Cerpen Anju Lubis (Analisa, 08 September 2019)

Surat yang tak Terbalas ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Surat yang tak Terbalas ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

Barangkali kau tidak mengenal aku. Seperti aku tidak juga mengenalmu, sebab perkara kenal bagiku bukan perkara mengetahui nama dan alamat.

Aku tahu namamu. Aku tahu alamatmu. Aku tidak tahu bagaimana kau melewati hari-hari. Bagaimana kau bermain dengan sendok sewaktu minum segelas teh di kamarmu? Bagaimana matamu memandang bulan seraya mengungkap buah pikiran?

Aku tidak tahu apa yang kau suka. Tidak tahu apa yang kau ingini dari hidup yang begitu singkat. Lantas kita tak kenal satu sama lain. Aku harus menuliskan surat ini demi perkenalan yang barangkali terasa janggal di hari-hari yang kerap hujan.

Aku masih ingat betul pertama kali aku melihatmu. Simpul rambut yang selalu melekat dalam hati dan senyum tipis penuh kasih. Aku waktu itu cuma seorang anak yang tidak begitu mengerti perihal wanita. Tidak mengenal keberadaan perasaan megah yang boleh hadir di hati seorang manusia.

Setiap malam aku selalu mengenangmu. Seperti pujangga yang kerap melebihkan segala sesuatu. Aku barangkali salah satunya perihal hari itu.

Sangat sederhana. Aku di gereja dan kebetulan duduk di sebelahmu. Aku anak yang lebih suka datang sendiri ke gereja. Duduk, mendengarkan, berharap pada Tuhan demi pengharapan yang aku takut orang-orang ketahui.

Aku tidak begitu memerhatikanmu di sebelah, kendati pundak kita beberapa kali saling bersentuhan. Kita berjabatan tangan. Waktu itu aku terpesona oleh senyuman itu sampai mematung dan melihati simpul rambut yang kian lama kian pergi. Orang-orang berjabatan di gereja. Tidak selembut itu. Barangkali begitulah jabatan tangan yang Tuhan kehendaki dari hamba-Nya.

Waktu begitu cepat berlalu. Sekuat apa pun kita menahan sebuah kenangan yang sempat mengakar, waktu selalu bisa menyapunya seketika. Alhasil aku tidak begitu mengingat bagaimana mata yang tersenyum di atas senyuman itu. Atau bagaimana lekukan simpul rambut yang terhempas waktu kau berbalik dariku. Aku kalah oleh waktu. Sekuat apa pun waktu bekerja menghapusnya, hati takkan lupa akan kelembutan yang pernah ia rasakan.