Cerpen Restu Ashari Putra (Republika, 25 Agustus 2019)

Proyek Pencabut Nyawa ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Proyek Pencabut Nyawa ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Hamid sudah lama sekali mengurung dirinya di dalam kamar. Ia merasa harus menyelesaikan proyek menulis buku yang sudah lama terabaikan. Tenggat waktu proyek buku yang ia terima selama 30 hari tinggal tersisa tiga hari lagi.

Inilah satu-satunya pekerjaan dan pertama ia terima setelah satu bulan ini menganggur mengandalkan sisa tabungan yang mulai menipis. Kelaparan di dalam kamar pengap. Untungnya ibu kos tidak mengejar-ngejarnya untuk melunasi sisa sewa yang sudah dibayar setengah tahun. Uang yang ia dapat dari hasil kerja serabutan mengerjakan sejumlah proyek.

Kok bisa ia dapat proyek pekerjaan yang super mewah seperti menulis itu? Adalah teman kuliahnya, Hamdan, yang membawa Hamid ke dalam proyek menulis buku itu. Hamdan tahu sejak lama Hamid meninggalkan bakatnya menulis itu demi mendapatkan uang lebih cepat.

Ketika Hamid butuh uang dan tawaran datang dengan jumlah menggiurkan, tak ada lagi alasannya menolak. Ia langsung menyanggupi dengan daya yang ia punya: sedikit riset, imajinasi, laptop pinjaman, dan satu lengan yang ia punya.

Sejak kecelakaan 10 tahun lalu, Hamid harus kehilangan lengan sebelahnya. Kecelakaan yang membuatnya sempat putus asa. Wajahnya rusak dan lengan kirinya patah.

Setelah tubuh dirasa membaik dan bisa diajak beraktivitas, ia berkelana menghabiskan masa buruknya ke berbagai tempat. Melakukan pekerjaan apa saja. Ijazah sarjananya tak berguna, alih-alih ia sudah ogah mengandalkan ijazahnya itu.

Kini di kamar kontrakan yang pengap ini, ia hanya menatap satu kalimat dengan kursor berkedip-kedip meminta proyek menulis diselesaikan.

Proyek menulis buku ini selalu membuatnya sakit kepala. Ia selalu bergumam bahwa proyek ini adalah kejahatan paling brengsek yang bisa menyeretnya ke kehidupan lebih buruk. Itulah risiko terbesarnya.

Namun, uang 100 juta membuatnya mau tak mau mesti membuang ketakutan itu jauh-jauh. Ia tak peduli dengan segala risiko bahkan ketika ancaman pembunuhan datang padanya.

Advertisements