Cerpen Dewi Sukmawati (Merapi, 23 Agustus 2019)

Kunjungan Hujan di Sawah Sewaan ilustrasi Istimewa
Kunjungan Hujan di Sawah Sewaan ilustrasi Istimewa 

Tanah-tanah kini telah mulai tertidur dengan tenang. Tak lagi menganga pada nasib yang dulu sempat dideritanya. Wajahnya pun kini mulai lembab dan hijau. Tapi, nasib tanah harus kembali diolah oleh petani penggarap dengan restu Tuhan. Ketika tanah masih tertidur. Dan pagi tidaklah terlalu mengumbar cahaya. Tarmin mulai membajak tanah dengan kerbau yang ia sewa dari jugarannya. Tarmin berkeliling membajak sepetak sawah yang sebenarnya itu bukan sawahnya. Ia hanya menyewa sawah itu dari juragannya.

Walau musim sering mempermainkan dirinya. Ia tetap selalu mencoba untuk bersahabat dengan takdirnya. Dan sekarang ia sangat bersyukur. Setidaknya hujan sudi untuk berkunjung. Tidak seperti kekasihnya yang pergi dan menjadi istri juragannya. Tarmin memang telah merelakannya. Dan dia sekarang hanya ingin bersahabat dengan tanah dan hujan untuk memanjakan nasibnya yang melarat. Setiap pagi. Sebelum ayam berkokok. Tarmin sudah berangkat ke sawah dengan kerbau sewaannya. Bukan untuk membajak sawah sewaannya lagi. Tapi, ia pun disewa untuk membajak sawah mantan istrinya yang tentunya itu pemberian dari juragannya.

Kadang Tarmin bertanya-tanya. Mengapa dulu dia melepaskan istrinya begitu saja. Mengapa tak dia jadikan barang sewaan pada juragannya. Setidaknya, dia terlihat punya sesuatu yang bisa disewakan. Tapi sayang. Nyatanya, dia memberikan istrinya pada juragan dengan gratis tanpa syarat. Dan yang ada sekarang dia yang menjadi budak mereka.

***

Setelah dia menjadi kepala desa. Kini hidupnya tak miskin lagi. Apalagi setelah ia membeli sawah yang kian luasnya. Aku pula sering melihatnya pergi dengan mobil hitamnya yang mewah. Tentu dengan baju kemeja dan celana bermerek. Saat aku bertemu dengannya, matanya pun menatap tajam dengan lengkung senyum serba tanda tanya. Aku pikir dia menyukaiku. Atau mungkin dia heran melihat wanita miskin berlumur tanah sepertiku. Entahlah aku pun memilih untuk beranjak dari pandangku. Dan kembali berjalan pulang dengan menenteng jagung hasil panennya tadi.

“Aku pulang,” salamku sambil membuka pintu kayu yang termakan rayap.

Namun sapaku tak berbalas. Rumah ini begitu sepi. Hanya ada laba-laba yang sedang sibuk membuat sarang. Akupun memutuskan berdiri sejenak menghela nafas di depan pintu, merenung, dan mengutuk ingatanku yang datang dan pergi seenaknya sendiri. Tapi, pemaksaan ingatan ini selalu saja gagal. Yang aku ingat hanya wajah kepala desa dengan senyum yang selalu memberiku tanda tanya.

Baca juga: TUAN DAN DOMBA – Cerpen Dewi Sukmawati (Radar Banyumas, 29 September 2019)

Tak ada yang bisa diajak berbincang di sini. Sehabis bebersih aku hanya sibuk memandang tungku dengan kobaran api yang tak pernah bisa dikendalikan. Jagung yang tadi aku panen pula sering memberontak untuk segera matang saat direbus. Sedangkan perut ini selalu bersabar untuk kenyang dan tertidur dengan tenang.

Ketika aku sedang serius memanjakan perutku dengan jagung rebus, dari luar terdengar ada suara orang memberi salam.

