Cerpen Miftachur Rozak (Medan Pos, 25 Agustus 2019)

Renjana Rindu Datang Memburu ilustrasi Medan Posw.jpg
Renjana Rindu Datang Memburu ilustrasi Medan Pos

Bau pesing yang menyeruak. Sisa tembakau yang berserakan. Coretan-coretan abstrak nampak mengacaukan dinding-dinding penjara. Sungguh, malam ini dingin sekali. Dinginnya menusuk sampai tulang-tulangku. Mungkin, hanya istriku yang mampu menguraikan dinginnya malam-malam ini. Mengubah suhu minus menjadi kehangat pelipur rindu. Hangat setiap malam dan setiap waktu. Aku merindukan kehangatan. Aku ingin kehangatan di malam ini. Malam pertama di penjara yang biadab ini.  Penjara untuk orang yang belum tentu salahnya. Korban fitnah atas kedengkian dan kebiadaban.

Sore hari; menjelang Maghrib; aku disergap dengan cara tiba-tiba. Dua orang berbadan kekar: yang satu rambutnya panjang terikat, satunya lagi tampak botak mengkilat. Keduanya sama-sama bermuka garang. Memakai jaket kulit berwarna hitam. Bersepatu kulit bersemir hitam mengkilat; Kilatnya seirama dengan kepalanya yang botak itu.

Aku bingung. Mau dibawa kemana aku ini. Tidak ada negosiasi. Tidak ada kompromi.

“Selamat sore. Bapak kami tangkap. Untuk penjelasannya nanti di kantor” sambil menodongkan pistol ke punggung kiriku; salah satu dari mereka memborgol kedua tanganku.

Aku kaget. Aku gemetar. Aku tidak berani berteriak. Aku takut jika pistol itu memuntahkan timah panasnya. Aku hanya mampu bersuara lirih.

“Bapak siapa?, salah apa saya?”

“Nanti dijelaskan di kantor,” sambil menggelendengku dan memaksaku untuk naik ke mobil.”

Sementara orang-orang di sekelilingku hanya bisa melihatku. Mungkin mereka tidak mau tahu. Mereka lebih memilih aman dari masah orang lain, ketimbang ikut campur dalam masalahku.

Aku digelendeng menuju dan masuk mobil. Terlihat ada satu orang lagi di kursi depan sedang menyetir. Ia berjaket kulit hitam, serta topi seperti seniman. Sementara aku didorong untuk duduk di kursi belakang dengan dijaga kedua orang yang kekar itu.

Aku semakin takut. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Hingga tas, HP dan buku-buku yang saya baca di warung free wifi tadi tertinggal. Entah, bagaimana nasipnya barang-barangku itu. Mungkin sudah diamankan oleh orang-orang yang terbengong melihatku tadi. Mungkin juga diamankan oleh penjaga warung itu.

***

Advertisements