Cerpen Eko Darmoko (Kompas, 08 September 2019)

Raung dan Kenangan Seluas Kabut ilustrasi Ong Hari Wahyu - Kompasw
Raung dan Kenangan Seluas Kabut ilustrasi Ong Hari Wahyu/Kompas 

“Kalian berdua beruntung cuma dijenggong anjing yang lehernya terikat. Tadi, selepas Isya, kuntilanak mengejar rombongan pendaki asal Jakarta,” begitu kata Ibu Sunarya kepada ayahmu ini, Nak.

Napas terengah akibat sangar gonggong anjing, kami redam dengan kopi yang disuguhkan Ibu Sunarya di Pos 1. Ayahmu ini, Nak, sewaktu muda memang pengecut. Suara gonggong anjing pun membuat nyali ayahmu ini menciut.

“Benar kalian tak melihat kuntilanak?” tanya Ibu Sunarya. Kami berdua hanya menggelengkan kepala, Nak. “Ibu dan Bapak, seumur-umur di sini memang tak pernah melihat kuntilanak,” sambung Ibu Sunarya.

“Aku kangen Ibu di rumah,” kata Nisa; kawan perempuan yang menemani ayah mendaki Gunung Raung bersama kawan-kawan lainnya, Nak. Harusnya, Nisa yang menjadi ibu kandungmu. Tapi, nasib berkata lain. Kau, lahir dari rahim perempuan lain.

“Raung memang luar biasa. Ini puncak pertama saya, Bu,” kata Nisa kepada Ibu Sunarya. “Kelak saya ingin memberi nama ‘Raung’ kepada anak saya,” cerocos Nisa melanjutkan.

Nak, kau memang hanya bisa berkedip sembari merengek saat ayahmu ini bercerita. Tapi ayah yakin, di usiamu yang belum genap sebulan ini, kau bisa menikmati setiap jengkal cerita yang ayah sampaikan.

Wajah Nisa seperti wajabmu, Nak. Kalian sama-sama ayu. Bahkan, bibirmu tak menyerupai bibir ibu kandungmu. Bibirmu lebih menyerupai bibir Nisa. Oh, mungkinkah teori hubungan biologis dikalahkan bayang-bayang kenangan?

Tiap kali ayahmu ini bercinta dengan mendiang ibu kandungmu, ayah selalu membayangkan Nisa. Tiap kali ayah memagut jengkal demi jengkal tubuh ibu kandungmu, ayah merasakan tubuh Nisa. Pun ketika ayah melumat bibir ibu kandungmu, yang ayah rasakan adalah bau napas Nisa.

Nak, kau memang terlahir bukan dari rahim Nisa, tapi ragamu serupa Nisa. Harus ayah akui, ayah merasa berdosa kepada mendiang ibu kandungmu. Ayah menikahinya tanpa cinta. Sebaliknya, mendiang ibu kandungmu sangat mencintai ayah.