Cerpen Beni Setia (Tribun Jabar, 08 September 2019)

Dongeng Tentang Pulang ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Dongeng Tentang Pulang ilustrasi Tribun Jabar 

SEMINGGU setelah Lebaran, ketika orang sudah mulai kembali bekerja, istriku mengajak ke S—mudik. Aku menatapnya. “Pulang ke mana? Mudik ke mana?” kataku. Ia menghela napas. Sejak ia kerja di sini—300 km dari S, 25 tahun lalu—ia sudah tidak lagi punya kamar di rumah keluarga. Ketika Ibu Mertua meninggal—Ayah Mertua bahkan sudah meninggal saat kami bertemu—maka ia sudah tidak memiliki tempat di rumah keluarga, yang kini dihuni adik paling kecil dan suaminya dan anak-anaknya—seiring dengan fakta kakak dan adik-adik, dengan keluarga barunya, juga keluar rumah serta punya rumah sendiri. Dan sejak saat itu S jadi kota yang asing—setidaknya bagiku.

Ia melengos, dan pelan bilang bahwa ia harus ke S, untuk bersua dengan teman-teman SMP-nya, seiring dengan rencana besar akan reuni. “Kamu ikut?” katanya. Aku menggeleng, karena itu bermakna kami akan tidur di rumah salah satu kakak atau banyak adiknya, dan mungkin cuma tidur di kamar kos anakku, yang sedang menyusun skripsi, dan mengontrak kamar dekat kampus, dan tentu situasi di tempat itu akan membuatku sangat terasing. Aku menggeleng. Apa itu bermakna pulang? Sesuatu yang absurd—sebuah ironi dari mudik, di mana ketika kita semakin dekat (ke tempat itu) malah kita merasa semakin jauh dan diasingkan dari rahim kenangan. Dan bisakah aku terus berada dalam keterasingan dan keberjarakan dari kenangan?

Cukup kuatkah merelakan kenangan pelan menyerpih—luruh?

***

AKU mimpi pulang ke B—sendiri, seakan aku ini bujangan. Tapi aku tak merasakan nikmatnya pulang—bahkan, sebenarnya, malah setengah pilu diacak-acak kenangan dan masa lalu—bahkan sejak turun dari kereta, ketika pulang kampung. Aku malahan tercangkul dan ada di jalan KW, jalur altenatif untuk menyeberang ke subterminal dari pintu kedatangan—dan keberangkatan—yang paling dekat dengan kereta eksekutif—sendirian dan merasa sangat ditinggalkan oleh semuanya, dan berjalan sendiri, celingukan mencari secercah kenangan dari tanda atau artefak masa lalu yang tersisa.

Tapi semuanya terasa makin asing karena semua menjadi sangat lain—dan bahkan bagai menyembunyikan masa lalu, dengan penampakan-penampakan yang serbabaru di tengah arus kendaraan yang terus berlerotan tak ada habisnya. Dan ketika terjaga—dengan ingatan dan kesadaran masih berada di dalam mimpi—aku memikirkannya, dan kemudian tercetus tanya yang perih, kenapa Kota B kini tampak sebagai tempat dan titik tolak buat pergi dan meninggalkan semuanya, bukan tempat untuk kembali dan mencermati semua yang tersisa—atau hanya yang bisa dibayangkan satu per satu? Aku terguncang. Serta pelan berpikir bahwa reuni perak—yang ke-50, setelah lulus SMP malah akan jadi luka yang terus menakik dan bukan elusan ilusi yang membuat kita merasa memiliki sesuatu, dan itu (bahkan) akan menegaskan bahwa semua itu telah lampau, hilang, dan harus dilupakan—semuanya.

Taburan garam pada luka yang tak berdarah lagi—tapi tetap perih.

***