Cerpen Kedung Darma Romansha (Jawa Pos, 09 September 2019)

Juragan Empang ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Juragan Empang ilustrasi Budiono/Jawa Pos

SEBELUM kumulai cerita ini, sebaiknya Kamu simak baik-baik syair lagu dangdut di bawah ini. Sengaja kuterjemahkan untuk seorang pemalas sepertimu. Tidak perlu? Baik, bila kamu punya opsi terjemahan lebih baik, silakan. Tapi, demi keseimbangan jalan cerita ini, kusarankan Kamu mendengarkan lagu Juragan Empang. Dengan begitu, Kamu bisa dengan mudah mendalami dua tokoh dalam cerita ini. Selamat bergoyang!

Casta

Dasarnya memang nasibku beruntung. Tanpa diminta, Kaji Daspan datang ke rumah dan memintaku untuk bekerja di empang miliknya. Mendapat nasib baik rasa-rasanya seperti ketiban lintang di malam buta. Lebih-lebih orang yang bekerja serabutan sepertiku. Pemasukan datangnya untung-untungan.

Jika panen tiba, aku bekerja sebagai buruh tani. Lepas menjadi buruh tani, jadi buruh bangunan. Lepas jadi buruh bangunan, menganggur. Lepas menganggur, menganggur lagi. Lepas menganggur lagi, menganggur lagi, lagi. Lepas menganggur lagi, menganggur lagi, lagi, dan lagi. Sebab, bekerja sebagai buruh—buruh bangunan atau buruh tani—di kampungku sifatnya musiman. Tidak tentu. Jadi, bagiku mendapat pekerjaan di empang Kaji Daspan merupakan keberuntungan untukku, juga keluargaku.

Aku tidak perlu seperti Caswani yang berpura-pura sakit hanya untuk menyentuh hati anaknya supaya berangkat menjadi TKW di Taiwan. Anakku juga tidak perlu khawatir seperti Wartini yang nelembuk ngalor-ngidul untuk membiayai orang tuanya yang mulutnya mirip kaleng rombeng itu. Aku tidak perlu khawatir dengan nasib buruk yang jatuh pada kami-kami ini, yang hidupnya setengah-setengah: hidup segan, mati pun enggan.

Cara-cara yang kusebutkan tadi banyak dilakukan oleh orang tua di kampung kami, yang tentu dikarenakan nasib menekan kami. Menekan jika ada tetangga sedang menceritakan motor barunya. Menekan jika ada yang pamer gelang emas –kemudian, istri-istri ngoceh sepanjang hari meminta nasib yang sama. Menekan jika ada yang mempersolek rumahnya. Menekan jika ada kabar baik datang pada kondisi yang tidak baik. Dan sialnya, kabar di kampungku cepat sekali tumbuh-menjalar. Seperti lumut di musim hujan dan siapa pun bisa terjatuh karena mulut lumut yang licin itu.

Advertisements