Cerpen Hendy Pratama (Radar Banyuwangi, 08 September 2019)

Ia Belah Sungai itu seperti Musa ilustrasi Radar Banyuwangi (1)
Ia Belah Sungai itu seperti Musa ilustrasi Radar Banyuwangi

ORANG tua berjenggot putih dengan sorban yang melilit ubun-ubunnya itu masih termenung di pinggir sungai. Sebilah tongkat yang ujungnya menyerupai kepala ular tergeletak di sampingnya. Matanya bersauh pada sungai. Dan sejurus kemudian, ia hunjamkan tongkatnya ke tanah. Sontak, sungai itu terbelah; menampakkan sebuah jalan menuju kampung yang subur dan makmur. Ironinya, tak ada satu pun penduduk yang berani bertandang ke sana.

Hampir seluruh pendudukkampung Bual Basungpercaya bahwa jalan itu—yang tampak setelah sungai terbelah—merupakan jalan ujian. Barangsiapa yang dapat melewatinya dengan lancar, maka ia termasuk orang jujur. Dan, barangsiapa yang gagal, ia termasuk orang-orang munafik yang sarat akan kebohongan.

Kepercayaan penduduk tumbuh ketika setahun yang lalu, seorang lelaki pernah bermaksud melewati jalan itu. Sebelum melewatinya, Ki Ageng, orang tua bersorban yang menjaga sungai itu, telah berpesan padanya bahwa sungai ini hanya dapat dilalui oleh orang jujur. Tanpa basabasi, si lelaki itu meminta Ki Ageng untuk membelah sungai. Beberapa menit kemudian, sungai terbelah hanya dengan sekali hentakan tongkat.

Si lelaki berjalan perlahan beserta kecemasan yang mengungkung dirinya. Ia amat waswas bilamana sungai itu menyatu, lalu menelan tubuhnya bersama debur yang masygul. Sebab, ia sadar bahwa ia bukanlah orang jujur yang dimaksud.

Benar saja. Belum genap ia melangkah lebih jauh, ke tengah jalan, sungai itu ambyar, mengulum si lelaki tanpa nama itu hingga entah ke mana. Gelombang sungai meninggi, beriak, dan memuntahkan debur bagai air liur pemangsa yang sedang menikmati buruannya. Bergidik sudah belasan penduduk yang menyaksikannya. Alhasil, penduduk yakin bahwa sungai yang memotong antara kampung Bual Basung dengan kampung seberangbenarbenar hidup dan hanya dapat dilalui oleh orang jujur.

Lima tahun beranjak setelah kejadian itu. Selama lima tahun pula, belum ada seorang pun yang berhasil menyeberangi sungai dengan melewati setapak jalan di antara tebing air yang terbentuk setelah sungai terbelah. Pada mulanya, penduduk tak acuh dengan kenikmatan hidup di kampung seberang yang mereka lihat dari kejauhan,bahan pangan tumbuh melimpah. Namun, seiring berlalu waktu, kampung tempatnya menetap kehabisan bahan pangan juga.

“Sembako di sini sudah seharga langit. Menurutku, sudah semestinya kita mencari bahan pangan di tempat lain,” resah seorang penduduk.

“Ke mana kita mencari bahan pangan?”

Seorang penduduk itu terdiam. Tampak dahinya mengernyit dan sejurus kemudian, terbersit sesuatu, “Kampung seberang. Jelas sudah, bahan pangan melimpahruah di sana.”

“Lalu, bagaimana kita ke sana? Bukankah hanya orang jujur yang dapat pergi ke kampung seberang itu?”

“Mm… kita cari saja orang jujur di kampung kita.”

“Mana ada orang jujur di sini?”

