Cerpen Budi Darma (Kompas, 25 Agustus 2019)

Tamu ilustrasi Moelyoto - Kompasw.jpg
Tamu ilustrasi Moelyoto/Kompas

Dengan mengendarai truk yang saya supiri sendiri, sekitar jam 14 saya dan istri memasuki kola kecil K, dan begitu sampai di rumah sewa, yang uang sewanya sudah saya kirim tiga minggu lalu, truk berhenti, dan anak pemilik rumah menyerahkan kunci. kemudian pergi.

Saya dan istri menurunkan semua barang, memasukkannya ke rumah, dan setelah semua tertata, saya mengambil kalender untuk saya gantung di dinding. Hari Kamis, 15 Juni, 1950.

Sekitar jam 16, ketika saya dan istri belum sempat mandi, seorang laki-laki tua berjanggut panjang, memakai sarung, baju beskap, dan tutup kepala blangkon, serta memakai tongkat, dating, dan memperkenalkan diri, namanya Manggolo. Anak dia, Suroto, adalah satu-satunya pemilik foto studio di kota ini. Dulu ada beberapa foto studio, semua bangkrut, tidak mampu melawan kehebatan Suroto.

Setelah saya persilakan duduk, Manggolo bercerita mengenai kehebatan anaknya. Tapi sayang, katanya, menantunya, yaitu istri Suroto, benar-benar jahat.

“Menantu saya tahu, kalau saya tidak minum kopi paling sedikit dua kali sehari, saya pasti mati. Justru karena itu, dia tidak mau memberi kopi. Kopi disimpan di lemari, di kunci, dan hanya dia dan Suroto yang boleh minum. Saya tahu menantu saya menyuruh saya minggat, tapi kemana? Rumah itu rumah saya, dan Suroto dan istrinya bisa tinggal di rumah saya hanya karena saya kasihan. Suroto tidak punya rumah sendiri, apa lagi istrinya. Istri Suroto, yaitu menantu saya, berasal dari keluarga jembel, mirip-mirip pengemis.”

Istri saya tanggap, maka secangkir kopi dan kue pun disajikan, dan dengan wajah puas, Manggolo meminum kopi itu perlahan-lahan, mengambil kue, memamahnya perlahan-lahan, lalu bersendawa. Lalu dia mengeluarkan rokok kretek, kebetulan hanya tinggal satu, kemudian meminjam korek, dan mulailah merokok. Setelah rokoknya hampir habis, dia tanya apakah saya punya rokok. Sebetulnya saya tidak merokok, tapi sebelum saya berangkat ke kota ini, beberapa teman memberi rokok, siapa tahu ada manfaatnya nanti.

Dua hari kemudian dia datang lagi, sore hari lagi, minta kopi lagi, dan juga rokok.

Barulah saya tahu, bahwa setiap pagi, siang, dan sore pasti Manggolo keluar rumah, berjalan perlahan-lahan dibantu tongkatnya, mendatangi sekian banyak rumah secara bergilir, minta kopi dan rokok.

Advertisements