“Mawar. Ini Turmin. Tolong buka pintunya.”

“Iya sebentar.”

Akupun langsung bergegas ke kamar mengganti pakaianku yang tadi hanya memakai kemben. Aku biasa memakai pakaian terbuka di rumah, karena jarang ada yang bertamu. Dan yang melihatku paling laba-laba, kucing tetangga, dan cacing tanah juga rayap. Saat aku keluar dengan baju panjang juga rok hitam, mata Turmin mengamati diriku dengan seriusnya. Dipandangnya dari kakiku yang tak memakai sandal di lantai tanah sampai pada wajahku yang tak pernah berdandan. Lagi-lagi dia membuatku menyimpan tanda tanya di otakku ini yang tak pernah diisi bangku sekolah. Sungguh tak adil rasanya. Ingin aku rasanya bertanya. Apa matanya hari-hari ini telah rusak. Atau hati dan pikirannya yang tengah rusak. Tapi, aku tak berani. Aku hanya membalas tatap matanya saja. Sambil menunggu kata yang terlontar olehnya.

“Ingatanmu sudah kembali?” tanya Turmin dengan serius.

“Belum. Aku pun tak tahu apa lagi yang harus kuingat.”

“Kamu masih tak percaya denganku? Dengan semua bukti yang ada kamu masih tak percaya?” menatapku mendalam.

“Aku masih bingung. Apa mungkin itu benar?” jawabku dengan ragu sambil menundukan kepala.

“Ya sudah. Sekarang kamu bersiap-siap. Kamu harus mencoba menginap di rumahku. Barangkali ingatanmu bisa kembali.”

Baca juga: Pernikahan Malaikat – Cerpen Zainul Muttaqin (Merapi, 10 Agustus 2018)

Aku pun menganggukkan kepala dengan pasrah. Dan untuk pertama kalinya aku menaiki mobil mewah. Rasanya sungguh luar biasa. Seandainya ingatanku kembali dan apa yang dikatakan kepala desa itu nyata, pasti aku termasuk wanita yang beruntung di dunia ini.

***

Akhirnya dia terbebas dari penjara, di hujan pertama di musim ini. Lega rasanya menghirup nafas di ruang tanpa jeruji besi. Dia pula tak sabar pulang untuk memeluk rindu di mata kekasihnya. Adegan indah telah dibayangkannya, sejak ia menaiki bus yang akan mengantarkannya bertemu kekasihnya. Mulai dari melihat wajah cantiknya, memeluknya, dan mengadu rindu yang selama ini telah menjajah habis harinya.

Sesampainya ia di rumah bambu miliknya, hatinya kian berdebar. Kata apa yang harus ia ucapkan setelah pintu rumah dibukakan oleh kekasihnya. Ia coba menenangkan dirinya dan mengetuk pintu sambil memberi salam.

“Mawar, aku sudah kembali.”

Namun, sapanya tak berbalas sama sekali. Mungkin kekasihnya tengah tertidur. Ia pun langsung membuka pintu rumahnya. Dan ternyata, rumahnya kini penuh dengan sarang laba-laba, rayap, dan debu yang kian menebal. Dia begitu terkejut, kemana istrinya pergi. Sejak kapan istrinya meninggalkan rumah. Dengan tergesa-gesa ia berlari ke rumah tetangga.

“Permisi, Bu, ada yang tahu di mana istri saya?”

Ibu-ibu di warung tua itu hanya menatap heran padaku. Aku tak mengerti apa yang ingin disampaikan dalam tatapan mata mereka. Dan karena itu aku menanyakan kembali.

“Permisi, Bu, ada yang tahu kemana Mawar pergi?”

“Oh, Tarmin. Heran aku. Kirain kamu orang gila yang sedang berkeliaran. Soalnya kamu begitu kumal. Apalagi brewokmu dan rambutmu itu panjang. Kenapa sih ndak dipotong ajah?”