Seberes percakapan itu, rupanya penduduk sekitar tak kalah cerdas. Beberapa di antaranya berupaya membikin perahu. Puluhan batang pohon dan reranting ditebang, dirakit menjadi sebuah perahu lengkap beserta sepasang cadiknya. Namun, perahu yang mereka tumpangi, yang berlayar di atas permukaan sungai, acap kali karam. Bila tidak terempas arus, atau tertelan debur, perahu terbalik karena dicocol oleh ikanikan besar semacam lele. Biota sungai di sini tumbuh subur karena jarang diganggu oleh penduduk.

***

Makin hari kampung Bual Basung makin padat. Ketersediaan pangan di sana juga kian tipis. Padi-padi yang ditanam sejak tiga bulan lalu gagal panen. Wereng dan walang sangit juga burung emprit rajin membabati tumbuhan itu. Tak cukup sampai di situ, jumlah air bersih terus berkurang. Kemarau panjang telah menyerang. Tanah-tanah jadi kering dan retak.

Pak Lurah, menyarankan salah satu dari warganya supaya bertandang ke kampung seberang, mencari padi-padi yang menguning, jagung yang masak, atau apa pun demi mencukupi kebutuhan pangan kampungnya. Tentunya, itu cuma dapat dilakukan dengan menyeberangi sungai, melewati jalan setapak di antara tebing air setelah sungai terbelah—yang artinya, Pak Lurah dan beberapa penduduk harus menemukan orang jujur.

Amanat itu pun jatuh ke Kamandobat, seorang lelaki sebatang kara yang tinggal di selatan kampung. Kepribadiannya terbilang baik. Ia adalah guru mengaji di surau. Tak sedikit penduduk yang percaya bahwa Kamandobat bakal berhasil melewati sungai itu. Maka, untuk urusan yang amat genting ini, beberapa penduduk membekali Kamandobat dengan nasi bungkus, kendi, celurit, dan keranjang yang ia pikul di punggung.

Di bawah terik matahari yang menyengat ubun-ubun, tugas berat itu pun ia laksanakan. Kamandobat berjalan kaki menuju sungai, mengekor belasan penduduk di belakangnya dengan perasaan berdebar beserta kecemasan yang membuntut.

Kamandobat berlalu ke timur, menuju Ki Ageng yang tengah duduk bersila bersama tongkat kepala ular yang ia tancapkan di sisi kanannya.

“Assalamualaikum,” sapa Kamandobat.

“Walaikum salam.”

Kamandobat duduk di sisi kiri Ki Ageng, menaruh bekalnya. Ini pertama kalinya ia berjumpa dengan orang tua sakti yang kerap jadi topik perbincangan para penduduk. Ia pandangi perawakannya: wajah keriput, mata yang mulai kehilangan pigmen hitam, dan jenggot putih yang menjuntai, setara dengan dada.

“Apakah kau bermaksud menyeberang sungai ini?” Sepertinya, tanpa dijelaskan, Ki Ageng telah mengetahui maksud kedatangan Kamandobat.

Kamandobat membisu. Tak menjawab barang sepatah pun.

“Mengapa Kakek menunggu sungai ini?”

Ki Ageng menatap Kamandobat. Mata tuanya tampak laksana bulan sabit yang sipit, sedikit tertutup oleh kulitnya. “Kampung seberang adalah tempat pertapaanku. Seratus tahun lebih aku bertapa di sana. Aku bertapa karena aku merasa resah hidup di kampung Bual Basung ini. Cukup sedikit penduduk di sini yang jujur dan berakhlak baik.

“Makin lama makin banyak orang munafik. Aku benci orang-orang seperti itu. Kau pasti paham bahwa akhir zaman akan ditandai oleh kelahiran bayibayi munafik. Merekalah yang akan menyebarkan fitnah di muka bumi. Aku takut itu terjadi. Oleh sebab itu, aku sengaja bermukim di bibir sungai ini, menjadi penunggu bagi orang-orang jujur yang hendak menyeberang ke kampung pertapaanku.”

“Apa benar, Kakek dapat membelah sungai ini dengan sekali hentakan tongkat?” selidik Kamandobat. “Mm… seperti Musa?”

