Cerpen Bamby Cahyadi (Tribun Jabar, 01 September 2019)

Kronologi Pembunuhan ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Kronologi Pembunuhan ilustrasi Tribun Jabar 

EMAK Eti memang merasa ada yang tak beres dengan anaknya, Sumarna, pagi ini. Tidak seperti biasanya anak keduanya itu bangun siang, sampai-sampai ia tak bisa mengantarkan adiknya ke sekolah. Dari Gang Lengkong, Desa Tawangsari, perempuan berusia 65 tahun tersebut buru-buru ke tempat anaknya di ujung desa. Hatinya mendadak merasa cemas. Sakitkah Sumarna?

“Apa sudah pergi kerja anak saya?” tanya Emak Eti kepada pemilik warung yang berjualan dekat rumah Sumarna.

“Belum tampak, Mak. Barangkali masih tidur. Semalam ada tamu di sana!” jawab yang ditanya setengah berteriak.

Perasaan seorang Ibu, tiba-tiba membuat Emak Eti makin gelisah. Sesampai di rumah Sumarna, diketuk-ketuknya pintu rumah anaknya, tapi tak ada jawaban dari dalam. Biasanya memang begitu, apabila anaknya sudah berangkat kerja, pintu pasti telah terkunci. Tetapi, tak biasa Sumarna berangkat kerja tanpa diketahui oleh tetangga-tetangganya.

Karena rasa khawatir yang begitu melilitnya, ia meminta beberapa tetangga Sumarna membuka paksa pintu rumah. Dibantu oleh empat orang tetangga, mereka mencoba mendobrak pintu. Namun tidak juga memberi hasil. Perempuan itu makin dilanda rasa cemas yang berkeriapan.

Dengan tangga kayu, perempuan itu mengintip ke kamar anaknya dari sela-sela kisi-kisi jendela. Betapa terperanjat, perempuan itu seperti tersengat aliran listrik ribuan voltase. Ia melihat seluruh kelambu berwarna merah. Hanya warna merah yang ia lihat dalam kamar yang remang itu.

Emak Eti tercekat beberapa saat. Ia berteriak-teriak, namun suaranya hampir tak terdengar. Kakinya bergetar lututnya terjebak dalam gemetar ketika melihat tubuh Sumarna tidur telentang dengan leher bersimbah darah. Menantunya, Euis, tengkurap, juga penuh darah. Sedangkan cucunya, Asep, yang baru berusia dua tahun, digenangi darah sekujur badannya.

Lemaslah sekujur tubuh Emak Eti, ia histeris dengan suara parau melihat pemandangan yang mengerikan yang terpampang di pelupuk matanya. “Ya, Allah. Oh Tuhan, anak-anak saya dibunuh!” Dengan sisa-sisa kekuatannya perempuan tua itu berusaha mendorong-dorong jendela kamar agar terbuka. Namun sia-sia.

Advertisements