Cerpen Badrul Munir Chair (Koran Tempo, 07-08 September 2019)

Upacara Tabur Bunga ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempow.jpg
Upacara Tabur Bunga ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Sekitar enam puluh mil dari pelabuhan, empat tahun setelah kejadian itu, setiap kapal yang melintas akan memperlambat lajunya. Para penumpang yang semula terbuai dengan semilir angin laut akan tersadar dan bertanya-tanya, apakah kapal mengalami kerusakan atau tengah terjebak di perairan laut dangkal? Sebagian penumpang di dalam kabin akan keluar mencari angin, duduk atau berdiri di dekat pagar lambung kapal, sebab udara dalam ruangan terasa sangat panas ketika kapal melaju pelan.

Tidak sampai satu mil kemudian, kapal akan kembali mempercepat lajunya, dan penumpang yang semula keluar kabin untuk mencari angin akan kembali ke tempat duduk mereka semula. Hanya nakhoda dan segelintir awak kapal yang mungkin masih mengingat kejadian itu. Dan begitu pula dengan kami.

Berkumpul di kabin khusus dengan balkon menghadap lautan, kami berdelapan-dengan pakaian serba hitam-duduk di dekat jendela kabin, menunggu aba-aba kapan boleh berjalan ke balkon secara bergantian. Dua orang awak kapal, dengan handy-talky dalam genggaman, menemani kami, terus berkomunikasi dengan seseorang di ruang kemudi, menunggu kabar kapan laju perahu akan dipelankan.

Althien, lelaki dengan cambang yang mulai memutih-yang tertua di antara kami berdelapan-ditunjuk menjadi pemimpin ritual. Ia terus menenangkan kami, berulang kali mengatakan bahwa apa yang telah terjadi adalah takdir, dan tidak ada seorang pun mampu melawan takdir. Setelah menyampaikan sambutan singkat, Althien melirik ke arah dua awak kapal yang mendampingi kami, seakan hendak meminta kepastian. Dua orang awak kapal itu terus memperhatikan handy-talky, menunggu arahan dari ruang kemudi.

Suasana kabin sejenak hening. Tak ada percakapan lagi selama menunggu.

Satu per satu dari kami berdelapan telah mendapat giliran untuk bercerita. Atas usulan Althien, kami menumpahkan perasaan yang semula lebih banyak kami pendam. Berbagi cerita dengan sesama keluarga korban, menurutnya, akan membantu meringankan beban. Atas nama solidaritas sebagai sesama keluarga korban, satu per satu dari kami kemudian mulai bercerita tidak lama setelah kapal berangkat dari pelabuhan.

Advertisements