Cerpen Mawaddah Maririma (Analisa, 04 September 2019)

Marla ilustrasi Alwie - Analisaw.jpg
Marla ilustrasi Alwie/Analisa 

Betapa tersiksanya batinku, Marla. Setiap hari berkutit pada genangan kenangan. Telah kupaksa untuk berlari sejauh mungkin dari tempatmu berdiri, tapi seolah kau terus ikut bersama diriku. Apa benar kau menanam benih dirimu di hatiku? Dan kini kau tumbuh dan mekar tanpa pernah layu? Tolonglah, pergi. Aku sudah terlalu lelah.

Sudah delapan tahun, Marla tumbuh di kepalaku. Setiap hari, rantingnya bercabang sepuluh, akarnya menyembul keluar, daunnya menerbangkan kenangan, batangnya berdiri kokoh, dan paling parah buahnya ranum sebesar kepalaku. Bayangkan setiap harinya aku harus memikul semua itu. Sebegitu terkutuknya aku sampai nasib sedemikian pekat menghampiriku?

Sampai pada akhirnya, aku memvonis diri, menderita kanker otak karena terlalu sering memikirkan Marla. Bahkan dua minggu lalu, aku terserang penyakit hati. Menurutku, hati ini membengkak, karena kepenuhan hal tentang Marla. Aku sadar, perempuan itu telah berbuat keji. Dia pembunuh berdarah dingin yang pelan-pelan membawaku ke ambang kematian.

Setelah kupikir-pikir, aku mulai melupakan Marla. Tapi dia datang lagi malam itu, bertandang lewat mimpi. Marla memang sering mempermainkanku. Ia senang bermain tarik ulur. Seminggu, dia biarkan aku haus rindu. Seminggu kemudian, dia biarkan aku melepasnya. Seminggu kemudian lagi, dia bunuh aku lewat senyum. Seminggu setelah semua itu, aku berguling-guling menahan sakit karena memikirkan Marla.

Memang, aku tidak pernah berdaya di hadapankan pada perempuan itu. Memang, pertemuan itu tanpa kata tanpa cerita. Tapi tatapan matanya mampu menembus ruang tersembunyi di kalbu, yang bisa membuatku mati seketika. Jujur, aku tidak sedang berhiperbola semata atau membuat kata-kata klise, aku benar-benar telah direnggutnya.

Bayangkan, setiap hari aku duduk termenung seperti orang gila di sawah, hanya untuk menunggu dia datang. Pernah satu harian aku di sana, tidak peduli hujan sesekali menyapa, tidak peduli terik menyengat kulit, tidak peduli aku belum makan seharian. Aku hanya butuh obat: Marla.

Setahun lalu sebelum dia pergi, ia duduk di gubuk sawah dengan payung putih senada dengan warna baju kurungnya. Seolah hari itu, dia sedang syuting film bernuasa drama, rambutnya disibakkan angin perlahan-lahan, senyumnya rekah seperti mawar, tawanya nyaring menggelitik telinga. Seakan waktu bergerak lambat, petani-petani mematung, hujan terhenti seperti dibekukan, hanya Marla dan aku yang saling bergerak pandang. Sungguh, aku telah berkhayal yang tidak-tidak.

Advertisements