Cerpen Wawan Kurniawan (Koran Tempo, 31 Agustus – 01 September 2019)

Sebuah Naskah Kehidupan Seorang Penulis ilustrasi Koran Tempow.jpg
Sebuah Naskah Kehidupan Seorang Penulis ilustrasi Koran Tempo 

Naskah buku itu ditemukan beberapa hari setelah dia dimakamkan. Salah seorang anggota keluarganya membaca kemudian mulai bertanya-tanya, “Buku ini sebenarnya biografi atau autobiografi?” Tak ada nama penulis di halaman awal atau akhir. Naskah buku ini kemungkinan biografi. Dia telah menulis puluhan buku sejauh ini dan rencana untuk menerbitkan biografi memang sudah direncanakan sejak lama. Tapi mungkin saja ini autobiografi, mengingat penyakitnya yang saban hari membuatnya tak mampu melakukan apa-apa.

Beberapa bulan sebelum dia meninggal, penyakit yang menyerangnya telah melumpuhkan beberapa bagian tubuhnya, termasuk jemarinya yang bahkan tak lagi mampu digerakkan. Namun tekadnya yang kuat untuk melawan kondisinya membuat dia selalu tersenyum menyambut siapa saja yang mengunjunginya. Kerabat, keluarga, hingga perawat di rumah sakit merasakan hal serupa bahwa dia terlihat baik-baik saja meski di dalam tubuh penyakit itu menjalar terus-menerus.

“Tapi, jika ini autobiografi, siapa yang telah menulisnya sejauh ini? Bahkan cerita tentang penyakit dan kematiannya dijelaskan dengan lengkap.” Seseorang yang membaca naskah itu dibuat membatin dan menjawab pertanyaannya sendiri dengan kemungkinan-kemungkinan. Ada beberapa bagian cerita yang tak diketahui sebelumnya. Naskah itu benar-benar membuatnya kagum. Setelah membacanya beberapa waktu dengan sembunyi-sembunyi, dia berniat mengambil naskah itu. Pasalnya, ada beberapa cerita yang ingin dia baca berulang kali ditambah lagi ada niat terselubung yang hendak dia rencanakan. Dia berkesimpulan bahwa naskah ini amat penting baginya. Sungguh.

Dia hanya butuh waktu selama lima jam tiga puluh empat menit sekian detik untuk menamatkan naskahnya. Berselang dua menit, pikiran untuk mengambil naskah yang dia temukan terbersit amat kuat. Dengan tekadnya, dia merencanakan sesuatu untuk mengambil naskah itu. Dia tak ingin siapa pun mengetahui atau membacanya. Dia ingin menjalankan sebuah rencana.

***

Ayahku seorang penulis. Setelah menikah dan pindah ke Kota G, setelah sebelumnya menetap tujuh tahun di Kota M, dia terus menulis dan bertahan hidup dari menulis. Sulit kupercaya, hanya dengan menulis, dia bisa hidup bahagia dan lebih baik dari beberapa saudaranya yang bekerja di kantor, bekerja sebagai pengusaha, dan beberapa bekerja di bidang pemerintahan. Ayah juga menulis puisi, meskipun kuakui bahwa karya yang dihasilkan tak sebagus cerita pendek atau novel yang telah dia terbitkan. Bagi ayah, puisi menjadi terapi dan obat untuk menghilangkan kecemasan dan menghadirkan ketenangan. Beberapa puisinya juga diterbitkan dalam bentuk buku. Bahkan ayah memberikan mahar pernikahan kepada ibu berupa sebuah buku puisi.

Advertisements