Cerpen Erwin Setia (Jawa Pos, 01 September 2019)

Jakarta Bukan Kota yang Baik untuk Bersedih ilustrasi Budionow.jpg
Jakarta Bukan Kota yang Baik untuk Bersedih ilustrasi Budiono/Jawa Pos

KAU duduk di salah satu kursi tunggu dan mulai mengenang segalanya secara hati-hati.

Di Stasiun Manggarai, puluhan orang berlalu-lalang. Sebagian dalam langkah-langkah lambat, sebagian bergegas seperti mengejar sesuatu yang mudah lepas. Kau pikir, sebagaimana dirimu, tiap orang di stasiun ini pasti mempunyai kisah sedih masing-masing. Kisah-kisah yang akan membuat pemiliknya merasa muak dengan kehidupan dan ingin melompat ke semesta lain.

Melompat ke semesta lain—melarikan diri? Apakah itu yang sedang kau inginkan? Tidak, cepat-cepat kau menggeleng. Kau hanya ingin menenangkan diri sekaligus menata ingatan rapi-rapi. Kau mengira tidak ada waktu yang tepat untuk melakukan itu selain saat ini.

Dua kereta datang bersamaan dari dua arah yang berbeda.

Persis ketika jubelan orang keluar dari gerbong serupa telur-telur ikan, kau memikirkan tentang kepergian. Seseorang baru saja pergi dan keping-keping ingatan tentangnya menyerbumu seperti segerombolan orang yang keluar dari kereta.

“Raega.” Ia mengulurkan tangan kecokelatan dan berototnya kepadamu. Suaranya, kau ingat betul, sedikit serak tapi tidak membuatmu berpikir ia seorang pemalak atau sejenisnya. Justru keserakan itu menjadi kekhasan, semacam ciri yang membuatnya semakin mudah diingat. Kau menyambut ulurannya dan memperkenalkan nama.

Di mana peristiwa itu terjadi?

Matamu mencari plang stasiun, mengeja huruf-huruf tanpa suara. Tentu saja di sini. Di stasiun ini. Kejadian itu belum lama dan bukan sesuatu yang mudah dilupakan. Pertemuan pertama, kelahiran, kematian, pernikahan, perceraian, perpisahan; semuanya adalah hal yang sulit dilupakan. Kau mengamininya dan mulai mencari letak tisu di dalam tas tanganmu.

Tidak ada tisu di dalam tasmu. Kau luput membawanya. Kau juga tidak sempat membelinya dalam perjalanan pulang tadi. Barangkali kau memang tidak pernah mempersiapkan apa pun untuk menghadapi momen ini. Kau embuskan napas. Seorang petugas mencegah sekelompok orang yang ingin menerabas rel. Dengan wajah menegang, ia memberi instruksi tertentu kepada mereka sambil menunjuk arah di mana kepala kereta pelan-pelan menyembul. Mungkin dalam hatinya petugas itu berkata, “Hati-hati! Kalau tidak, kalian bisa mati sia-sia.”

Advertisements