Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 25 Agustus 2019)

Matinya Seorang Peladang ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Matinya Seorang Peladang ilustrasi Budiono/Jawa Pos

IA tahu, ke ladang, ia harus kembali. Tentu. Meski kini ia harus menebas ladang baru, jauh di balik bukit yang dipercaya angker. Karena itu, hatinya sedikit cemas. Bukan, bukan takut pada segala mambang dan siluman yang konon bermukim di sana sejak kampung belum berdiri, atau lantaran alangkah jauh ia harus mengayuh sepeda kumbang [1] ke sana…

Kujang mengisap tembakau lintingannya dalamdalam. Diperhatikannya asap kelabu yang keluar dari mulut dan hidungnya itu meliuk-liuk ke luar jendela. Lenyap diterpa angin yang semilir. Langit petang sedikit mendung, walau hujan belum juga turun. Tapi ia yakin, seminggu atau dua minggu ke depan, musim hujan bakal segera bertandang, menyuburkan kembali tanah yang rekah, menghijaukan rumput dan pepohonan. Ah, betapa ia merindukan bau tanah sehabis hujan, aroma humus dan merdu kicau burung-burung di rumpun sahang! Bertahun-tahun, kerinduan itu menderanya, membuat hari-hari tuanya tak lagi sedamai dulu.

Ya, sejak ia menyerahkan ladang subur itu—kebon, ia lebih suka menyebutnya demikian sebagaimana orang-orang kampungnya yang lain—kepada anak bungsunya, dengan hati yang tak sepenuhnya ikhlas. Sepetak ladang terakhir yang ditebasnya sebelum harga lada jatuh. Tentu, tak bakal ia relakan ladang yang hijau itu kepada si Amir, kalau bukan tak sampai hati mendengar anak bungsu tersayang itu merengek-rengek. Juga karena Aminah, istrinya, ikut-ikutan terus membujuk rayu.

“Amir baru menikah,” tukas Aminah, “Apa Bapak tega melihat anak kita hidup morat-marit? Belum lagi gunjingan orang nantinya kalau anak kita tak becus menghidupi anak orang!”

Ia pun goyah, limbung, dan akhirnya, sekali lagi, tak sepenuhnya ikhlas menyerahkan ladang penghabisan itu kepada Amir untuk lokasi penambangan. Si bungsu memang memperoleh hasil yang cukup layak, pasir timah ternyata cukup tebal lapisannya di bawah ladang. Sehingga Amir kemudian bisa membangun sebuah rumah semipermanen dan membeli sepeda motor baru. Tapi, betapa tak teganya Kujang ketika menyambangi bekas ladangnya itu dan melihat tanah yang porak-poranda terbongkar, tinggal gundukan-gundukan pasir dengan lubang-lubang menganga. Hampir terisak ia mengingat batangbatang sahangnya yang hijau, yang sebentar akan berbunga. Tentu jangan ditanya betapa perih hatinya, lebih dari tertusuk duri rukem atau tersengat tawon. Meskipun Amir kemudian memberikan untuknya ganti yang pantas berupa seorang cucu perempuan yang lama ia idamkan, setelah ketiga anaknya yang lain melulu memberikan cucu laki-laki.

Advertisements