Cerpen Yudik W (Rakyat Sultra, 26 Agustus 2019)

Rantas Asa ilustrasi Istimewa.jpg
Ustaz Abidin dan Corong Masjid ilustrasi Istimewa

Satu-satunya yang membedakan Ustaz Abidin dan ustaz lainnya di desa saya ialah kegemarannya mengetes suara corong masjid: sudah terdengar enak di telinga atau tidak. Biasanya Ustaz Abidin  melakukannya pada waktu menjelang salat Jumat. Sekitar pukul sembilan pagi pasti akan terdengar suara Ustaz Abidin lewat corong masjid, “Tes… tes… satu… dua… tiga… halooo…” Atau saat hendak diadakan acara di masjid seperti Maulid Nabi, isra Mikraj, dan pengajian-pengajian.

Saya tidak tahu sebenarnya mengapa guru saya itu punya kegemaran yang demikian. Melihat ustaz-ustaz yang ada di desa saya tidak satu pun yang punya kegemaran sama dengan beliau. Jadi wajar bila yang sering terdengar berbunyi adalah corong masjid dekat rumah saya. Bukan corong-corong masjid lainnya. Bahkan, menurut saya, corong itu juga yang paling nyaring.

Dengan suara yang begitu keras, sudah barang tentu ada yang tak suka dengan kegemaran Ustaz Abidin itu lantaran mengganggu. Saya sering tak sengaja mendengar omongan orang-orang yang menganggap bahwa kegemaran Ustaz Abidin itu hanya bikin ramai saja. Apalagi jika ia mengetesnya pada siang hari. Orang-orang ada yang berkomentar, “Duh, ganggu orang tidur siang saja.” Atau jika di malam hari, orang-orang yang rumahnya berdekatan dengan masjid, pasti sebal sebab suara corong masjid akan mengalahkan suara dari televisi yang tengah menayangkan acara sinetron.

“Kok dicoba-coba terus sih? Corong sudah bagus mau diganti-ganti.” Komentar orang-orang yang geram pada kelakuan Ustaz Abidin. Tetapi, meski mereka tak suka, setahuku tak pernah ada yang sampai melontarkan kata tak sopan untuk Ustaz Abidin. Barangkali mereka paham bahwa Ustaz Abidin adalah tokoh yang dihormati oleh warga.

Namun, tak semua orang membenci kegemaran ustaz yang sudah menduda selama dua belas tahun itu. Ada juga orang yang santai-santai saja dan tak mau menganggap itu hal yang mengganggu. Bahkan mereka menanggapinya sambil bercanda. Misalnya, jika mereka melihat Ustaz Abidin pukul sembilan pada hari Jumat menuju masjid, mereka pun akan menebak, “Pasti sebentar lagi ada suara ‘cek…cek…satu.. dua… tiga… suara dicoba… halo…” sembari tertawa bersama. Tapi saya tahu candaan itu tidak untuk menghina Ustaz Abidin.

Advertisements