Cerpen Yus R. Ismail (Fajar, 08 September 2019)

Suara Tuhan ilustrasi Fajarw.jpg
Suara Tuhan ilustrasi Fajar 

Suara Tuhan itu sekarang sedang menuntunmu, sedang ada dalam tubuhmu,” kata Parsyah.Luguwan termenung. Betulkah Suara Tuhan ada dalaman tubuhnya dan sedang menuntunnya? Pertanyaan itu mampir juga di benaknya. Setelah sekian lama tidak memperdulikannya, Luguwan akhirnya luluh juga.

“Makanya turuti saja Suara Tuhan itu. Banyak orang, bbaaannyyaaakk sekali, yang menginginkan seperti dirimu,” kata Parsyah lagi.

Luguwan sebenarnya orang yang sederhana. Sebagai anak yang lahir dari keluarga buruh tani yang miskin dia tidak punya keinginan yang aneh-aneh. Kalaupun ada yang disebut aneh, untuk ukuran di kampungnya, saat lulus SMP Luguwan begitu bersemangat melanjutkan ke SMK.

Tapi setelah lulus SMK, keinginan aneh itu malah mendapat cemooh. Ya, karena setelah melamar pekerjaan ke sana ke mari, jadi honorer sekalipun, tidak ada yang mau menerimanya secara gratis. Akhirnya ikut bapak, tetangga dan saudara-saudaranya, jadi buruh tani lagi di kebunkebun milik orang kota.

Karena tidak kuat menghadapi cemooh dan tertawaan orang-orang yang selalu bilang “ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau hanya jadi buruh tani”, Luguwan lalu ke kota dan bekerja di tukang bakso. Bukan pedagang bakso besar tempat Luguwan bekerja. Hanya roda bakso kecil yang mangkal di depan sebuah perumahan kecil.

Tugas Luguwan sendiri mulai dari menyiapkan roda, meladeni pelanggan, cuci mangkok-gelas, lalu juga belanja dan meracik. Lima tahun kemudian setelah melamar Siti Suciati, gadis sederhana yang bekerja sebagai tukang cuci piring di rumah makan Padang, Luguwan pulang ke kampungnya. Dia berdikari dengan berjualan bakso keliling dari kampung ke kampung menggunakan motor.

Empat belas tahun kemudian usahanya berkembang menjadi sebuah warung bakso yang lumayan besar, sepuluh motor yang berkeliling ke berbagai penjuru kota kabupaten. Saat itulah, saat anak semata wayangnya lulus SD, Luguwan ingin memasukkan anaknya ke pesantren.

Advertisements