Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Solo Pos, 25 Agustus 2019)

Dendam dan Dua Ember Kalajengking ilustrasi Solo Posw.jpg
Dendam dan Dua Ember Kalajengking ilustrasi Solo Pos 

Saya termenung di tepi sungai Wanatirta dengan perasaan paling haru yang hinggap dan larut tak sudah-sudah. Bukan sebab suami saya meregang nyawa tadi pagi. Itu tak jadi soal. Maksud saya, tanpa harus dirayakan dengan tangisan paling sendu di muka bumi, ia pasti mati. Bahwa banyak yang menaruh perhatian atas kematiannya, itu bukan karena perangai semasa ia hidup.

Kematiannya geger, diceritakan oleh semua pembual di desa ini. Jauh berbeda dengan kematian abah yang diselimuti kesenyapan. Ingatan tentang kematian abah memang sulit dibedakan dengan seekor katak di musim hujan. Ia juga mahir melompat dan kadang menjijikkan. Kematian suami saya, pagi tadi, seperti mengundang kemunculan katak itu. Tiba-tiba ia membawa saya pada malam awal Oktober yang muram.

Lengan abah terasa hangat memeluk tubuh saya, ia baru saja selesai menuturkan dongeng favorit keluarga kami—sebab itu satu-satunya yang bisa ia kisahkan dengan lancar, pertempuran antara Prabu Pucuk Umun dan Sultan. Sejak dua hari lalu, malam di desa kami berubah menjadi sangat mencekam. Matahari selalu pamit dengan rasa waspada yang tak tertahankan, kiai Jazuli mengubah jadwal mengaji kami yang tadinya selepas magrib menjadi lebih sore. Para pemuda tak lagi memetik gitar dan melewati malam dengan botol tuak. Saat gelap tiba, pintupintu setiap rumah dikunci dengan rapat, juga jendela. Semuanya berubah.

Abah mengusir nyamuk dari kelambu. Ia tahu bahwa malam ini adalah giliran ia mati. Yang tak pernah ia tahu, saya tak pernah benar-benar terlelap. Ia membuka pintu, perlahan saya mengekor langkahnya. Saat itu saya mengintip di celah lubang bilik, beberapa orang laki-laki berbadan tegap menyeret abah ke dalam mobil tentara. Entah kelewat pasrah, ia menyerah tanpa perlawanan. Tanpa sedikit-pun suara. Ada yang meleleh saat saya melihat punggung abah menjauh.

Pagi hari terasa rikuh sekali, emak seperti memagari kesedihan dengan menyusun serangkaian kesibukan. Ia mengumpulkan kayu bakar, menyajikan serabi hangat, dan bersiap pergi ke sungai untuk ngumbah (mencuci). Saya memutuskan untuk tidak bertanya segala hal tentang ayah. Bagaimana pun beberapa kepergian bisa dirayakan dengan diam.

Matahari berdiri satu tombak, beberapa perempuan melilitkan sinjang untuk menutupi tubuh mereka dari sengatan matahari, gigitan serangga, juga tatapan lakilaki cabul. Di kepalanya sangku berisi baju kotor dan peralatan mandi bertengger. Mereka siap pergi ke sungai, mencuci badan juga pakaian.

Advertisements