Cerpen Astuti Parengkuh (Tribun Jabar, 25 Agustus 2019)

Senja di Atas Kereta ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Senja di Atas Kereta ilustrasi Tribun Jabar

SUNGGUH! Aku tidak tahu dengan pasti alasan mengapa Ibu tiba-tiba mengajakku pergi ke Yogya mendadak begini. Kaget saja ketika Ibu tidak lagi mengalami fobia terhadap ular besi raksasa itu. Tapi aku tidak sepenuhnya percaya. Bukan karena ibuku penyuka film-film bertemakan kejahatan di kereta api macam Taking of Pelham, Last Passenger, atau Murder on The Orient Express. Ibu juga tidak punya kekhawatiran atas pelayanan kereta di zaman dulu, bagaimana manusia dan hewan seperti kambing dan ayam berada dalam satu gerbong.

“Bawa saja satu potong baju, barangkali kita akan menginap. Kita akan naik kereta!” kata Ibu mengagetkanku.

“Tidak! Ibu tidak akan naik kereta, seperti janji Ibu waktu dulu!” seruku menaikkan intonasi suara. Teriakanku seperti kenek angkutan kota di jam-jam kepulangan anak-anak sekolah.

“Ibu mau pergi berkereta dan kau temani ibu,” jawab Ibu lembut.

“Serius, nih, Bu, kita akan naik kereta?” kataku dengan nada tanya.

“Benar, Ven, ibu tak pernah bohong sama kamu, kan?”

“Ibu sudah persiapan sejak kapan?” aku masih menunjukkan keheranan.

“Dua jam yang lalu,” jawab Ibu.

Kulihat di pangkuannya terdapat tas jinjing berukuran sedang yang biasa dia bawa jika kami menyempatkan diri pergi berdua dan menginap di daerah wisata. Ibu menyukai suasana pegunungan yang berhawa sejuk atau tamasya ke pantai yang penuh gemuruh suara ombak laut.

Ibu memanggil taksi, lalu beberapa menit kemudian kendaraan roda empat itu datang. Kereta akan berangkat dua puluh menit lagi. Untung lalu lintas tak begitu padat. Jalanan kota seakan menjadi sahabat.

Dahulu, Ibu penyuka kereta api untuk sebuah perjalanan pendek 1 jam ke kota yang berjarak 60 km itu darikota kami. Aku sering diajaknya untuk keperluan membeli barang-barang dagangan. Hampir setiap hari Minggu, Ibu selalu mempergunakan kuda besi itu sebagai salah satu alat transportasi.

Advertisements