Cerpen Ulfatin Ch (Kedaulatan Rakyat, 25 Agustus 2019)

Tiga Perempuan Senja ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Tiga Perempuan Senja ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

MIKA baru saja pulang, ketika matahari sudah di ujung barat menekukkan kepala. Tak ada yang berubah dari celoteh burung kecil di atas pohon jambu air yang penuh bunga itu. Hanya sesekali kaki-kaki kecil burung itu menggoyang ranting pohon jambu, menjatuhkan sari bunganya dan bertebaran memenuhi halaman.

Nince melongok dari jendela, memastikan Mika, kakaknya yang datang. Ia buru-buru membukakan pintu garasi dan kembali duduk di dekat jendela, memegang cermin kecil dan mencoba mematutkan tatanan rambutnya yang tidak hitam lagi. Mika menatap adiknya dan menghela napas, mengulurkan satu bungkusan plastik.

“Apa, Mik?” tanya Nince.

“Terang Bulan.” Kata Mika. “Dila mana, Nin?” tanya Mika kemudian. Nince tak menjawab, dia hanya mengarahkan pandangannya ke kamar dan memastikan Dila ada di kamarnya. Mika mengikuti arah pandangan yang dituju sorot mata Nince dan membuka pintu kamar Dila.

“Dila, bangun. Sudah sore!” kata Mika pelan.

“Heehhmm,” lenguh Dila masih didera kantuk. Dia hanya menggeser-geser tubuhnya enggan membuka matanya.

“Dilaaa,” seru Mika sedikit keras kembali membangunkan adiknya. Nince masih asyik di depan jendela bersendukul kaki di atas kursi sambil menikmati terang bulan yang dibawakan kakaknya. Mereka, Mika, Nince dan Dilla tiga bersaudara yang tinggal di dalam satu rumah peninggalan orangtuanya. Sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu, bapak-ibunya pergi meninggalkan mereka karena suatu kecelakaan yang tak bisa mereka menolak dan akhirnya  mengantar kedua orangtuanya pada akhir hidup yang digariskan-Nya. Tinggallah tiga anak-anaknya yang masih belasan tahun dan belum banyak makan garam kehidupan. Mika, anak terbesar saat itu baru kelas tiga SMA. Dialah satu-satunya harapan bagi Nince dan Dilla yang menggantikan orangtua sekaligus menjadi kakaknya. Tanpa pikir panjang, Mika pun mencari kerja separuh waktu sambil merampungkan sekolahnya yang tinggal beberapa bulan lagi. Dia pun bersyukur bias mendapat kesempatan kerja sampingan tak jauh dari rumahnya.

Setamat sekolahnya, Mika mulai kerja fulltime dan gajinya cukup lumayan bisa mencukupi adik-adiknya juga membantu uang sekolah Dilla adiknya. Sedang Nince sendiri, sepeninggal orangtuanya, dia sedikit mengalami gangguan kejiwaan. Dia tak mau sekolah lagi dan lebih senang menyendiri di pojok ruang di bawah jendela menatap burung-burung yang hinggap di pohon jambu air depan rumahnya. Sesekali memanjat pohon jambu dan memetik buahnya beberapa biji, dibawa masuk rumah dan dimakan sendiri. Terkadang Dilla ikut menikmati jambu air hasil petikan Nince.

Advertisements