Cerpen Irfan Hasibuan (Analisa, 25 Agustus 2019)

Gimor ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Gimor ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

BUJAS! Sontak dia terkejut mengeram kesakitan. Kaki kanannya bengkak sehabis tertimpa buah kelapa sawit. Dia terduduk sambil memegang kaki kanannya yang lebam. Tak berapa lama, dia mengambil sebiji buah kelapa sawit untuk mengobati kakinya. Sesegera mungkin dia memecahkan buah kelapa sawit itu. Dia membalurkan ke kaki kanannya yang bengkak.

Biasanya buah kelapa sawit ampuh untuk meredakan nyeri sakit pada tubuh. Perlahan rasa sakit di kaki menghilang. Tinggal denyutnya saja yang tersisa. Seperti berjalan yang tersandung batu masa silam. Tentu perihnya yang dia dapat akan mengacaukan mimpinya mala mini.

“Istirahatkah kau dulu. Minum teh manis kau dulu, sudah inang siapkan tadi pagi. Kau ambil saja di tas kerja inang di pondok itu.” Inang menyuruhnya istirahat.

“Iya, Bang. Jangan terlalu dipaksakan yang bekerja itu,” ujar Ucok sambil memasukkan buah kelapa sakit ke atas angkong untuk dikumpulkan di depan pondok.

Gimor baru saja bisa bekerja hari ini setelah beberapa hari lalu dia tak dapat bekerja. Tiga hari yang lalu dia pergi ke kota. Di sana dia bertemu dengan opung Godang yang sedang membuka toko jam miliknya. Dia meminta tolong ke opung Godang agar bisa meminjamkannya uang untuk membiayai pengobatan istrinya. Sudah beberapa tahun ini, istrinya mengidap kanker rahim. Di mana membuat istrinya tidak bisa mengandung anak.

Matahari sudah melesat jauh melintasi kepalanya. Baru setengah pekerjaan yang di selesaikan Gimor. Buah sawit yang dikumpulkan Gimor, inang, dan Ucok harus dibawa ke pengepul agar bisa berganti dengan uang.

Azan Magrib berkumandang di langit senja. Inang menyuruh Gimor dan Ucok menghentikan pekerjaannya dan mengajak mereka pulang ke rumah. Sebelum pulang, buah sawit yang sudah terkumpul dimasukkan ke dalam keranjang buah yang besar untuk dibawa pulang ke rumah. Dua keranjang buah terisi penuh, berharap besok bisa mendapatkan banyak uang dari pengepul.

Setibanya di rumah, Gimor meletakkan buah sawit di samping rumahnya juga egrek diletakkan persis di atas tumpukan buah sawit. Semua peralatan pekerjaan sudah diletakkannya dengan rapi. Setelah itu, dia mengayunkan langkah kaki masuk menuju rumah.

Advertisements