Cerpen Jantan Putra Bangsa (Media Indonesia, 24 Agustus 2019)

Perempuan Misterius dan Lelaki yang Kehilangan Dirinya ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Perempuan Misterius dan Lelaki yang Kehilangan Dirinya ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

SUDAH nyaris enam bulan aku lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar. Sebuah ruang sempit yang hanya berukuran 7 meter persegi. Hanya ada sebuah kasur tanpa dipan, sebuah meja, dan komputer, ditambah air galon yang selalu terisi penuh.

Sejak peristiwa itu, aku tak lagi mau keluar rumah. Bertemu seorang teman ialah hal menyakitkan, apalagi bertemu seorang yang kuanggap musuh, akan membuatku jauh lebih menderita. Aku terus mengurung diri di kamar.

Aku hanya keluar kamar sekali waktu untuk sekadar membeli makan, minum, dan rokok. Selebihnya aku di dalam kamar. Menghabiskan waktu dengan membaca buku, menulis, dan menggambar. Begitu seterusnya, sampai aku dihunjam oleh kebosanan yang mengerikan.

Peristiwa itu, telah membuat hidupku berubah. Dunia ini memang tidak mengenal kompromi. Begitu salah mengambil keputusan, jangan berharap kamu bisa tertawa lebar. Penyesalan dan kesedihan menjadi teman setia. Meratapi keadaan dengan menumpahkannya ke dalam tulisan atau lukisan, itu pun jelek, setidaknya menurutku.

Beberapa teman ada yang mengunjungiku. Sekadar menanyakan kabar, atau berusaha menyembuhkan luka yang telah bernanah di dalam benakku. Sia-sia. Tidak hanya menolak kedatangan mereka, tetapi aku juga mengusir salah satu dari mereka yang menyarankan agar aku menemui seorang ahli kejiwaan. Depresi, katanya. Sebentar lagi mungkin aku akan memasuki tahap gila, lanjutnya.

Aku mengagumi keberaniannya menyampaikan beberapa kemungkinan yang terjadi padaku tanpa tedeng aling-aling. Barangkali karena ia seorang lulusan fakultas psikologi sehingga merasa banyak mengetahui tentang kejiwaan seseorang, atau mungkin ia telah banyak mempunyai pasien yang sakit sepertiku. Aku tak menggubrisnya.

Kenangan atas peristiwa itu tak kunjung hilang. Membekas dan terus menggerogotiku. Setiap kali aku mengingatnya, ada getir yang menyayat.

Disusul rasa mual, pusing, bahkan perasaan yang aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Rasanya tak ada kata yang tepat untuk bisa memberikan gambaran atas keadaanku.

Sesekali aku membuka telepon genggam, ada banyak pesan masuk dan tak semuanya kubaca. Ada sebuah nama yang tidak begitu kukenal dan aku juga tak pernah benar-benar mengingat orang itu. Seorang perempuan, yang hanya bertemu denganku sekali, itu pun kebetulan. Entah mengapa, ia mengirimiku pesan pendek. Dengan rasa waswas aku membukanya.

Advertisements