Cerpen Kak Ian (Denpost, 25 Agustus 2019)

Impian Najib ilustrasi Denpostw.jpg
Impian Najib ilustrasi Denpost

SEJAK mengajukan diri menjadi caleg, Najib sudah berusaha semaksimal mungkin. Semua ia kerahkan, dari menjual sawah, menjual ternak, sampai ‘menyekolahkan’ surat tanah miliknya ke pegadaian. Karena ia tidak ingin dalam pencalonan dirinya itu setengah-setengah.

Bagi Najib, apa yang bisa ia lakukan pasti dilakukannya. Asal itu dari milik pribadinya, harta bendanya. Jadi untuk apa disayang-sayang bila nanti ia terpilih semua akan kembali. Begitu benaknya bermain.

Namun Asih, istrinya tidak setuju jika suaminya itu ikutikutan mencalonkan diri menjadi anggota dewan. Ia hanya menginginkan suaminya lebih baik menjadi petani dan peternak saja. Karena sudah jelas hasilnya. Menjadi orang terpandang di kampungnya itu.

Akhirnya, sebagai istri yang amat peduli pada suaminya, Asih meminta Najib agar bisa mempertimbangkan kembali dalam pencalonan itu. Asih pun menasehatinya dengan baik-baik.

Didekatinya Najib yang saat itu sedang menghitung uang. Ia sedang mengalokasikan buat apa saja uang-uang itu. Sesekali mengetak-tik di ponsel seperti sedang berhubungan dengan seorang di luar sana.

“Abang, itu diminum dulu kopinya, nanti dingin!” ucap basa-basi Asih untuk memulai pembicaraan.

“Iya, terima kasih!” tukas Najib tanpa melihat Asih.

“Bang, boleh aku bicara?”

“Iya, mau bicara apa! Cepatan aku lagi menghitung uang!” Najib masih acuh pada kehadiran Asih.

“Memang Abang sudah yakin mau mencalonkan diri jadi caleg? Sedangkan Abang tidak pernah makan bangku sekolah tinggi. Aku takut nanti Abang dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengambil keuntungan semata,” Asih dengan sedikit agak takut pun menasihati Najib.

Najib yang mendengarkan ucapan Asih pun kalap. Istrinya kini sudah berani mempengaruhi kemantapan hatinya untuk menjadi anggota legislatif nantinya.

Advertisements