“Ya, seperti Musa, orang-orang jujur selalu punya jalan. Orang-orang munafik bakal tenggelam. Ia belah laut Merah tatkala Firaun dengan bara tentara mengejarnya. Kau pasti familiar dengan kisah itu. Tuhan memberi jalan bagi Musa dan pengikutnya. Bagi orang-orang jujur dan baik, jalan itu selalu ada.”

“Mukjizat hanya ada di zaman nabi, bukan?”

“Ini bukan mukjizat, anak muda. Karamah. Ini disebut karamah.” Mata Ki Ageng menyipit.

Sesuatu berdenyut kencang dalam dada Kamandobat.

“Kudengar, kaulah satu-satunya orang yang dianggap jujur di kampung ini. Maka, mereka memberimu amanah untuk melewati sungai ini, membawa harapan, mengambil beberapa bahan pangan dari kampungku ke kampungmu. Apa benar begitu?”

Kamandobat mengangguk, perlahan.

“Baik, kita buktikan, apakah kau mampu melewati sungai ini atau tidak. Apakah kau termasuk orang jujur atau munafik,” pungkas Ki Ageng dan beberapa detik kemudian, ia hunjamkan tongkat kepala ularnya ke tanah. Byaaar! Sungai itu pun terbelah. Terbukalah sebuah jalan menuju kampung seberang.

Mulailah Kamandobat berjalan, secara hatihati.

Di sepanjang jalan, Kamandobat melihat sisi tebing berwujud air. Ia jumpai biota sungai yang aneh—di mana makhluk hidup di sana bertubuh raksasa. Banyak ikanikan bertubuh bongsor sedang berenang. Begitupula lele yang kumisnya saja sepanjang dua hasta orang dewasa. Ia juga baru sadar bahwa sungai ini amat curam. Kurang lebih setinggi tiga rumah yang ditumpuk.

Tetiba, Kamandobat berhenti tepat di tengah jalan. Pikirannya berkelana. Terbersit sesuatu yang membikin ia terdiam cukup lama. Ia sadar bahwa dirinya dianggap jujur lagi baik oleh penduduk. Tapi, apakah itu perlu? Apakah ia perlu dan butuh dianggap seperti itu? Kadang kala, anggapan itu bisa jadi jebakan. Bilamana ia dianggap jujur, tak semestinya ia sepakat. Anggapan hanya akan membuat dirinya seakan suci. Seakan tak perlu lagi bersifat jujur dan berperilaku baik. Kamandobat memikirkan hal itu.

Karena itulah, Kamandobat lekas mengurungkan niatnya. Belasan penduduk di pinggir sungai dibikin bingung tatkala Kamandobat tibatiba membalikkan punggungnya, memutar arah, berjalan kembali ke kampung Bual Basung.

Di tengah perjalanan kembali, Kamandobat merasakan hawa dingin menjalar dari kepala hingga tumit. Rambutnya yang kerontang terpercik air. Keringat mengucur, bersamaan dengan rambutnya yang lambat laun jadi basah. Kamandobat menegok ke kiri. Seketika, ia jumpai tebing air makin lebar dan menganga seperti mulut. Sedetik kemudian, sungai itu menyatu kembali, menyapu tubuh Kamandobat hingga sirna tak tersisa. Lenyaplah ia, berbarengan dengan riak dan debur sungai itu. Belasan penduduk yang melihatnya bergidik. Mereka tak menyangka, orang sebaik Kamandobat gagal juga melewatinya.

Setelah kejadian itu, tak ada satu pun penduduk yang berani menyeberang sungai itu. Mereka sadar, sampai kapanpun, kejujuran memang sulit diterapkan. []

 

Madiun, Mei 2019

Hendy Pratama, lahir 3 November 1995 di Madiun. Bergiat di komunitas sastra “Langit Malam” dan “Forum Penulis Muda Ponorogo”. Menulis cerpen, puisi, dan esai.