Cerpen Miftachur Rozak (Radar Jombang, 01 September 2019)

Mahabbah Sulaiman ilustrasi Istimewa.jpg
Mahabbah Sulaiman ilustrasi Istimewa 

Malam-malamku tenggelam memikirkannya. Sampai-sampai aku sering memastikan: jika sepasang sandal berwarna biru muda dan bercorak agak kekuning-kuningan masih ada di tangga serambi masjid, maka perempuan itu pasti masih ada di dalam masjid. Aku akan terus menunggunya. Menunggu dan bersandar pada tiang penyangga beduk yang berdiri di pojok serambi masjid. Aku tidak pernah menggoda atau sekedar memanggil perempuan  itu. Bahkan aku tidak pernah memandangnya terlalu lama. Bagiku: memandang sandalnya saja sudah cukup. Sepasang sandal itu sungguh mengobati rasa yang bergejolak di hatiku. Entah apa yang aku rasakan saat itu. Mungkin aku mulai jatuh cinta. Cinta pertama tepatnya.

***

Perjumpaanku dengan perempuan itu bermula dari sepasang sandal. Perempuan dari pesantren, yang hendak berangkat menuju masjid untuk mengikuti pengajian. Perempuan tersebut tidak  memakai sandal. Entah, hilang atau dipakai temannya. Hal itu sering terjadi di pesantrennya. Sehingga dagangan sandalku cepat habis. Toko sandal satu-satunya yang berada di pesantren. Toko sandal yang berdiri tepat di samping pagar Masjid.

“Mas berapa harga sandal yang ini?” sembari menunjuk sebuah sandal, perempuan itu bertanya padaku. Perempuan itu fokus pada sandal. Tanpa memerhatikanku yang sedang terkagum melihatnya

“Mas berapa harganya?” sampai berulang kali perempuan itu bertanya.

“Oh iya maaf. Yang mana mbk?” sambil gugup aku menjawab.

“Yang berwarna biru ini. Berapa?”

“Oh itu?. Dua puluh ribu mbak.”

Aku terus memandanginya. Entah ada apa ini dengan perasaanku. Semuanya kacau. Padahal sudah banyak santri-santri putri yang sering membeli sandal di tempatku. Namun, baru kali ini aku tercengang dan takjub melihat pembeli itu. Seorang perempuan yang tidak memakai sandal masuk ke toko; membeli sandal berwarna biru. Kemudian perempuan itu pergi dan menuju masjid tempat pengajian berlangsung. Akupun terus  memandanginya sampai perempuan itu masuk dan duduk di serambi masjid.

“Siapakah perempuan itu? siapakah namanya? baru kali ini ia datang ke toko. Namun ia mampu membuat hatiku bergejolak.”pikiranku sudah kacau. Entah, ini musibah atau anugerah.

***

Selain menjual sandal, aku juga seorang muazin. Bertanggung jawab mengumandangkan azan dikala Magrib datang. Mungkin, karena terlalu lamanya aku mengemban tugas ini, hingga suara khasku dihafal oleh santri-santri dan penduduk yang ada di pesantren. Tak heran jika aku sering dijuluki sang penjual sandal serta penyeru azan.

Sudah sangat lama aku menjual sandal sembari menjadi muazin. Seiring berjalannya waktu, akupun menyadari, secara umur aku sudah dewasa. Sudah mumpuni jika cinta hadir dalam diriku. Cinta yang datang perantara sepasang sandal. Hatiku  luluh dalam sekejab: ketika perempuan itu berangkat menuju masjid. Aku tak mampu menyembunyikan rasa. Hingga malam-malamku diderai oleh rasa yang membuat gundah oleh bayang-bayang perempuan itu. Aku mulai memohon. Mualai berdoa pada tuhan penguasa cinta.

“Ya Allah, jika perempuan itu adalah yang terbaik untukku, maka ketuklah hatinya untukku.”dalam malam-malamku bermahabbah.

Hingga suatu malam. Tepatnya sepertiga malam: aku bangun dari sujudku. Tiba-tiba aku teringat tentang kisah surat cinta Nabi Sulaiman As kepada Ratu Bilqis. Surat cinta yang berisi mahabbah luar biasa.” Apakah aku harus merapalkan mahabbah ini untuk menaklukanmu: wahai perempuan yang entah siapa namamu?” Aku mulai mengatur siasat. Hingga Aku benar-benar merapalkan mahabbah tersebut. Dengan terus bermunajat kepada tuhanku, Aku terus merapal doa Nabi Sulaiman As.

Innahuminsulaimana wainnahu bismillahirahmanirahim  alata’lualaiha wa’tunimuslimin.”  Doa tersebut terus aku rapalkan hingga Subuh datang membelaiku.

Setelah malam-malam kegundahan itu berlalu. Aku merasa ada ketenangan dalam hatiku. Aku mendapat hidayah dari doa Nabi Sulaiman As. Hingga rasa percaya diri dalam sanubariku kian menguat. Bahkan aku sudah mulai yakin jika harus berhadapan dengan perempuan yang selama ini selalu membuat gundah hatiku.

