Cerpen M. Arif Budiman (Denpost, 08 September 2019)

Hikayat Sebatang Pohon Asam ilustrasi Denpostw.jpg
Hikayat Sebatang Pohon Asam ilustrasi Denpost 

AKU sebatang pohon asam. Aku tumbuh di pinggir salah satu ruas jalan di kotaku. Usiaku hampir seratus tahun. Seingatku, aku ditanam seseorang tak lama setelah jalan di depanku dibangun. Aku pernah menjadi primadona bagi para pejalan kaki. Mereka sudi mampir untuk sekadar melepas lelah sembari menikmati kerindangan daunku dan juga kesegaran buahku.

Tapi kini aku sudah tak serindang dulu. Tubuhku kini sudah mulai rapuh termakan usia. Bahkan beberapa dahan dan rantingku kerap patah ketika hujan-angin datang. Meski demikian, sisa-sisa kegagahanku masih terlihat jelas dari wujudku. Bahkan setiap tahun aku masih menghasilkan buah yang segar-segar, meski tak sebanyak dulu.

Aku masih ingat. Dulu, ketika kendaraan belum seramai sekarang. Anak-anak kerap bermain di bawahku. Tak jarang mereka juga memetik buahku yang masam namun menyegarkan sebagai penghilang dahaga. Biji-biji buahku juga kerap dijadikan pelengkap permainan dakon dan bekel oleh mereka.

Tapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai enggan mengunjungiku. Apalagi setelah kejadian siang itu. Ketika sepasang bocah laki-laki yang hendak bermain denganku terserempet mobil. Salah satu tubuh bocah laki-laki itu terpental dan jatuh tepat di bawah batangku. Aku melihat sendiri darah mengucur dari pelipisnya. Sayang seribu sayang, bocah malang itu tak dapat terselamatkan.

Sejak kejadian itu, tak ada satu pun anak-anak yang mengunjungiku lagi.  Hingga suatu siang, seekor burung gelatik mengabariku. “Para orang tua melarang anak-anak mereka mengunjungimu lagi, Asam. Mereka berdalih kau pembawa sial.”

Seperti tersayat sembilu, hatiku pilu mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin aku dijadikan penyebab atas musibah yang dialami bocah malang itu. Bukankah aku yang selama ini membahagiakan mereka lewat buah dan kerindangan daun-daunku.

Tapi apa mau dikata, aku peram kesedihanku sendiri. Toh masih ada beberapa pejalan kaki yang sudi mampir untuk melepas lelah. Meski hanya sejenak, aku sudah sangat bahagia.

***