Cerpen Nurmahdi Nurdha (Serambi Indonesia, 25 Agustus 2019)

Berkat Doa Abusyik ilustrasi Serambi Indonesiaw.jpg
Berkat Doa Abusyik ilustrasi Serambi Indonesia

LAMPU jalan yang memancarkan cahaya memperlihatkan garis air yang tegak lurus turun dari langit. Di sepanjang jalan menuju terminal bus antarkota, Arman merapatkan tubuhnya ke tubuh pengendara ojek. Sedari tadi sore hujan gerimis terus mengguyur kota Medan. Ojek yang ditumpangi Arman mempercepat lajunya, karena khawatir kalau-kalau hujannya semakin lebat. Tenyata tidak. Sepertinya hujan bertambah lebat membasahi setiap jengkal bumi. Arman sedikitpun tidak mengeluh, karena ia yakin bahwa hujan itu rahmat bagi seluruh penghuni bumi.

Stasiun bus atarkota terlihat sedang ramai saat Arman memasuki pintu gerbang. “Sudah Bang, aku di sini saja,” kata Arman pada tukang ojek sambil menyerahkan uang pecahan dua ribuan empat lembar, lalu berlari kecil menuju ke bagian stasiun yang beratap.

Seperti biasa, saat-saat seperti ini stasiun bus selalu dipenuhi para calon penumpang. Mereka kebanyakan para pedagang yang baru saja selesai berbelanja barang dagangan untuk dijual kembali di tokonya masing-masing. Perjalanan di malam hari adalah waktu yang cocok bagi mereka, karena esok pagi mereka bisa langsung berjualan lagi. Namanya juga pedagang, mengendalikan biaya keluar, mereka memang jagonya. Padahal mereka baru saja tiba tadi pagi. Seharian berburu barang yang cocok untuk dijual kembali tidaklah mudah. Tapi bagi mereka, ini sebuah tantangan yang mengasyikan. Di sinilah kuncinya. Tidak butuh biaya penginapan.

Tujuan Arman ke Medan bukan untuk berbelanja seperti kebanyakan penumpang itu, dia menetap di kota ini sebagai seorang mahasiswa dan baru saja menyelesaikan studinya. Arman pulang sebentar karena ada hajatan di kampungnya. Hajatan yang tidak mungkin dibelakanginya. Abusyik yang selama ini membesarkannya, baru saja meninggal dunia. Kepulangannya kali ini untuk menghadiri kenduri seratus hari meninggalnya orang yang dibanggakannya itu.

Meninggalnya Abusyik, bagi Arman seperti mendapatkan pukulan telak yang nyaris merobohkan jiwa raganya. Ia merasa kehilangan besar. Meskipun sudah lebih tiga bulanperistiwa pilu itu berlalu, hati Arman masih sedih. Dukanya sangat dalam. Semenjak ayahnya meninggal ketika Arman masih berumur delapan tahun, Abusyiklah yang menjadi tempat ia bermanja.

Advertisements