Baca juga: Duel Kedua – Cerpen Pangerang P. Muda (Minggu Pagi No 03 Th 72 Minggu III April 2019)

“Iya, Bu. Soalnya saya gugup ingin segera bertemu istri saya. Saya baru terbebas dari penjara. Tapi saat saya pulang, istri saya tidak ada. Dan gubuk saya sepertinya sudah lama tidak ditinggali istri saya.”

“Oalah Tarmin, Tarmin. Kirain yang dipenjara itu Turmin. Ternyata kamu. Padahal yang aku tahu kamu tidak pernah korupsi. Kamu kan hanya penggarap sawah. Kok bisa dipenjara?” jawab ibu warung penasaran.

“Ceritanya panjang, Bu. Sekarang Mawar di mana, Bu?”

“Aku ya ndak tahu. Aku bukan temannya, bukan saudaranya, bukan pula ibunya. Mungkin istrimu dibawa Turmin. Soalnya waktu kamu ndak ada, Mawar sempat kecelakaan dan kehilangan ingatannya. Coba tanya Turmin saudaramu.”

“Baik, Bu, terima kasih ya, Bu.”

Tarmin segera pamit dan menuju ke rumah saudara kembarnya Turmin. Sesampainya di depan rumah Turmin, ternyata benar apa yang dikatakan ibu warung. Istrinya di sana. Sedang duduk di teras bersama Turmin. Dia bahagia sekali karena saudaranya telah berbaik hati menjaga istrinya. Tarmin pun menghampiri mereka.

“Apa kabar, Mawar? Apa kabar, Mas?” tanya Tarmin dengan senyumnya.

Baca juga: Dedaunan Gugur di Sesayup Sepertiga Malam – Cerpen Sumiati Al Yasmine (Analisa, 23 Oktober 2019)

Mawar menatapnya dengan sejuta tanda tanya. Rasanya gembel itu mirip dengan suaminya. Dan saat Mawar serius memandang Tarmin, Turmin mengalihkan perhatiannya.

“Maaf, di sini tidak menerima pengemis,” ujarnya dengan mendorong Tarmin.

“Apa kau bahagia bersama Turmin?” tanya Tarmin dengan binar mendalam di matanya.

“Iyah. Aku bahagia. Kamu siapa? Sepertinya kita pernah begitu dekat. Dan wajahmu pula mirip dengan suami saya,” jawabnya dengan tanya.

Perlahan ia melangkah mundur. Meninggalkan tanya dalam benak Mawar dan menjauh meninggalkan mereka berdua. Setelah sampai di luar gerbang rumah Turmin, ia berlari sekencang-kencangnya menuju sawah sewaannya yang dulu biasa menjalin kasih bersama istrinya. Ia berdiri di atas sawah sewaannya dengan nafas terengah-engah. Dan ketika ia hendak memberontak pada Tuhan, tiba-tiba hujan berkunjung dengan derasnya. Menyatukan tanah yang menganga dan memadamkan sedikit api dalam sanubarinya.

 

Dewi Sukmawati lahir di Cilacap, 21 April 2000. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Purwokerto Fakultas Ekomoni dan Bisnis Islam jurusan Perbankan Syariah. Dia aktif di SKSP IAIN Purwokerto dan KSEI IAIN Purwokerto dan hobinya menulis. Beberapa karyanya dimuat antologi dan koran Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Radar Banyumas, Minggu Pagi, Merapi, Radar Cirebon, Media Cakra Bangsa, Rakyat Sumbar, Bangka Pos, Suara NTB, Malang Post, Simalaba.Net, Kabar Madura, DinamikaNews, Simalaba.Net, Tantaka.Id, Negeri Kertas dan Nusantara News. Alamat di Desa Tambakreja Rt 02 Rw 01, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Email: sukmawatid608@gmail.com.