Cerpen Win Han (Pikiran Rakyat, 08 September 2019)

PERSAMUHAN ilustrasi Ismail Kusmayadi - Pikiran Rakyatw.jpg
PERSAMUHAN ilustrasi Ismail Kusmayadi/Pikiran Rakyat

“SUDAH berapa kali kau melihat mataku berkaca-kaca dan tanyamu selalu ‘apakah kau sedang bersedih’. Tentu saja!” kata Gustam padaku seraya menggebrak meja. Ia meninggalkanku dengan sisa ingatan perihal mata merahnya, juga urat-urat mencuat dari lehernya. Ia pergi ke area parkir, menggeber sepeda motornya dan lenyap tanpa kata-kata.

AKU tidak pernah punya niat buruk kepadanya. Ia teman baikku. Gustam adalah salah seorang yang paling awet berkawan denganku. Sejak usiaku enam belas aku mengenalnya sebagai teman sekelas yang ceria dan pandai merangkai lelucon. Siapa saja yang dekat dengannya, pasti hafal betul kebiasaannya. Ia tak akan membiarkan sepuluh menit percakapan tanpa lontaran kata pemancing tawa meluncur dari mulutnya. Ia selalu punya cara agar sebuah majelis tak berlangsung menjenuhkan.

Beberapa orang memanggilnya Dono. Gaya rambutnya yang sedikit gondrong dan berantakan, serta bentuk bibirnya yang condong ke depan, adalah asal mula sebutan Dono melekat padanya. Kadang pula ia disebut Parto. Ini terjadi manakala ia tiba-tiba mengenakan kacamata dan membawakan lagu-lagu lawas Peterpan tanpa alasan yang jelas. Ia memang kerap melakukan berbagai lakon tanpa musabab. Katanya suatu kali, “Tidak usah banyak mikir. Lakukan apa saja yang membuatmu senang atau membuat orang-orang di sekitarmu senang. Selama tidak melukai siapa-siapa, kita tak perlu mencari-cari alasan tentang apa yang kita lakukan.”

Kini usiaku sudah 25. Sudah sembilan tahun aku berteman dengan Gustam. Banyak jalan-jalan cerita yang telah kami lalui bersama. Sebagian jalan mulus serupa pakaian sutera, sebagian lain terjal tak ubahnya tepi sungai berbatu.

Jika seseorang bertanya padaku, siapa teman terbaik dan terdekat yang pernah kupunyai, dengan lekas akan kujawab: Gustamlah orangnya. Akan tetapi, sejauh ini, aku tidak pernah mendengar Gustam menyebut namaku ketika pertanyaan yang sama ia dapatkan. Ia juga tidak pernah menyebut nama-nama lainnya semisal Jefri, Reyhan, atau Da Roka, yang juga bersahabat sejak lama dengannya. Memang suatu waktu ia pernah bilang kepada kami—kawan-kawan dekatnya, “Kalian semua teman terbaikku. Kalian semua istimewa dan aku bahagia memiliki teman seperti kalian.”