Cerpen Farizal Sikumbang (Serambi Indonesia, 08 September 2019)

Perempuan yang Meninggalkan Lipstik di Gelas ilustrasi Serambi Indonesiaw.jpg
Perempuan yang Meninggalkan Lipstik di Gelas ilustrasi Serambi Indonesia

SEPERTI biasa, sebagai seorang pelayan di sebuah kafe, sayalah yang bertugas mengantarkan pesanan si tamu dan membersihkan gelas atau piring yang terletak di atas meja ketika si tamu telah meninggalkan kafe. Sebuah rutinitas yang sudah dua tahun ini saya jalani dan saya  menikmati pekerjaan itu.

Namun tiga hari belakangan ini ada yang mengganggu pikiran saya. Bukan  karena saya dimarahi  bos si pemilik kafe. Seorang tamu karena ulahnya yang aneh membuat saya berkerut kening. Tamu itu adalah seorang perempuan muda. Dia baru tiga hari ini pula muncul di kafé tempat saya bekerja. Saya belum pernah bertemu dia sebelumnya. Saya menduga-duga dia datang dari mana. Membuat saya kadang tertawa sendiri sekaligus agak kesal. Betapa tidak, sehabis dia meninggalkan meja, dan ketika saya akan membereskan hidangan yang dia santap, perempuan itu meninggalkan bekas lipstik bibirnya di tengah gelas. Saya yakin ini adalah kesengajaan, sebab lipstik itu berada di tengah gelas. Bukan di bibir gelas.

Pada hari pertama ketika saya menemukan lipstik dengan cap bibirnya itu, saya belum begitu terganggu. Saya memakluminya. Dia mungkin sedang kesal kepada teman atau dia lagi gembira entah karena apa dan menumpahkannya lewat gelas. Tapi hari berikutnya, setelah dia pergi dan saya berencana membereskan sisa makanannya, saya menemukan gelas bercap lipstik dengan gambar bibirnya lagi. Kali ini saya agak kesal. Dengan jengkel di dada saya membereskan pekerjaan saya dengan pertanyaan yang menggantung di benak.

“Hanya perempuan yang lagi tak ada pikiran yang melakukan itu,” jawab Faiz, rekan kerja saya setelah saya beritahukan padanya tentang keisengan perempuan itu.

“Tak ada pikiran, maksudmu?”

“Ya tak tahu apa yang ingin ia lakukan. Atau malah sedang kebingungan.”

“Ah masa.”

“Atau dia lagi sedang putus asa.”

“Putus cinta maksudmu?”

“Ya, barangkali.”

Lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak. Menertawakan perempuan itu.

Advertisements