***

Pagi itu, langitpun menampakkan wajah cerahnya. Secerah hatiku yang mulai mencair dari kebekuan cinta yang tak kunjung kepastiannya. Seperti kegiatan biasanya. Aku mulai membuka toko sandal sembari membersihkannya. Di tengah kegiatan itu, tiba-tiba saja aku mulai merasa berbinar-binar. Berdetak semakin kencang bagai suara beduk yang ditabuh sebelum azan. Nampaknya, perempuan dambaan itu lewat di depan toko. Perempuan itu memakai baju rapi serta jaket abu-abu. Tas ransel yang ia kenakan,  terlihat penuh. Perempuan itu berjalan cepat seperti terburu-buru. Sontak akupun langsung mengikuti. Akupun lupa dan tak sempat menutup toko sandalku.

Perempuan itu menuju halte. Tepat di sebelah jalan keluar dari masjid pesantren. Taklama kemudian, perempuan itu naik sebuah bus jurusan luar kota. Akupun ikut naik bus yang sama, tanpa sepengatahuan perempuan itu. Dengan keyakinan serta rasa penasarnaku, aku langsung duduk di sebelah perempuan itu.

“Mas Ridho?” dengan kaget perempuan itu menyapaku.

Akupun lebih kaget “ Loh, kok kenal sama saya mbk?”

“Siapa sih yang tidak kenal dengan Mas. Yang suara azannya selalu menggetarkan jiwa. Oh iya, mas Ridho mau kemana?”senyum serta pertanyaan perempuan itu semakin membuatku setengah malu dan penasaran.

“Emm, saya mau ke itu. ke tujuan yang sama seperti mbak.” Sambil gugup aku menjawab.

“Loh. Mau kerumahku? Jangan mas, tidak enak sama orang tua. Saya sungkan sama ayah.”

Aku tidak memedulikan jawaban itu. Aku mulai menceritakan semua yang aku alami. Mulai dari sepasang sandal hingga malam-malam kegundahanku. Hingga hati yang terketuk dan luluh oleh cinta yang datang tiba-tiba. Aku  juga bercerita, bahwa aku pernah membaca mahabbah Nabi Sulaiman untuknya. Ia pun langsung tersenyum mendengarnya, sembari  menjelaskan: bahwa sebenarnya hatinya juga sering luluh ketika azan magrib dikumandanngkan. Ia terketuk oleh merdunya suara adzan itu. Iya juga merasakan hal yang sama. Bahkan sebelum sepasang sandal itu dimilikinya. Namun apa daya. Ia hanya seorang santri perempuan. Yang tidak sopan jika mengucapkan rasa lebih dulu.

“Mas Ridho, kembalilah kepesantren. Jika mas benar-benar jatuh hati denganku. Maka berkunjunglah ke rumahku, khitbahlah aku ke orang tuaku. Namun jangan bareng sama aku. Aku tidak enak sama orang tuaku. Namaku Nisa, orang-orang di desaku sudah banyak yang kenal denganku.” Sambil menyodorkan alamat rumahnya.

“Bagaimana aku mengkhitbahmu?, apa yang harus aku sampaikan ke orang tuamu?”

“Bukankah Mas Ridho tahu rahasia mahabbah Nabi Sulaiman?, bacakanlan untuk ayahku.”

Akupun merasa lega dengan jawaban itu. Aku segera turun dari bus. Aku mencari bus jurusan kembali ke pesantren. Dan akupun terus bermunajat di malam-malamku. Aku berdoa untuk orang tua Nisa.

***

Tiga hari setelah pertemuan di bus itu. Aku berkunjung ke rumah orang tua Nisa. Berbekal alamat yang pernah diberikan Nisa untukku. Sampailah aku  di rumah Nisa. Aku langsung disambut oleh ayahnya Nisa.

“Ridho, silahkan duduk nak” Suara yang ramah dan penuh kegembiraan terdengar dari ayah Nisa.

“emm, ini ya wajah seorang muazin dari pesantren itu? Sudah lama aku ingin tahu tentangmu nak. Kini engkau yang datang sendiri ke rumahku.” Pujian dari ayah Nisa itu  membuatku  bingung dan heran. Hingga akupun tak mampu membalas pertanyaan itu.

“jadi, kapan orang tuamu ke sini? Ya, semacam silaturahmi sama keluargan ini.”

Akupun semakin bingung. Akupun menghela napas panjang dan menjawab “Segera.” ***

 

Jombang, 2019

Miftachur Rozak (Bang Jack). Tinggal dan Lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Mengabdi sebagai Guru Bahasa Indonesia di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karyanya pernah dimuat Riau Pos, Medan Pos, Fajar Maksar, Radar Mojokerto, dan Radar Jombang. Facebook di Miftachur Rozak.