Cerpen Beni Setia (Padang Ekspres, 25 Agustus 2019)

Diksi Kampung Tebu ilustrasi Orta - Padang Ekspresw
Diksi Kampung Tebu ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

KAMPUNG kami terletak di pertigaan jalan, titik belok dari jalur utama darat antara Surabaya dan Solo, ketika tak ingin ke Madiun dulu dan langsung ke Ngawi. Tak bertanda dan tak mempunyai keistimewaan khusus, selain kebun tebu yang seperti ada sepanjang saat—tergantung apa masih lahan baru disiapkan buat penanamn atau daun kering sedang dibersihkan dan pucuk dipanen untuk makanan sapi sebelum dibabat serta truk pengakut ke Pabrik Gula masuk ke tengah kebun. Itu yang tersisa, sebelumnya, dahulu, merupakan titik istirahat sebelum kendaraan dari Solo lanjut ke Surabaya ,dan sebaliknya, karenanya di sepanjang jalan di kampung kami banyak warung makan—sebelum akhirnya jalur jalan jadi baik, dan dari kampung kami ke Surabaya atau Solo hanya tiga  jam perjalanan dan tak seperti dulu, 5 jam perjalanan sehingga harus isirahat sebelum lepas Magrib melaju lagi.

Hanya ladang tebu—sekarang malah sudah jarang, dan tidak ada lagi yang tersisa di kampung kami, selain kebiasaan abai—, serta semacam paksaan agar petani menyewakan sawahnya utuk penanaman tebu, sehingga nyaris sepanjang waktu tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu kontrak sewa sawah itu usai dan melulu menganggur—sehingga mengambil kontrak sewa sawah baru sebelum masa sewa yang lama usai. Kondisi itu pelan mendidik para lelaki kampung kami jadi saat beruang suka foya-foya, sebelum pelan mengirit dan hidup subsistensi di sisa waktu. Merayakan hari kosong dengan berjemur di pagi hari, tidur menghindari gerah sampai petang, serta bersikerumun untuk mengobrol—dengan minum kopi dan merokok. Terkadang menenggak arak, judi, dan usil berpacaran secara rahasia dengan memanpaatkan liar ladang tebu yang lebat, tanah yang kerontang, dan kemegangguran—selingkuh. Mengisi waktu.

***

KONDISI itu yang membuat Genah kaget— mengalami gegar kebiasaan. Setidaknya ia wanita dari Surabaya, yang dinikahi Pancen, lelaki kampung kami, yang bekerja sebagai pesuruh di Kecamatan, dan lebih sering menghabiskan waktu buat mengobrol, merokok, dan judi sambil sesekali minum arak— ketika ada acara perayaan hajatan manten dan diadakan tanggapan tayub, dan seterusnya. Cenderung suka-suka dengan gaji yang kecil—tapi tetap ada—, berlainan dengan kebanyakan dari kami yang hanya bisa membagi-bagi uang kontrak sewa sawah untuk sekedar makan. Malah dapat uang fee ketika berkeliling memaksa agar pemilik sawah mau menyewakan sawahnya kalau sawah tak ingin terjepit ladang tebu yang cenderung dikeringkan menjelang panen—buat meningkatkan randemen kadar gula. Percuma bersawah, katanya—serta dengan fee dari kesuksesan mengikat banyak orang itu, seperti mereka dengan uang sewa itu, ia memuaskan diri sebagai lelaki.

Advertisements