Suatu malam, listrik padam dan angin bertiup kencang. Jendela serta pintu yang ditutup rapat berderak-derak. Di ruangan cuma ada aku dan Teo. Kami menyalakan lilin. Beberapa kali api dari korek kayu tak bisa menyala lama. Desakan angin terlampau kuat hingga menembus celah-celah jendela. Hanya setelah kulindungi dengan kelima jari, api bisa menyala dan asap berpilin seperti benang halus yang sebentar kemudian pupus di udara. Teo mendekatkan sumbu lilin pada api. Ujung sumbu itu menyentuh api dan korek segera padam seakan mengerti tugasnya hanya memindahkan nyala.

Teo meletakkan lilin di atas alas besi mirip mangkuk nasi. Kami diam sebentar, berpikir, bisa jadi angin kembali membuat nyala api buyar. Pucuk api memang bergoyang-goyang, tapi tak sampai padam. Dan setelah beberapa saat, Teo berkata, “Siapa yang menjaga?”

Aku mengangkat jari telunjuk seperti murid sekolah dasar hendak menjawab pertanyaan.

Teo menggerutu, “Kau yang mengusulkan ini, harusnya aku yang angkat jari.”

“Tapi kau yang bertanya, tak mungkin kau yang menjawab juga. Lagipula ini masalahmu,” balasku.

Teo terdiam sejenak, sebelum berucap, “Baiklah, belum tentu juga mantranya bekerja.”

Keputusan sudah bulat. Teo harus sepakat. Aku bisa lihat wajahnya mengeras. “Ayo, cepat!” seruku dengan suara sedikit kubuat-buat.

Teo menarik napas panjang, lalu memejam. Aku mendengar Teo merapal mantra. Aku tahu mantra itu sebab aku yang memberi beberapa hari lalu. Mantra yang bisa membuatmu berubah jadi apa yang kau mau.

Seorang lelaki tua memberiku mantra itu ketika secara tak sengaja aku bertemu dengannya. Waktu itu hari Kamis, menjelang magrib, hujan turun demikian bengis. Aku sedang berjalan pulang dan merasa harus menepi, kaki hampir keram dan badan seperti kapal akan karam. Jarum air menusuk-nusuk kepala dan kulit. Jalanan sepi seakan orang-orang tak berani keluar lantaran takut penyakit. Sebuah bangunan kayu di tepi jalan terlihat cukup rindang untuk kujadikan tempat berteduh. Hanya ada seorang lelaki di situ, bersedakap menahan dingin. Tak ada kendaraan terparkir di dekatnya. Lelaki itu pasti berjalan kaki, pikirku. Aku tersenyum padanya sembari mengibas-ngibaskan air dari baju.

Advertisements