Cerpen Utami Panca Dewi (Suara Merdeka, 25 Agustus 2019)

Sendainya Aku Tak Membunuhmu pada Malam Jahanam Itu ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Sendainya Aku Tak Membunuhmu pada Malam Jahanam Itu ilustrasi Suara Merdeka

Aku duduk di tempat tidur, beralas kasur tipis berbau kapur barus. Sepertinya benda putih bulat dan kecil-kecil itu sengaja disebar Bu Kepala untuk menghalau bau apak. Dia perempuan bertubuh gemuk dengan gumpalan lemak di perut dan pantat. Kemarin, ia menerima amplop cokelat dari Mas Gunung, berisi beberapa puluh lembar uang bergambar mantan presiden dan wakil presiden pertama negara kita. Untuk harga sebuah ‘kenyamanan’ yang tetap saja tak terasa nyaman.

“O (menyebutkan namaku), ayo aku antar kamu pindah ke cangkangmu yang baru!” suara Bu Kepala yang bertimbre berat terasa makin pekat dengan seringai yang menghiasi bibir tebalnya. Ialah petugas yang bertanggung jawab mengelola Blok C. Aku masih harus selalu berurusan dengan dia, karena ‘cangkang baru’ yang dia katakana masih termasuk Blok C.

Sebuah kamar bercat putih, berukuran sekitar 2 x 1,5 meter menyambutku. Putih yang tak lagi putih. Beberapa coretan tinta dan sekumpulan bercak noda dari berwarna cokelat sampai kehitaman menghiasi dinding kamarku yang baru. Mungkin bekas luapan air hujan yang merembes masuk melalui plafon, mungkin bekas tahi cicak yang membuang kotoran tanpa permisi. Barangkali juga bekas noda darah dari bangkai nyamuk yang dibunuh penghuni sebelumnya dengan menepuk tubuh kecilnya ke dinding. Seperti itukah aku telah menghabisimu? Aku menggigit bibir sambil menutup wajah dengan kedua tangan.

Ada satu tempat tidur, tanpa lemari atau meja, dan tanpa jendela. Hanya sebuah ventilasi kecil berteralis besi, tepat di atas tempatku berbaring, yang membuatku tahu ternyata hari sudah pagi. Dari kisi-kisi ventilasi itu, cahaya matahari pagi leluasa masuk. Beberapa saat setelahnya, lengking bel pukul tujuh pagi pun terdengar, mengundang semua penghuni blok untuk sarapan. Tentu kamar ini masih lebih ‘mewah’ daripada kamar yang kutempati sebelumnya. Membayangkan aku harus berbagi udara bersama 22 perempuan lain, tidur berderet-deret dengan jarak tak terlalu jauh, aku merasa seperti ikan asin lembek yang menyedihkan.

Kemarin Bapak dan Sibu baru saja datang, jauh-jauh dari Kabupaten B, di pesisir utara Pulau Jawa. Mereka bisa menyusulku ke Ibu Kota atas bantuan Mas Gunung. Di telingaku masih terngiang isak tangis Sibu dan tepukan di punggung penuh simpati dari Bapak. Aku ingin memberitahumu tentang satu hal: rasa iba adalah racun yang akan membunuhmu secara perlahan. Terbukti, semalam aku jadi sulit tidur karena merasa ngilu di sekujur tubuh. Dan tentu saja ngilu yang paling parah terjadi pada hatiku.

Advertisements